Genap
empat setengah bulan sudah saya menuntut ilmu di negeri pemimpin yang
begitu saya benci. Tak pernah rasanya membayangkan akan mendapatkan
kesempatan untuk kuliah di negeri Paman Sam ini. Semuanya mimpi. Dan
lagi, saya mengambil kuliah di bidang teaching English. Dulu, ketika
masih kuliah, saya begitu anti dengan namanya bahasa. Sedikit
“bersumpah” tak akan pernah “mencelupkan” diri untuk menekuni bidang
ini. Cukup untuk strata 1. Ternyata Allah berkehendak lain. Dan saya
harus berteman akrab dengan namanya bahasa. I feel so frustrated.
Fall
season, kuliah dimulai. Banyak hambatan saya temui. Terutama dalam hal
speaking. Seperti di awal perkuliahan, ingin rasanya pulang ke kampung
halaman. Menyesali diri mengapa kuliah di negara ini. Menyesali diri
mengapa tidak dari dulu sadar bahwa bahasa begitu penting, bahwa
kemampuan berbahasa dengan baik mengantarkan pada banyak kesuksesan.
Lihatlah, ketika orang-orang mempunyai kecerdasan dalam berkomunikasi,
semua orang akan memandang penuh dengan kekaguman. Two thumb up!
Namun, seperti kata teman, apapun yang terjadi HAJAR saja. Walaupun terkadang saya bingung bagaimana menghajarnyaJ. Dan kali kedua, saya harus dibuat malu dan menyesali diri atas namanya kreatifitas.
Tak
ada maksud untuk membandingkan ilmu yang saya pelajari di School for
International Training. Sekolah ini benar-benar mendidik orang untuk
menjadi guru yang berkreatif. Saya pernah menanyakan apa yang dipelajari
seorang teman dengan matakuliah yang sama di United State juga. Sangat
berbeda dengan apa yang saya pelajari. Saya, dan juga mahasiswa lain
yang mengambil program Master of Art in Teaching begitu di fokuskan pada
practical. Benar-benar harus menjadi guru yang kreatif. Teori yang
dipelajari, harus mampu diterjemahkan dalam bentuk praktisnya. Selalu.
Dan setelah itu reflective writing.
Atas nama kreativitas; Saya marah
Setiap
masuk kelas, saya benar-benar harus belajar tentang namanya kreatif.
Saya selalu mengkalkulasikan hari-hari saya ketika pernah mengajar meski
bukan sebagai guru resmi. Apa yang saya lakukan? Kapan saya pernah
menjadi pengajar yang kreatif?
Dan,
apa yang saya pelajari sekarang benar-benar mendidik saya untuk menjadi
orang kreatif. Tidak dengan barang yang mahal. Tapi cukup memanfaat
sesuatu yang ada di sekitar. Saya benar-benar mati kutu dan malu.
Walhasil, saya harus malu pada diri sendiri.
Sering
kali kita menganggap bahwa kreativitas adalah barang yang mahal. Harus
dengan peralatan yang canggih dan sulit untuk dijangkau. Atas nama
kreativitas saya benar-benar marah pada diri saya sendiri. Andaikan saya
bisa menggulang waktu, rasanya ingin saya mengajarkan siswa untuk
menjadi kreatif tidak dari barang mewah, tapi cukup memanfaatkan sesuatu
yang ada disekitar kita. Saya malu. Malu mengapa ide yang seperti saya
pelajari diperkuliahan tidak terlintas dibenak ketika mengajar di kelas.
Marah pada kurrikulum yang terus diotak-atik, tapi usaha untuk
mentraining guru sangat minim. Bagaimana mentransfer ilmu, jauh lebih
penting atau mencari format agar siswa dapat menangkap pelajaran dengan
baik dari pada terus menerus membongkar pasang kurrikulum.
Dan saya masih menyesali diri, mengapa kreatifitas tidak akrab dengan kita? Ah saya benar-benar marah pada diri sendiri.