Hari
ini, saya melakukan observasi di International Language Institute
(ILI). Dari pukul 6.00 pm sampai dengan 9.00 pm. Saya mengikuti saran
dari seorang teacher di sana.
Kelak kamu menjadi guru, banyak hal yang akan dapat kamu lakukan. Saya
mengamini ucapannya. Ya kapan lagi kalau bukan sekarang? Kelas observasi
saya adalah kelas untuk refugee
yang berasal dari berbagai negara. Dan aneka ragam usia. Dari yang muda
usia hingga “elderly people”. Saya menikmati kelas itu bahkan sedikit
“bermain” dengan student di sana. Apalagi ketika menjadi partner saya
adalah seorang nenek yang berasal dari Polandia. Namanya Izabela
Gizegizolka. Ia mengeja satu kata demi kata, membuka kamus, dan juga
menanyakan ini itu. Saya kagum pada semangat belajarnya. Ia tak malu
untuk melafalkan apapun. Intinya belajar. Ia ingin dapat bercakap-cakap
bahasa Inggris dengan lancar. (Sama dong, Nek Izabela!). Ia berharap
kami dapat berjumpa lagi hari yang akan datang. Saya menjelaskan padanya
bahwa kehadiran saya di sini hanya untuk obeservasi. Someday I hope,
Izabela.
Jam
7.30 malam, jam istirahat. Saya memutuskan untuk berada di laboratorium
komputer, seraya membaca beberapa artikel di internet. Limabelas menit
hampir saja berlalu. Seorang perempuan paruh baya tersenyum dan
mendekati saya. Ia menyapa sambil memperkenalkan dirinya. Saya hanya
dapat mengingat negara asalnya. Equador. Tapi tidak dengan namanya.
Sedetik kemudian Ia melontarkan pertanyaan yang membuat saya kaget plus
senang. “Are you a moslem?” Yes! Dia tahu kalau saya moslem. Saya
menggangguk pasti. “Saya tertarik dengan agamamu. Ada hal yang ingin
saya tanyakan.” Please. Dengan senang hati saya akan menjawab. Ia
menganggap bahwa Islam agama meditasi. Saya tak mengerti pemahaman
meditasi menurutnya. But, Saya harus meluruskan pemahamannya. Tekad
saya. Namun, ah waktu istirahat berakhir. Ia harus masuk ke kelasnya. Ia
meminta email saya. Kesalahan saya adalah saya tak sempat meminta
emailnya. Saya ingin membantu dia memahami Islam. Atau paling tidak
meluruskan apa yang Ia pikirkan selama ini. Sejak pertemuan sore itu,
saya tak pernah lagi berjumpa dengannya.
Dan, sampai hari ini, saya terus menunggu email darinya dalam Inbox saya.
ILI,
August 24, 2006