Pagi ini saya mengantarkan
Rumaisha terlambat dari Daanish ke tempat biasanya. Mereka berdua berada di
tempat penitipan anak di pagi hari. Biasanya mereka diantar sekitar jam 9 pagi
dan pulang sebelum jam satu siang. Saya masih ingat awal mula saya mengantar
mereka rasanya mata ini berkaca-kaca bahkan nyaris menitik air mata. Perasaan
bersalah menyerang saya. Seharusnya mereka tidak berada di tempat ini (Maafkan
ya, Nak).
Suatu hari saya pernah
berbincang-bincang dengan Daanish dengan kegiatannya. Dia senang di tempat itu
karena kegiatan anak-anak fokus bermain di luar. Tempat penitipannya sangat
sederhana untuk dibandingkan dengan penitipan yang lain. Tapi memang lokasi
tempat penitipan ini memiliki halaman yang luas. Untuk Daanish, situasi ini
sangat menyenangkan. Dia senang bermain pasir, tanah dan benda-benda yang
berada di alam. Bahkan kegiatan bermain tanah berlanjut saat tiba di rumah. Bahkan
mereka menyebutnya dengan sekolah rumah karena memang suasana “kampong” lebih
terasa.
Hanya saja ada yang menganjal.
Daanish bukan anak yang senang menceritakan apa yang dia rasakan. Harus punya
banyak cara untuk memahami dan menggali apa yang dirasakan Daanish.
Anish suka menulis?
Suka tapi gak suka.
Hal ini saya tanyakan ketika
suatu hari menunjukan hasil kerja Daanish dalam menulis. Dalam benak, saya
harus bicara sama gurunya, karena saya keberatan kalau Daanish diajarkan
menulis.
Daanish di rumah menulis. Saya menfasilitasi
dia dengan peralatan menulis. Tapiiiii…saya biarkan proses ini alami tanpa ada
intervensi. Bahkan dinding rumah hampir habis dicoretinya hingga sekarang.
Bu, jangan ajarkan Daanish
menulis ya? Saya khawatir nanti Daanish bosan karena berimbas nanti ke
depannya. Biarkan saja dia bermain-main saja karena itu usia dia bermain.
Sang guru setuju. Meski kadang
saya mengintip ke dalam kelas dan Daanish berada di sana mendengarkan sang guru
mengajarkan anak-anak yang lain. Dan ekspresi Daanish itu dengan tangan menahan
kepala dan dia melihat keluar dengan muka yang suntuk banget.
Saya juga bingung kenapa
orientasi PAUD berubah menjadi SAUD (Sekolah Anak Usia Dini)-meminjam istilah
FBE. Mengapa orientasi mengajar calistung semakin terlihat. Dan lebih parahnya
lagi ini tuntutan orangtua karena takut tidak diterima di sekolah dasar nanti.
Padahal banyak hal yang perlu
diajarkan di usia dini. Terutama untuk kegiatan mengasah motorik halus dan
motorik kasar. Rasanya saya pengen bilang ke para guru untuk melakukan kegiatan
ini itu. Tapi..eh...tapi nanti makin aneh dilihat. Jadilah ide ini itu menumpuk
di kepala saya. Semoga saya diberikan waktu yang cukup untuk mewujudkan
semuanya.
Dan seperti biasa Daanish minta
ke tempat penitipan anak. Dia berpesan, Ummi bilang nanti sama bu guru ya,
Anish gak mau belajar. Anish mau main-main aja.
Ya. (Dan ini menjadi PR untuk
saya agar Daanish bisa lebih ekspresif untuk mengungkapkan pendapatnya dengan
benar dan baik)
7/22/2017@duniaintan