Assalamu’alaikum Wr Wb,
Apakabar
semua? Maaf baru kali ini menyapa kalian lagi. Bagaimana kabar di
seluruh penjuru? Mudah-mudahan apa yang kita cita-cita akan mudah kita
dapatkan. Amin
Adik-adik, teman2, abang2 dan kakak2 yang saya cintai,
Alhamdulillah,
Tanggal 17-25 April yang lalu, Allah mengizinkan saya untuk melangkah
kaki di salah satu bagian Great Britain untuk mengikuti confrence IATEFL (International Teaching English as a Foreign Language) tepatnya di Aberdeen, Scotland. Kota ini terkenal dengan Granite city. Summer datang maka dinding bangunan di sana akan memancarkan cahaya yang indah.
Saya
tidak ingin bercerita panjang tentang keadaan kota tersebut. Tapi saya
ingin berbagi pengalaman saya ketika mengikuti conference itu sebagai
peserta. Banyak delegasi datang dari seluruh penjuru dunia. Tapi tidak
sempat mengenal banyak orang yang datang dari berbagai negara.
Seminarnya berlangsung dari 19-22 April 2007.
Apa
tujuan conference ini? Tentunya untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai
bahasa International. Ada banyak topik yang dibahasa dalam conference
ini dan setiap topik terbagi pada banyak section, sehingga membingungkan
banyak orang untuk memilih section yang mana. Ada 18 topic yang dibahas
Applied Linguistic, Bussiness English, ELT Management, EAP (English for
Academic Purposes), ESP (English for Specific Purposes), ESOL, General,
Young Learner, Teacher Development, Teacher Training & Educator,
Testing, Evaluation dan Assessment, Global Issue, Learner Autonomy,
learning Technology, Literature, Media & Cultural, Material Degree,
Pronunciation dan Yang terakhir reasearch.
Dengan
berbagai kelas setiap harinya, benar-benar membingungkan, apa yang
harus saya pilih? Akhirnya saya memutuskan untuk memasuki setiap topic
yang tertera setiap satu section. Saya berharap dapat memasuki semua
section, tapi keterbatasan waktu membuat itu tidak memungkinkan.
Saya
melihat, mendengar dan merasakan sekali bagaimana mereka mengorganisir
dan mengemas semua itu dengan rapi dan terencana. Dari materi yang mudah
diakses hingga kreatifitas yang mereka ciptakan, bagaimana agar siswa
yang belajar bahasa Inggris dapat memahami bahasa tersebut dengan mudah.
Dan lagi, percaya atau tidak bahasa Inggris adalah bahasa yang sukses sebagai lingua franca.
Setiap orang memilih untuk belajar bahasa inggris. Sadar atau tidak
sesekali terbersit di hati, ada sebuah kebanggaan jika kita dapat
berbicara seperti native speaker.
Saya
tidak menyalahkan siapa saja untuk belajar bahasa Inggris. Karena
mengutip kata seorang teman yang sedang kuliah di Khartoum university,
Sudan, kemampuan belajar bahasa lain adalah memudahkan kita untuk
berdakwah kepada orang lain.
Pesan
seorang teman tersebut sedikit melucuti saya untuk belajar bahasa
Inggris dengan tekun. Sebab saya melaluinya semua dengan segala
keterpaksaan tidak dengan hati yang lapang. Sebut saja, saya belajar
bahasa inggris di pesantren, karena itu kewajiban. Dan di universitas,
saya harus belajar bahasa karena diharuskan sebelum tamat untuk
mengikuti test toefl dan lulus sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Jika tidak, harus mengulangi lagi sampai lulus baru dapat mengikut
sidang terakhir. Jadi ingat akan sebuah tulisan, Education as
enforcement. Semua dilakukan dengan terpaksa.
Jadi, kata teman, belajar bahasa untuk dakwah, Intan.
Saya
bukan orang yang tertarik untuk belajar bahasa, maka Saya mulai
memperbaharui niat. Memompa kembali semangat untuk belajar bahasa. Tapi
mengapa hanya bahasa Inggris?
Bagaimana
dengan bahasa Arab? Apakah belajar bahasa Arab juga bukan dakwah? Tentu
saja itu penting. Karena setiap lima waktu kita melafalkannya tapi
semua itu kering dengan makna. Kita perlu belajar bahasa Al-quran itu,
agar dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Kembali
pikiran saya terganggu di tengah hiruk pikuknya conference, ketika
membolak balik CD, buku bacaan dan hal lain yang sangat mendukung saya
untuk mempelajari bahasa penjajah ini (istilah saya untuk bahasa
inggris). Saya ingin sekali memiliki CD dan buku yang menarik untuk
kembali mengingatkan semua fi’il2 itu. Dimanakah saya mendapatkannya?
Atau jika pun ada, saya menemukannya bukan penerbit Islam.
Dimana
kita sekarang? Mengapa untuk memperkenalkan bahasa Arab tidak seperti
yang dilakukan orang-orang Eropa dan Amerika dengan metode yang sangat
attraktif.
Adakah conference yang serupa dengan ini?
Saya menanyakan kepada salah satu student yang kuliah di Al-Azhar, Cairo.
Dan jawabnya, "gak tahu"
Ah......
Brattleboro, April 30, 2007