Dimuat di Harian Aceh, 04 Agustus 2007
Hari ini peer teaching
untuk matakuliah Approaches to Teaching. Aku sedang menyiapkan beberapa
perlengkapan yang harus kubawa. Prof. Anderson membebaskan kami untuk
berimprovisasi. Ehm.........Aku menarik nafas lega. Kertas, karton,
gunting dan beberapa alat yang lain. Aku berharap dapat nilai plus untuk
matakuliah ini. Setidak di sini Aku juga belajar bagaimana menemukan
metode yang tepat untuk mengajar bahasaku sendiri.
Prof.
Anderson menugasiku dengan bahasa Indonesia. Setiap International
student diharuskan untuk mengajar bahasa nasional mereka sendiri. Wuih.
Aku menarik nafas panjang. Susah ternyata menvisualisasikan cara
mengajar bahasa sendiri. Entah mengapa Aku dapat mengukir keahlian untuk
mengajar bahasa asing, tapi tidak dengan bahasaku sendiri. Aku hanya
geli. Hati kecil menggejekku. Ternyata hanya untuk menentukan metode
mengajar bahasaku sendiri lebih dari sulit. Tidak seperti yang Aku pikirkan.
-----------------
Aku melirik weker di kamarku. Persis di bawah table lamp.
Weker itu setia membangunkanku dan mengingat apa yang harus Aku
lakukan. Sekarang, hari ini, besok dan akan datang. Selain Aku tak
membiarkan dinding sebelah kamarku tanpa sketsa. Kosong. Kutata jadwal
harianku di sana. Terkadang jadwal-jadwal itu, tak pernah membuatku
tenang. Ia terlihat menakutkan bagiku. Mengapa tidak? Senin, Selasa,
Rabu, Kamis, Jumat, bahkan untuk ukuran akhir pekan. Aku juga disesakan
oleh tugas-tugas.
Kemarin Aku baru menyerahkan laporan untuk matakuliah Discourse Analysis. Hari ini peer teaching. Besok meeting. Lusa advisory meeting.
Besok? Ya Tuhan. Belum lagi buku-buku dan artikel yang harus dibaca.
Menarik nafas mungkin sedikit melegakan. Ups....Aku lupa. Hari
berikutnya. Jumat. Setelah shalat Jumat ada Janji sama teman dari
Uzbekistan. Minta diajarkan menggaji. Aku menggangguk dengan mantap
setelah melihat masih ada kolom kosong di agendaku.
Reciting Quran with Nurmatova.
“How much should I pay for you?” Ia menggeluarkan selembar cek dan menuliskan namaku di sana.
“No. No pay at all.”
Tangannya berhenti menulis namaku di lembar kuning itu. Ia menyelidiki.
“Why?”
Aku tak punya jawaban atas pertanyaann itu. Aku hanya ingin mengajarinya. Aku rasa tak semua pertanyaan kenapa harus dijawab.
“It’s okay.” Aku hanya punya perbendaharaan itu.
“Why?”
Duhh. Dia bertanya lagi.
“I am happy to teach you reciting Quran.”
Aku
menegaskan padanya jika Aku tak perlu dibayar. Beasiswa yang kuterima
lebih dari cukup. Dan Aku masih ada keluangan waktu untuk mengajarnya di
antara waktu-waktu kuliahku.
Mata sedikit bersinar. Ia merasa jauh lebih nyaman dengan penjelasan itu.
Kami membuat kesepakatan. Setelah Jumat Prayer. Itu waktu resminya. Jika ada perubahan, akan ada penjadwalan ulang.
----------------
Ruang
itu sepi hanya ada sister Joyce di sana bersama dua anak kembar. Wanita
keturunan Mozambik menikah dengan laki-laki immigranMesir.
“How are you sister?”
“I am good.”
Fateema dan Khadeeja tersenyum sambil memberikan salamnya. Mereka setia menemani Mommy nya untuk melakukan salat Jumat.
Dari
balik jendela itu, Aku melihat laki-laki besar mendekati arah ruang
interfaith ini. Pasti dia lagi yang akan menjadi khatib untuk Jumat ini.
Seperti biasa. Hanya sesekali suami Joyce yang akan memberikan khutbah
jika lelaki itu tak harus kerja.
Aku menarik nafas.
Kemana teman-temanku yang lain?
Machmod
sempat memberikanku salam sebelum Ia berkumpul dengan teman-teman yang
lain. Sepertinya Ia tak datang lagi ke masjid kami itu, ruang
interfaith. Demikian aku menamainya. Entahlah apa yang didiskusikan
mereka lagi.
Kemarin
dalam mata kuliah Education for Social Justice, Aku dengar mereka
mengambil tema tentang persoalan injustice yang menjadi issue di negara
mereka. Kelas itu begitu ramai. Kelas yang difavoritkan oleh banyak
orang. Teman-temanku juga banyak di sana. Tak pernah sepi kelas itu. Ah
masjidku tetap sepi. Jumat kemarin, Jumat yang lalu frekwensi jamaah tak
banyak berubah.
---------
Abu
mengeluh lagi, Zi. Itu yang ku dengar dari Ibu. Keluhan Abu sama
seperti waktu-waktu sebelumnya. Rasanya Abu tak pernah mengeluh oleh
sakit yang dideritanya. Yang Abu keluhkan selalu tentang langgar di
depan gang rumah.
Langgar
itu hanya penuh saat ada acara makan dan itupun ketika setiap warga
mendapat giliran karena Maulid Nabi. Ini tradisi kita. Begitu kata-kata
yang keluar dari masyarakat sekitar.
Tak betik oleh mereka untuk menjadikan ibadah sebagai tradisi gampong.
Abu tak tahu harus berbuat apa. Rasanya habis sudah pikiran yang Abu
kerahkan. Tak tahu bagaimana menghidupkan Langgar itu lagi. Langgar itu
tak besar. Tapi tetap sejak terasa begitu luas mengingat jamaahnya yang
tak seberapa.
Dua
hari yang lalu, Mak cerita Abu minta pada lurah untuk mengadakan rapat
di Langgar saja. Jadi, begitu zuhur tiba, tentu akan ada jamaah yang
ikut salat bersama. Permohonan itu tak ditanggapi. Malah Abu
ditertawakan. Kata lurah, mana mungkin dibuat seperti zaman dahulu. Abu
hanya diam, sepertinya Ia tak punya kawan untuk mendialogkan perasaannya
kecuali pada Mak. Mak hanya mendukunngnya dengan senyum dan menampung
segala keluh Abu serta dengan setia menguraikannya untukku.
Aku
menyimak dengan seksama dari seberang sana. Sebelum menutup telepon,
Mak berpesan, setelah Azizah selesai nanti, pulang dan bangunlah masjid
kita. Aku hanya memberikan salam tanpa mengucapkan sepatah apapun.
Ah,
Mak di sana Azizah juga tak tahu bagaimana menghidupkan masjid kami.
Kami tak seberapa. Tapi tetap saja masih sulit menggalang minoritas
untuk menghidupkan masjid.
--------
Lonceng
itu berbunyi lagi. Setiap satu jam Ia pasti akan mengeluarkan suaranya.
Seluruh downtown akan terdengar karenanya. Awal tiba, Aku bingung.
Gereja mana yang memanggil jemaatnya. Hampir tiap
sudut Aku melihat bangunan kuno itu. Padahal kota ini terlalu kecil
untuk memiliki begitu banyak tempat beribadat untuk para Nasrani itu.
Semua bangunan itu hampir tak berpenghuni.
Adakah
misa pagi seperti yang kudengar biasanya? Sabtu yang lalu, Aku pernah
melihat sejumlah pendeta keluar dari bangunan tua itu. Selebihnya Aku
hampir-hampir tidak pernah melihat orang berduyun-duyun menuju bangunan
tua itu. Tidak juga housemate. Tampaknya Ia tak mau dipusingkan oleh
pernak-pernik agama.
Minggu
pagi, housemateku itu, masih saja di depan televisi di living room. Ia
seperti tidak pernah berminat untuk menjenguk rumah ibadahnya itu. Aku
pernah menanyakan hal itu. My house is my church. Ia hanya mengangkat
bahu. Agama adalah agama. Hidup adalah hidup.
-------------------
Dua pasang burung Murai di atas batang pohon Maple.
Pagi
yang damai. Selalu saja pada panggilan para burung untuk menikmati
hari. Beberapa lembaran artikel berserak di atas tempat tidur. Ada rasa
malas mengemasinya. Toh nanti akan berserak lagi. Bukankah Aku harus membacanya lagi. Belum lagi beberapa buku-buku untuk melengkapi tugas portfolioku.
Jam 9.00
Sebentar
lagi ada penggajian online. Sister Lisa telah menghubungiku. Jangan
lupa untuk mengabari pada sister yang lain ya? Pemanfaatan teknologi di
negeri orang untuk melakukan apa saja.
-----------------
Sekelompok mahasiswa berdiri di depan annoucement board. Aku mendekati papan pengumuman itu. Sejumlah nama mahasiswa tertera di sana. Presentasi untuk menyambut hari social justice.
Nama mereka ada di sana. Teman-temanku.
Aku jadi ingat saat brother Hamzah Marshall, memintaku untuk membuat daftar dan imaam masjid untuk setiap waktu.
“Would you like to be Imaam?” kataku suatu hari.
Mereka menolak. Sampai saat ini Aku tak tahu alasan apa.
Hati kecilku menggusik.
Apa beda menjadi presenter dan Imaam
Ah mesjid kami tetap sepi.
Brattleboro, July 21, 2007