Saya mengenalnya saat bekerja di sebuah Yayasan Matahari,
sebuah yayasan perempuan di Banda Aceh. Tak ada yang membuat Ibu ini istimewa
dibanding ibu-ibu yang lain saat yayasan melakukan training. Seperti Ibu-ibu pada
umumnya.
Suatu hari ketika saya duduk di belakang para peserta
training, Ibu-ibu yang lain pada melihat foto. Ibu Endang pun terlibat dalam
pembicaraan tersebut.
Saya tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi
perlahan saya mengikuti juga apa yang mereka bicara. Ya tentu saja seputar anak
dan suami.
Topiknya tak jauh dari Tsunami yang merasakan, mereka
masih membahas tentang kesedihan mereka. Bagaimana pahitnya ketika terpaksa
melihat orang-orang yang mereka cintai tak berdaya dan mereka tak kuasa untuk
menolongnya. Semuanya berlalu begitu saja. Diantara mereka masih saja menitikan
airmata mengingat kenangan pahit seumur hidup mereka. Tak memungkinkan mereka
berkumpul dengan orang yang mereka cintai. Bahkan mayatnya pun tak ditemui.
Saya memaklumi semua apa yang dirasakan mereka.
“Rasanya hidup kita sia-sia ya tanpa anak-anak dan suami,
ya Bu?”
Saya tak menyalahkan apa yang dikatakan mereka. Saya
hanya memilih diam. Tak ingin merasa bijak dengan memberikan nasehat ini itu
tentang kesabaran, saat saya tidak merasakan kehilangan suami dan anak.
“Tidak juga, Bu.” Ibu Endang menjawab dengan singkat. Tak
ada satupun harta hidup yang saya miliki tersisa. Semuanya diambil oleh Allah.”
Saya terdiam sejenak. “Jadi, Bu?” photo-photo itu?” tanya
saya penasaran. “Hanya photo mereka yang masih saya miliki. Selebihnya tidak.
Ya Allah, ini ternyata dibalik senyumnya selama ini. Tak
ada keluh kesah ketika orang-orang yang Ia cintai tercerabut dari sisinya.
Justru Ia terlihat biasa saja. Sepeti Tsunami tak
menyentuhnya.
Saat saya berkesempatan berbicara lebih dalam tentang
hidup yang Ia rasakan. Ia tersenyum.
“Saya banyak belajar dari musibah ini, Intan. Saya dulu
juga ikut penggajian. Tapi pengajian yang saya ikuti setelah Tsunami menimpa
saya, terasa beda sekali.” Tutur Bu Endang.
Ia kehilangan suami dan anak. Mereka terhempas dari
sisinya ketika gelombang itu menghempas mereka. Rumahnya tak jauh dari Rumah
paman cut putri yang diputar di Metro TV. Ia satunya perempuan dikawasan
tersebut yang tak memiliki sanak keluarganya yang tersisa.
“Ibu tidak ingin menikah lagi?” Ia tersenyum begitu
mendengar pertanyaan saya.
“Menikah?” Saya menatapnya.
“Sejauh ini tidak. Rasanya jika saya menikah secepat ini,
sepertinya begitu mudah bagi saya melupakan suami dan anak-anak saya.” Ia tetap
berkeras untuk menolak jika ada laki-laki lain yang melamarnya. “Tapi saya juga
tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan nanti.”
Setiap mendengar kata-katanya, selalu saja mata ini tak
bisa diajak kompromi untuk tidak menangis. Menyesal jika saya harus menangis di
depannya. Ibu ini begitu tabah. Jarang sekali saya melihat matanya basah.
Tahun 2005 yang lalu saya masih bertemu dengannya. Pagi
hari Ia mengajar seperti biasa. Siang pulang mengajar Ia beristirahat dan sore
harinya Ia menghabiskan waktunya di masjid Baiturrahman hingga lepas waktu
Isya.
Sesekali gurat kerisauan terpancar dari hatinya. “Dimana
anak saya ya, Intan?”
Ia hanya menemukan jenazah sang suami dan anak
pertamanya. “Hampir saja Ibu tak mengenali mereka. Syukurnya ada kalung bernama
Eza di leher putri sulung saya.”
“Dimana anak saya yang lain ya?” Saya ikhlas mereka
diambil.” Namun, sesekali saya khawatir jika mereka selamat mereka bukan diasuh
oleh seorang muslim. Bagaimana?”
“Insya Allah tidak, Bu.” Saya tak memiliki kata-kata yang
lain.
Saya belajar bahwa segalanya akan kembali kepada
pemilik-Nya. Berat memang. Saya ingat saat anaknya yang masih berusia dibawah
satu tahun dalam pelukannya. Mereka terhempas bersama-sama hingga balok
besarpun ikut menghantam sang bayi. Maka tidak ada kalimat yang lain yang Ia
panjatkan. “Saya ikhlas ya Allah engkau mengambil dia.” Ia tak sanggup pukulan
balok itu menhantam si kecilnya. Sekejap bayinya itu terlepas dari pelukannya.
Hingga kini, Ia tak pernah melihatnya lagi.
Saya belajar banyak darinya. Bahwa hidup bukan milik
kita.
Meski sulit kita harus......