Catatan Perjalanan2 Saya
Baltimore, Kota Pertama
Saya
tiba di USA pada akhir spring tahun lalu, tepatnya tanggal 16 Juni
2006. Dua minggu saya berada di Northampton, salah satu kota kecil di
Massacussets, saya mengunjungi seorang teman di Baltimore, Maryland.
Kedatangan
saya ke Baltimore karena libur empat hari menjelang summer. Tak ada
seorang teman pun yang menemani saya dalam perjalanan menuju Baltimore.
Walaupun sedikit ditemani rasa was-was, saya tetap nekat pergi. Tekad
saya untuk menghabiskan setiap waktu libur menjelajahi USA benar-benar
harus tercapai. Saya tak ingin membuang waktu saya selama dua tahun,
sampai juni 2008. Kapan lagi kesempatan ini datang? Begitu pikir saya.
Jadilah keberangkatan saya tanpa cell-phone, dan ditemani dengan sebuah
kamera digital merek lama, juga beberapa coin dan nomor telepon, just in
case kalau ditengah perjalanan saya harus menghubungi teman yang akan
saya kunjungi.
Selama
perjalanan, saya benar-benar exciting, Tak sedetikpun saya ingin
memicingkan mata. Kamera juga tidak pernah lepas berada dalam genggaman
saya. Dari Northampton, saya harus transit di New York City. Selama
dalam perjalanan saya akan bersiap untuk mengambil gambar yang kira-kira
menarik di hati saya. Ehmm..........ternyata dugaan saya salah,
sekeliling saya hanya hutan-hutan dan hutan.
Kamera
saya tak begitu berfungsi. Ketika bus memasuki kota yang tak pernah
mati, New York City, kota yang saya anggap ketika masih kanak2 ibukota
United State of America. Saya benar-benar dihinggapi rasa penasaran yang
begitu sangat. Saya jadi ingat Jakarta, mengkoleksi banyak
gedung-gedung pencakar langit, tapi ternyata tak ada apa-apanya. Saya
tak sempat melihat lebih banyak gedung-gedung pencakar langit itu, Bus
yang saya tumpangi harus masuk Port Authority, gedung-gedung yang tinggi
itu berganti dengan lorong-lorong yang gelap, sampai bus mencapai gate
untuk transfer bus berikutnya. Saya bergegas mengambil koper kecil saya
dan berlari kecil mencari gate tujuan saya. Saya bingung ketika melihat
gate-gate itu. Hati kecil saya mendesak saya untuk bertanya, agar saya
tidak tersasar, takut tidak sampai tujuan. Jadilah orang black American
menjadi orang yang pertama saya tanya. Dia juga tidak memberikan jawaban
yang saya inginkan. Ia menyarankan saya untuk menghampiri laki-laki dan
menanyakan gate mana yang harus saya tuju. Tanpa menunggu lama, saya
bergegas mendekat laki-laki berkulit hitam yang berbadan tegap. Dia
menuliskan nomor gate yang harus saya tuju sambil menjelas arah gate
tersebut dengan bahasa inggri sayang sulit saya pahami. Payah ah, hati
saya menggerutu. Bahasa Inggris saya masih sangat jelek untuk menangkap
aksennya itu. Tapi bismillah saya harus bergegas mencari gate yang
dimaksud sambil membaca informasi arah gate yang saya tuju di dinding
Port Authority itu. Dan saya pun menarik nafas lega. Ketika gate
tersebut saya temukan. Saya tak harus lama menunggu. Bus menuju
Baltimore segera berangkat. Malam sekitar pukul 11 malam barulah bus
masuk terminal Downtown Baltimore. Waktu tiba tidak sesuai dengan
schedule, karena traffic yang begitu panjang ketika Bus memasuki kota
baltimore.
Alhamdulillah
teman saya sudah menunggu di terminal. Senang rasanya. Baltimore, kota
pertama yang saya kunjungi, sampai dengan selamat. Namun dalam
perjalanan pulang ke Northampton, jam tempuh sekitar lebih kurang 7
harus berubah menjadi 12 jam, karena bus delay sampai beberapa kali.
Saya benar-benar jengkel dibuatnya. Di salah satu terminal bus,
Springfield menuju northampton, saya harus menunggu 2 jam. Padahal jarak
antar dua kota tersebut hanya sekitar setengah jam . duh jenkelnya.
Dulu saya menganggap orang-orang amerika, selalu on time karena bekerja
dengan prinsip time is money. Time is money, but not for me, for them.
Ketika pengalaman ini saya ceritakan kepada house mate saya dalam
perjalanan menuju ke Pumpkin festival di Newhampshire, mereka tertawa.
Setelah
libur empat hari memasuki summer, akhirnya saya juga bertemu dengan
libur berikutnya, fall season, sebelum memasuki fall semester. Saya pun
telah menyusun rencana untuk berkunjung ke kota yang lain bersama empat
orang teman, New York City. Setelah mendapat petunjuk tempat-tempat mana
yang terkenal di kota tersebut dan mendapatkan tumpangan untuk
menginap, kalau yang ini dalam rangka menghemat biaya perjalananJ,
seorang kenalan teman mengizinkan apartmentnya untuk kami tumpangi.
Hari-hari selama di kita New York City benar-benar menyenangkan. Dulu
daerah-daerah tersebut hanya saya lihat dari televisi atau hanya saya
dengar dari orang-orang. Tapi kini benar-benar dapat saya lihat dan
rasakan dengan mata kepala saya sedniri. Saya benar-benar seperti anak
kampung yang kegirangan yang tak menentu. Gara-gara kegirangan saya
bersama seorang teman, harus missed bus, waduh, bingung tak tahu berbuat
apa. Akhirnya atas kebaikan teman, dia menghubingi teman yang lain di
springfield. Sehingga kami harus turun dan melanjutkan perjalanan yang
hanya tinggal satu jam itu pada keesokan harinya. Untuk pengalaman ini
benar-benar kapok. Saya benar-benar tak ingin ketinggalan bus lagi.
Intinya merepotkan banyak orang. Walaupun setiba saya di spriengfield,
saya mendapatkan pelajaran berharga lainnya. (Kapan-kapan saya ceritakan
ya?)
Thanksgiving is coming
Ini
perjalanan ketiga saya. Thanksgiving yang lalu, saya pun kembali
melebarkan saya perjalanan saya kekota yang lain. Teman kuliah saya
American Citizen, akan menghabiskan waktu libur thanksgiving di Boston,
jadilah saya mendapatkan tumpangan ke gratis (Teman tersebut tak mau
dibayar untuk share gasoline, makasih ya). Saya menghabiskan waktu
selama tiga hari. Saya tak sempat mengeliling kota Boston itu. Karena
saya menghabiskan waktu di rumah saja (berhubung sang tuan rumah
mengundang tamunya yang lain. Tak ada yang lebih menggembirakan ketika
jumlah kenalan saya bertambah di negeri yang sangat asing bagi saya ini.
Apalagi cita-cita saya untuk berpertulangan negara yang memiliki patung
Liberti ini.
Ah
cita-cita saya untuk traveling selalu mengganggu pikiran saya. Dan
parahnya, semangat saya untuk belajar berkurang selepas menggeliling
kota-kota itu. Saya butuh waktu berhari-hari untuk mengingatkan diri
bahwa it’s time to study not travel anymore. He...........
Dan Winter Break,
Jauh-jauh
hari saya mendaftarkan diri agar dapat mengikuti acara muktamar IMSA di
Saint Louis, Missouri. Semangat saya untuk berkelana tak pernah pupus.
Boston – NYC – Washington DC – St Louis – Baltimore – Virginia dan yang
terakhir berlebaran di Harrisburg. Tapi untuk perjalanan kali ini,
kurang begitu saya nikmati. Saya ambruk karena sakit flu, demam dan
sakit kepala, untuk yang terakhir ini begitu lama sembuhnya. Benar-benar
tidak cooperatif. Saya ingin segera kembali ke Brattleboro, untuk
membenamkan kepala saya di atas kasur. Dan sakit itu pun, baru hilang
beberapa hari setelah setiba saya di apartment.
Tapi,
saya tidak pernah kapok untuk tidak jalan-jalan jauh. Selalu saja ada
rencana yang berseliweran mengganggu saya, bila libur academic telah
saya tahu. Eit, saya harus hati-hati, simpananan saya bisa terkuras
karena hobi yang satu ini. Juga hal yang lain, yang kerap kali menganggu
perjalanan saya.
Teman-teman suka usil, ya (susahnya masih melajang)

Jalan-jalan
sih boleh, kuliah juga bagus. Tapi jangan lupa untuk nikah ya? Itulah
pesan sponsor saya. Hati pun makin rusuh kalau teman-teman suka
menggusil dan menyerempet tentang nikah. Nikah sih gak lupa. Nah kalau
pangerannya belum datang sampai sekarang gimana?
Kan mending Jalan-jalan? He.............
