Tuesday, December 18, 2012

Atas Nama Kreativitas Saya Marah

Genap empat setengah bulan sudah saya menuntut ilmu di negeri pemimpin yang begitu saya benci. Tak pernah rasanya membayangkan akan mendapatkan kesempatan untuk kuliah di negeri Paman Sam ini. Semuanya mimpi. Dan lagi, saya mengambil kuliah di bidang teaching English. Dulu, ketika masih kuliah, saya begitu anti dengan namanya bahasa. Sedikit “bersumpah” tak akan pernah “mencelupkan” diri untuk menekuni bidang ini. Cukup untuk strata 1. Ternyata Allah berkehendak lain. Dan saya harus berteman akrab dengan namanya bahasa. I feel so frustrated.
Fall season, kuliah dimulai. Banyak hambatan saya temui. Terutama dalam hal speaking. Seperti di awal perkuliahan, ingin rasanya pulang ke kampung halaman. Menyesali diri mengapa kuliah di negara ini. Menyesali diri mengapa tidak dari dulu sadar bahwa bahasa begitu penting, bahwa kemampuan berbahasa dengan baik mengantarkan pada banyak kesuksesan. Lihatlah, ketika orang-orang mempunyai kecerdasan dalam berkomunikasi, semua orang akan memandang penuh dengan kekaguman. Two thumb up!
Namun, seperti kata teman, apapun yang terjadi HAJAR saja. Walaupun terkadang saya bingung bagaimana menghajarnyaJ. Dan kali kedua, saya harus dibuat malu dan menyesali diri atas namanya kreatifitas.
Tak ada maksud untuk membandingkan ilmu yang saya pelajari di School for International Training. Sekolah ini benar-benar mendidik orang untuk menjadi guru yang berkreatif. Saya pernah menanyakan apa yang dipelajari seorang teman dengan matakuliah yang sama di United State juga. Sangat berbeda dengan apa yang saya pelajari. Saya, dan juga mahasiswa lain yang mengambil program Master of Art in Teaching begitu di fokuskan pada practical. Benar-benar harus menjadi guru yang kreatif. Teori yang dipelajari, harus mampu diterjemahkan dalam bentuk praktisnya. Selalu. Dan setelah itu reflective writing.

Atas nama kreativitas; Saya marah
Setiap masuk kelas, saya benar-benar harus belajar tentang namanya kreatif. Saya selalu mengkalkulasikan hari-hari saya ketika pernah mengajar meski bukan sebagai guru resmi. Apa yang saya lakukan? Kapan saya pernah menjadi pengajar yang kreatif?
Dan, apa yang saya pelajari sekarang benar-benar mendidik saya untuk menjadi orang kreatif. Tidak dengan barang yang mahal. Tapi cukup memanfaat sesuatu yang ada di sekitar. Saya benar-benar mati kutu dan malu. Walhasil, saya harus malu pada diri sendiri.
Sering kali kita menganggap bahwa kreativitas adalah barang yang mahal. Harus dengan peralatan yang canggih dan sulit untuk dijangkau. Atas nama kreativitas saya benar-benar marah pada diri saya sendiri. Andaikan saya bisa menggulang waktu, rasanya ingin saya mengajarkan siswa untuk menjadi kreatif tidak dari barang mewah, tapi cukup memanfaatkan sesuatu yang ada disekitar kita. Saya malu. Malu mengapa ide yang seperti saya pelajari diperkuliahan tidak terlintas dibenak ketika mengajar di kelas. Marah pada kurrikulum yang terus diotak-atik, tapi usaha untuk mentraining guru sangat minim. Bagaimana mentransfer ilmu, jauh lebih penting atau mencari format agar siswa dapat menangkap pelajaran dengan baik dari pada terus menerus membongkar pasang kurrikulum.
Dan saya masih menyesali diri, mengapa kreatifitas tidak akrab dengan kita? Ah saya benar-benar marah pada diri sendiri.

Brattleboro, October 31, 2006

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...