Tuesday, December 18, 2012

Namanya Ibu Endang. Saya belajar darinya

Saya mengenalnya saat bekerja di sebuah Yayasan Matahari, sebuah yayasan perempuan di Banda Aceh. Tak ada yang membuat Ibu ini istimewa dibanding ibu-ibu yang lain saat yayasan melakukan training. Seperti Ibu-ibu pada umumnya.
Suatu hari ketika saya duduk di belakang para peserta training, Ibu-ibu yang lain pada melihat foto. Ibu Endang pun terlibat dalam pembicaraan tersebut.
Saya tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi perlahan saya mengikuti juga apa yang mereka bicara. Ya tentu saja seputar anak dan suami.
Topiknya tak jauh dari Tsunami yang merasakan, mereka masih membahas tentang kesedihan mereka. Bagaimana pahitnya ketika terpaksa melihat orang-orang yang mereka cintai tak berdaya dan mereka tak kuasa untuk menolongnya. Semuanya berlalu begitu saja. Diantara mereka masih saja menitikan airmata mengingat kenangan pahit seumur hidup mereka. Tak memungkinkan mereka berkumpul dengan orang yang mereka cintai. Bahkan mayatnya pun tak ditemui.
Saya memaklumi semua apa yang dirasakan mereka.
“Rasanya hidup kita sia-sia ya tanpa anak-anak dan suami, ya Bu?”
Saya tak menyalahkan apa yang dikatakan mereka. Saya hanya memilih diam. Tak ingin merasa bijak dengan memberikan nasehat ini itu tentang kesabaran, saat saya tidak merasakan kehilangan suami dan anak.
“Tidak juga, Bu.” Ibu Endang menjawab dengan singkat. Tak ada satupun harta hidup yang saya miliki tersisa. Semuanya diambil oleh Allah.”
Saya terdiam sejenak. “Jadi, Bu?” photo-photo itu?” tanya saya penasaran. “Hanya photo mereka yang masih saya miliki. Selebihnya tidak.
Ya Allah, ini ternyata dibalik senyumnya selama ini. Tak ada keluh kesah ketika orang-orang yang Ia cintai tercerabut dari sisinya. 
Justru Ia terlihat biasa saja. Sepeti Tsunami tak menyentuhnya.
Saat saya berkesempatan berbicara lebih dalam tentang hidup yang Ia rasakan. Ia tersenyum.
“Saya banyak belajar dari musibah ini, Intan. Saya dulu juga ikut penggajian. Tapi pengajian yang saya ikuti setelah Tsunami menimpa saya, terasa beda sekali.” Tutur Bu Endang.
Ia kehilangan suami dan anak. Mereka terhempas dari sisinya ketika gelombang itu menghempas mereka. Rumahnya tak jauh dari Rumah paman cut putri yang diputar di Metro TV. Ia satunya perempuan dikawasan tersebut yang tak memiliki sanak keluarganya yang tersisa.
“Ibu tidak ingin menikah lagi?” Ia tersenyum begitu mendengar pertanyaan saya.
“Menikah?” Saya menatapnya.
“Sejauh ini tidak. Rasanya jika saya menikah secepat ini, sepertinya begitu mudah bagi saya melupakan suami dan anak-anak saya.” Ia tetap berkeras untuk menolak jika ada laki-laki lain yang melamarnya. “Tapi saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan nanti.”
Setiap mendengar kata-katanya, selalu saja mata ini tak bisa diajak kompromi untuk tidak menangis. Menyesal jika saya harus menangis di depannya. Ibu ini begitu tabah. Jarang sekali saya melihat matanya basah.
Tahun 2005 yang lalu saya masih bertemu dengannya. Pagi hari Ia mengajar seperti biasa. Siang pulang mengajar Ia beristirahat dan sore harinya Ia menghabiskan waktunya di masjid Baiturrahman hingga lepas waktu Isya.  
Sesekali gurat kerisauan terpancar dari hatinya. “Dimana anak saya ya, Intan?”
Ia hanya menemukan jenazah sang suami dan anak pertamanya. “Hampir saja Ibu tak mengenali mereka. Syukurnya ada kalung bernama Eza di leher putri sulung saya.”
“Dimana anak saya yang lain ya?” Saya ikhlas mereka diambil.” Namun, sesekali saya khawatir jika mereka selamat mereka bukan diasuh oleh seorang muslim. Bagaimana?”
“Insya Allah tidak, Bu.” Saya tak memiliki kata-kata yang lain.
Saya belajar bahwa segalanya akan kembali kepada pemilik-Nya. Berat memang. Saya ingat saat anaknya yang masih berusia dibawah satu tahun dalam pelukannya. Mereka terhempas bersama-sama hingga balok besarpun ikut menghantam sang bayi. Maka tidak ada kalimat yang lain yang Ia panjatkan. “Saya ikhlas ya Allah engkau mengambil dia.” Ia tak sanggup pukulan balok itu menhantam si kecilnya. Sekejap bayinya itu terlepas dari pelukannya. Hingga kini, Ia tak pernah melihatnya lagi.
Saya belajar banyak darinya. Bahwa hidup bukan milik kita.
Meski sulit kita harus......

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...