Tuesday, December 18, 2012

Catatan Perjalanan2 Saya

Catatan Perjalanan2 Saya

Baltimore, Kota Pertama

Saya tiba di USA pada akhir spring tahun lalu, tepatnya tanggal 16 Juni 2006. Dua minggu saya berada di Northampton, salah satu kota kecil di Massacussets, saya mengunjungi seorang teman di Baltimore, Maryland.

Kedatangan saya ke Baltimore karena libur empat hari menjelang summer. Tak ada seorang teman pun yang menemani saya dalam perjalanan menuju Baltimore. Walaupun sedikit ditemani rasa was-was, saya tetap nekat pergi. Tekad saya untuk menghabiskan setiap waktu libur menjelajahi USA benar-benar harus tercapai. Saya tak ingin membuang waktu saya selama dua tahun, sampai juni 2008. Kapan lagi kesempatan ini datang? Begitu pikir saya. Jadilah keberangkatan saya tanpa cell-phone, dan ditemani dengan sebuah kamera digital merek lama, juga beberapa coin dan nomor telepon, just in case kalau ditengah perjalanan saya harus menghubungi teman yang akan saya kunjungi.

Selama perjalanan, saya benar-benar exciting, Tak sedetikpun saya ingin memicingkan mata. Kamera juga tidak pernah lepas berada dalam genggaman saya. Dari Northampton, saya harus transit di New York City. Selama dalam perjalanan saya akan bersiap untuk mengambil gambar yang kira-kira menarik di hati saya. Ehmm..........ternyata dugaan saya salah, sekeliling saya hanya hutan-hutan dan hutan.

Kamera saya tak begitu berfungsi. Ketika bus memasuki kota yang tak pernah mati, New York City, kota yang saya anggap ketika masih kanak2 ibukota United State of America. Saya benar-benar dihinggapi rasa penasaran yang begitu sangat. Saya jadi ingat Jakarta, mengkoleksi banyak gedung-gedung pencakar langit, tapi ternyata tak ada apa-apanya. Saya tak sempat melihat lebih banyak gedung-gedung pencakar langit itu, Bus yang saya tumpangi harus masuk Port Authority, gedung-gedung yang tinggi itu berganti dengan lorong-lorong yang gelap, sampai bus mencapai gate untuk transfer bus berikutnya. Saya bergegas mengambil koper kecil saya dan berlari kecil mencari gate tujuan saya. Saya bingung ketika melihat gate-gate itu. Hati kecil saya mendesak saya untuk bertanya, agar saya tidak tersasar, takut tidak sampai tujuan. Jadilah orang black American menjadi orang yang pertama saya tanya. Dia juga tidak memberikan jawaban yang saya inginkan. Ia menyarankan saya untuk menghampiri laki-laki dan menanyakan gate mana yang harus saya tuju. Tanpa menunggu lama, saya bergegas mendekat laki-laki berkulit hitam yang berbadan tegap. Dia menuliskan nomor gate yang harus saya tuju sambil menjelas arah gate tersebut dengan bahasa inggri sayang sulit saya pahami. Payah ah, hati saya menggerutu. Bahasa Inggris saya masih sangat jelek untuk menangkap aksennya itu. Tapi bismillah saya harus bergegas mencari gate yang dimaksud sambil membaca informasi arah gate yang saya tuju di dinding Port Authority itu. Dan saya pun menarik nafas lega. Ketika gate tersebut saya temukan. Saya tak harus lama menunggu. Bus menuju Baltimore segera berangkat. Malam sekitar pukul 11 malam barulah bus masuk terminal Downtown Baltimore. Waktu tiba tidak sesuai dengan schedule, karena traffic yang begitu panjang ketika Bus memasuki kota baltimore.

Alhamdulillah teman saya sudah menunggu di terminal. Senang rasanya. Baltimore, kota pertama yang saya kunjungi, sampai dengan selamat. Namun dalam perjalanan pulang ke Northampton, jam tempuh sekitar lebih kurang 7 harus berubah menjadi 12 jam, karena bus delay sampai beberapa kali. Saya benar-benar jengkel dibuatnya. Di salah satu terminal bus, Springfield menuju northampton, saya harus menunggu 2 jam. Padahal jarak antar dua kota tersebut hanya sekitar setengah jam . duh jenkelnya. Dulu saya menganggap orang-orang amerika, selalu on time karena bekerja dengan prinsip time is money. Time is money, but not for me, for them. Ketika pengalaman ini saya ceritakan kepada house mate saya dalam perjalanan menuju ke Pumpkin festival di Newhampshire, mereka tertawa.

Setelah libur empat hari memasuki summer, akhirnya saya juga bertemu dengan libur berikutnya, fall season, sebelum memasuki fall semester. Saya pun telah menyusun rencana untuk berkunjung ke kota yang lain bersama empat orang teman, New York City. Setelah mendapat petunjuk tempat-tempat mana yang terkenal di kota tersebut dan mendapatkan tumpangan untuk menginap, kalau yang ini dalam rangka menghemat biaya perjalananJ, seorang kenalan teman mengizinkan apartmentnya untuk kami tumpangi. Hari-hari selama di kita New York City benar-benar menyenangkan. Dulu daerah-daerah tersebut hanya saya lihat dari televisi atau hanya saya dengar dari orang-orang. Tapi kini benar-benar dapat saya lihat dan rasakan dengan mata kepala saya sedniri. Saya benar-benar seperti anak kampung yang kegirangan yang tak menentu. Gara-gara kegirangan saya bersama seorang teman, harus missed bus, waduh, bingung tak tahu berbuat apa. Akhirnya atas kebaikan teman, dia menghubingi teman yang lain di springfield. Sehingga kami harus turun dan melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal satu jam itu pada keesokan harinya. Untuk pengalaman ini benar-benar kapok. Saya benar-benar tak ingin ketinggalan bus lagi. Intinya merepotkan banyak orang. Walaupun setiba saya di spriengfield, saya mendapatkan pelajaran berharga lainnya. (Kapan-kapan saya ceritakan ya?)

Thanksgiving is coming
Ini perjalanan ketiga saya. Thanksgiving yang lalu, saya pun kembali melebarkan saya perjalanan saya kekota yang lain. Teman kuliah saya American Citizen, akan menghabiskan waktu libur thanksgiving di Boston, jadilah saya mendapatkan tumpangan ke gratis (Teman tersebut tak mau dibayar untuk share gasoline, makasih ya). Saya menghabiskan waktu selama tiga hari. Saya tak sempat mengeliling kota Boston itu. Karena saya menghabiskan waktu di rumah saja (berhubung sang tuan rumah mengundang tamunya yang lain. Tak ada yang lebih menggembirakan ketika jumlah kenalan saya bertambah di negeri yang sangat asing bagi saya ini. Apalagi cita-cita saya untuk berpertulangan negara yang memiliki patung Liberti ini.
Ah cita-cita saya untuk traveling selalu mengganggu pikiran saya. Dan parahnya, semangat saya untuk belajar berkurang selepas menggeliling kota-kota itu. Saya butuh waktu berhari-hari untuk mengingatkan diri bahwa it’s time to study not travel anymore. He...........

Dan Winter Break,
Jauh-jauh hari saya mendaftarkan diri agar dapat mengikuti acara muktamar IMSA di Saint Louis, Missouri. Semangat saya untuk berkelana tak pernah pupus. Boston – NYC – Washington DC – St Louis – Baltimore – Virginia dan yang terakhir berlebaran di Harrisburg. Tapi untuk perjalanan kali ini, kurang begitu saya nikmati. Saya ambruk karena sakit flu, demam dan sakit kepala, untuk yang terakhir ini begitu lama sembuhnya. Benar-benar tidak cooperatif. Saya ingin segera kembali ke Brattleboro, untuk membenamkan kepala saya di atas kasur. Dan sakit itu pun, baru hilang beberapa hari setelah setiba saya di apartment.
Tapi, saya tidak pernah kapok untuk tidak jalan-jalan jauh. Selalu saja ada rencana yang berseliweran mengganggu saya, bila libur academic telah saya tahu. Eit, saya harus hati-hati, simpananan saya bisa terkuras karena hobi yang satu ini. Juga hal yang lain, yang kerap kali menganggu perjalanan saya.

Teman-teman suka usil, ya (susahnya masih melajang)

Jalan-jalan sih boleh, kuliah juga bagus. Tapi jangan lupa untuk nikah ya? Itulah pesan sponsor saya. Hati pun makin rusuh kalau teman-teman suka menggusil dan menyerempet tentang nikah. Nikah sih gak lupa. Nah kalau pangerannya belum datang sampai sekarang gimana?

Kan mending Jalan-jalan? He.............

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...