Selamatkan Perempuan Kita!
Pagi saat sedang menunggu bus di Carpet Store, sebelum berangkat ke kampus, seorang teman laki-laki berkebangsaan Rusia memberikan
ucapan selamat kepada saya. Saya sempat bingung dengan ucapan selamat
tersebut. Sesaat saya sadar, bukankah semalam saya sudah diingatkan
dalam sebuah pemberitahuan bahwa hari ini adalah hari perempuan se
dunia.
“Thanks, Dan.”
Jujur
saja saya tak pernah ingat hari perempuan se dunia itu. Bahkan hari
Kartini di negeri sendiri sering kali terlewat begitu saja tanpa makna
khusus di hati. Tak ada maksud mengecilkan perjuangan para perempuan.
Apalagi tempat dimana saya dibesarkan melahirkan perempuan-perempuan
hebat.
Dan
siangnya saya menghadiri sebuah presentasi Hasriady, seorang teman yang
berasal dari Makasar. Ia bercerita tentang kehidupan perempuan di rural
area di South Sulawesi. Presentasinya bercerita banyak tentang
kehidupan perempuan di sana. Apa yang Ia gambarkan tak jauh beda dengan
perempuan di Indonesia lainnya di kawasan rural area.
Begitu banyak persoalan yang terjadi di bumi ini, dan itu baru saja menyangkut perempuan.
Saya bukanlah anti pada gerakan perempuan, tapi saya juga tidak sepenuhnya mendukung apa yang dilakukan perempuan.
Saya
setuju ketika perempuan berbicara bahwa mereka harus mendapat perlakuan
yang sama dengan laki-laki. Perempuan harus cerdas. Bukan agama
mengajarkan demikian. Intinya semuanya harus menuntut ilmu. Bukankah
Ibunda Aisyah, kemampuan ilmunya sangat luarbiasa. Para sahabat datang
dan berguru padanya. Perempuan-perempuan dari negeri Madinah juga
menuntut agar mereka diberikan kesempatan dan waktu yang khusus untuk
berguru pada Rasulullah. Rasulullah mengabulkan permohonan tersebut.
Tapi,
saya juga tak bisa berkata apa-apa ketika perjuangan akan perempuan
memiliki arti yang berbeda. Sebutlah namanya A, Ia seorang teman saya,
tak begitu dekat memang. Namun saya tahu banyak akan kehidupan dia.
Sepak terjangnya dan segala yang Ia lakukan. Semuanya akan salut. Ia
mampu menyuara apa yang diinginkan perempuan. Bahkan Ia menduduki salah
satu jabatan yang berhubungan dengan anak dan perempuan. Namun, decak
kekaguman saya untuknya harus berhenti ketika buah hati hasil
perkawinannya, tidak begitu mendapatkan perhatiaan darinya. Saya tak
ingin menilai lebih jauh. Apa yang salahpun tidak saya ketahui.
Anak-anaknya terlihat begitu “beda” dengan yang lain.
Saya
tak ingin menyalahkan dia sepenuhnya atas pendidikan sang anak karena
suami-istri memiliki hak yang sama atas membesarkan anaknya.
Tapi
salahkah saya ketika kekaguman saya padanya luntur perlahan ketika Ia
mampu menangani banyak anak, berkata lembut pada mereka, di sisi lain
tidak terjadi pada anaknya. Semuanya terkesan hambar. Harmonisasi itu
tak terjadi antara hubungan Ibu dan anak.
Begitu
juga sebaliknya, hubungan Ayah dan anak. Ia begitu penolong buat yang
lain. Tidak demikian pada keluarganya. Entahlah apa yang salah dari
kita.
Dan
Minggu yang lalu, saya menyaksikan pementasan Vagina Monologue di
kampus. Saya berdecak kagum atas kemampuan para pendukung acara ketika
mampu menyuarakan apa yang dirasakan. Akting mereka luarbiasa.
Sebaliknya
kontra juga mendominasi, apakah yang mereka suarakan mewakili
suara-suara perempuan di mana saja. Seorang teman dari Philipina
menanyakan pendapat saya tentang acara tersebut. “Apakah itu mencover
persoalan perempuan yang terjadi di bosnia di tahun 1990-an? Saya hanya
menggeleng. Sesekali ingatan saya terlintas ketika pemerkosaan itu
terjadi, atau dimana saja. Ingatan saya kembali pada cerita seorang
teman laki-laki yang berkerja pada people crisis center di Aceh. Dalam
training itu Ia bercerita, seorang siswa SMA diperkosa oleh aparat
seminggu setelah Tsunami. Alasan pemerkosaan itu, karena ayah atau abang
si lelaki itu adalah seorang anggota gerakan aceh merdeka. Saya
menggeleng kepala. Atas nama konflik perempuan tertindas. Dan Ia bahkan
orang sekitar juga tidak bisa melakukan apa-apa ketika semua itu
dituntut.
Ah
kasihan engkau perempuan. Banyak hal yang terjadi pada perempuan.
Agenda kita masih panjang untuk melindungi perempuan. Tak perlu harus
bingung darimana memulainya. Bukahkan menjaga istri, mencintainya
sepenuh hati, itu adalah sebaik-baiknya perlindungan. Memberikan
kesempatan sama pada anak perempuan seperti halnya laki-laki juga
mengajarkan hal yang sama; melindungi perempuan. Mengajarkan perempuan
untuk menjaga martabatnya, juga melindungin perempuan. Artinya tidak
ingin “menyakitkan” perempuan, dengan dalih atas nama agama.
Tak
ada yang sulit untuk melindungi perempuan. Asalkan ada niat tulus.
Bukahkan di sekeliling kita perempuan dan mereka adalah Ibu, kakak,
adik, bibi dan lain-lainnya. Tentu kita tidak ingin mereka tersakiti.
Maka jangan sakiti perempaun yang lain, jika oarng yang anda cintai tak
ingin disakiti.
Mudah bukan?
Mari, Selamatkan Perempuan Kita