Tuesday, December 18, 2012

Catatan Hari Perempuan Sedunia

Selamatkan Perempuan Kita!

Pagi saat sedang menunggu bus di Carpet Store, sebelum berangkat ke kampus, seorang teman laki-laki berkebangsaan Rusia                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  memberikan ucapan selamat kepada saya. Saya sempat bingung dengan ucapan selamat tersebut. Sesaat saya sadar, bukankah semalam saya sudah diingatkan dalam sebuah pemberitahuan bahwa hari ini adalah hari perempuan se dunia.

“Thanks, Dan.”

Jujur saja saya tak pernah ingat hari perempuan se dunia itu. Bahkan hari Kartini di negeri sendiri sering kali terlewat begitu saja tanpa makna khusus di hati. Tak ada maksud mengecilkan perjuangan para perempuan. Apalagi tempat dimana saya dibesarkan melahirkan perempuan-perempuan hebat.

Dan siangnya saya menghadiri sebuah presentasi Hasriady, seorang teman yang berasal dari Makasar. Ia bercerita tentang kehidupan perempuan di rural area di South Sulawesi. Presentasinya bercerita banyak tentang kehidupan perempuan di sana. Apa yang Ia gambarkan tak jauh beda dengan perempuan di Indonesia lainnya di kawasan rural area.

Begitu banyak persoalan yang terjadi di bumi ini, dan itu baru saja menyangkut perempuan.

Saya bukanlah anti pada gerakan perempuan, tapi saya juga tidak sepenuhnya mendukung apa yang dilakukan perempuan.

Saya setuju ketika perempuan berbicara bahwa mereka harus mendapat perlakuan yang sama dengan laki-laki. Perempuan harus cerdas. Bukan agama mengajarkan demikian. Intinya semuanya harus menuntut ilmu. Bukankah Ibunda Aisyah, kemampuan ilmunya sangat luarbiasa. Para sahabat datang dan berguru padanya. Perempuan-perempuan dari negeri Madinah juga menuntut agar mereka diberikan kesempatan dan waktu yang khusus untuk berguru pada Rasulullah. Rasulullah mengabulkan permohonan tersebut.

Tapi, saya juga tak bisa berkata apa-apa ketika perjuangan akan perempuan memiliki arti yang berbeda. Sebutlah namanya A, Ia seorang teman saya, tak begitu dekat memang. Namun saya tahu banyak akan kehidupan dia. Sepak terjangnya dan segala yang Ia lakukan. Semuanya akan salut. Ia mampu menyuara apa yang diinginkan perempuan. Bahkan Ia menduduki salah satu jabatan yang berhubungan dengan anak dan perempuan. Namun, decak kekaguman saya untuknya harus berhenti ketika buah hati hasil perkawinannya, tidak begitu mendapatkan perhatiaan darinya. Saya tak ingin menilai lebih jauh. Apa yang salahpun tidak saya ketahui. Anak-anaknya terlihat begitu “beda” dengan yang lain.

Saya tak ingin menyalahkan dia sepenuhnya atas pendidikan sang anak karena suami-istri memiliki hak yang sama atas membesarkan anaknya.

Tapi salahkah saya ketika kekaguman saya padanya luntur perlahan ketika Ia mampu menangani banyak anak, berkata lembut pada mereka, di sisi lain tidak terjadi pada anaknya. Semuanya terkesan hambar. Harmonisasi itu tak terjadi antara hubungan Ibu dan anak.

Begitu juga sebaliknya, hubungan Ayah dan anak. Ia begitu penolong buat yang lain. Tidak demikian pada keluarganya. Entahlah apa yang salah dari kita.

Dan Minggu yang lalu, saya menyaksikan pementasan Vagina Monologue di kampus. Saya berdecak kagum atas kemampuan para pendukung acara ketika mampu menyuarakan apa yang dirasakan. Akting mereka luarbiasa.

Sebaliknya kontra juga mendominasi, apakah yang mereka suarakan mewakili suara-suara perempuan di mana saja. Seorang teman dari Philipina menanyakan pendapat saya tentang acara tersebut. “Apakah itu mencover persoalan perempuan yang terjadi di bosnia di tahun 1990-an? Saya hanya menggeleng. Sesekali ingatan saya terlintas ketika pemerkosaan itu terjadi, atau dimana saja. Ingatan saya kembali pada cerita seorang teman laki-laki yang berkerja pada people crisis center di Aceh. Dalam training itu Ia bercerita, seorang siswa SMA diperkosa oleh aparat seminggu setelah Tsunami. Alasan pemerkosaan itu, karena ayah atau abang si lelaki itu adalah seorang anggota gerakan aceh merdeka. Saya menggeleng kepala. Atas nama konflik perempuan tertindas. Dan Ia bahkan orang sekitar juga tidak bisa melakukan apa-apa ketika semua itu dituntut.

Ah kasihan engkau perempuan. Banyak hal yang terjadi pada perempuan. Agenda kita masih panjang untuk melindungi perempuan. Tak perlu harus bingung darimana memulainya. Bukahkan menjaga istri, mencintainya sepenuh hati, itu adalah sebaik-baiknya perlindungan. Memberikan kesempatan sama pada anak perempuan seperti halnya laki-laki juga mengajarkan hal yang sama; melindungi perempuan. Mengajarkan perempuan untuk menjaga martabatnya, juga melindungin perempuan. Artinya tidak ingin “menyakitkan” perempuan, dengan dalih atas nama agama.

Tak ada yang sulit untuk melindungi perempuan. Asalkan ada niat tulus. Bukahkan di sekeliling kita perempuan dan mereka adalah Ibu, kakak, adik, bibi dan lain-lainnya. Tentu kita tidak ingin mereka tersakiti. Maka jangan sakiti perempaun yang lain, jika oarng yang anda cintai tak ingin disakiti.

Mudah bukan?

Mari, Selamatkan Perempuan Kita
 

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...