Friday, July 21, 2017

Calistung Untuk Apa?

Pagi ini saya mengantarkan Rumaisha terlambat dari Daanish ke tempat biasanya. Mereka berdua berada di tempat penitipan anak di pagi hari. Biasanya mereka diantar sekitar jam 9 pagi dan pulang sebelum jam satu siang. Saya masih ingat awal mula saya mengantar mereka rasanya mata ini berkaca-kaca bahkan nyaris menitik air mata. Perasaan bersalah menyerang saya. Seharusnya mereka tidak berada di tempat ini (Maafkan ya, Nak).

Suatu hari saya pernah berbincang-bincang dengan Daanish dengan kegiatannya. Dia senang di tempat itu karena kegiatan anak-anak fokus bermain di luar. Tempat penitipannya sangat sederhana untuk dibandingkan dengan penitipan yang lain. Tapi memang lokasi tempat penitipan ini memiliki halaman yang luas. Untuk Daanish, situasi ini sangat menyenangkan. Dia senang bermain pasir, tanah dan benda-benda yang berada di alam. Bahkan kegiatan bermain tanah berlanjut saat tiba di rumah. Bahkan mereka menyebutnya dengan sekolah rumah karena memang suasana “kampong” lebih terasa.

Hanya saja ada yang menganjal. Daanish bukan anak yang senang menceritakan apa yang dia rasakan. Harus punya banyak cara untuk memahami dan menggali apa yang dirasakan Daanish.

Anish suka menulis?

Suka tapi gak suka.

Hal ini saya tanyakan ketika suatu hari menunjukan hasil kerja Daanish dalam menulis. Dalam benak, saya harus bicara sama gurunya, karena saya keberatan kalau Daanish diajarkan menulis.

Daanish di rumah menulis. Saya menfasilitasi dia dengan peralatan menulis. Tapiiiii…saya biarkan proses ini alami tanpa ada intervensi. Bahkan dinding rumah hampir habis dicoretinya hingga sekarang.

Bu, jangan ajarkan Daanish menulis ya? Saya khawatir nanti Daanish bosan karena berimbas nanti ke depannya. Biarkan saja dia bermain-main saja karena itu usia dia bermain.

Sang guru setuju. Meski kadang saya mengintip ke dalam kelas dan Daanish berada di sana mendengarkan sang guru mengajarkan anak-anak yang lain. Dan ekspresi Daanish itu dengan tangan menahan kepala dan dia melihat keluar dengan muka yang suntuk banget.

Saya juga bingung kenapa orientasi PAUD berubah menjadi SAUD (Sekolah Anak Usia Dini)-meminjam istilah FBE. Mengapa orientasi mengajar calistung semakin terlihat. Dan lebih parahnya lagi ini tuntutan orangtua karena takut tidak diterima di sekolah dasar nanti.

Padahal banyak hal yang perlu diajarkan di usia dini. Terutama untuk kegiatan mengasah motorik halus dan motorik kasar. Rasanya saya pengen bilang ke para guru untuk melakukan kegiatan ini itu. Tapi..eh...tapi nanti makin aneh dilihat. Jadilah ide ini itu menumpuk di kepala saya. Semoga saya diberikan waktu yang cukup untuk mewujudkan semuanya.

Dan seperti biasa Daanish minta ke tempat penitipan anak. Dia berpesan, Ummi bilang nanti sama bu guru ya, Anish gak mau belajar. Anish mau main-main aja.

Ya. (Dan ini menjadi PR untuk saya agar Daanish bisa lebih ekspresif untuk mengungkapkan pendapatnya dengan benar dan baik)




7/22/2017@duniaintan 

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...