Monday, December 17, 2012

Dilangkahi

Ia sahabat yang luarbiasa menurut saya. Kesetiakawanannyapun bukan biasa punya. Sahabat saya tersebut selalu saja mengingatkan saya untuk melakukan hal-hal yang telah menjadi rencana saya. Meski kecil menurut orang tapi sangat berarti untuk saya. Dan Ia tak pernah menganggap kecil apapun yang saya lakukan.
Ia menyemangati saya ketika keputusan yang saya ambil banyak ditentang atau diremehkan orang. Ia orang yang selalu menanti tulisan kacangan yang saya miliki. Atau bahkan “memarahi” saya karena tak memberitahunya jika tulisan kacangan itu dimuat. Semangat-semangatnya selalu memberikan inspirasi yang luarbiasa untuk saya.
Karena cintanya pada saya, saya selalu bertekad untuk memberikan dia ruang di hati saya.  Menempatkan Ia salah seorang sahabat istimewa dalam hidup saya dan tentunya berjanji untuk menolong dia kapanpun dan sebisanya. Itulah janji yang selalu menempati ruang di hati saya.  
Dan ketika suatu hari saya menerima kabar darinya tentang berita yang menurut banyak orang mengatakan amat menyakitkan dan menyisakan malu-kata sebagian orang. Ia menyampaikannya itu dengan sangat biasa tanpa perubahan aura apapun darinya.
Dulu lima bulan yang lalu berita itu saya terima. Tentang seseorang melamar adiknya. Tentang pernikahan adiknya yang akan dilangsungkan dalam waktu hitungan bulan. Bukan hanya satu orang tapi melainkan dua orang. Ya dia akan dilangkahi oleh dua orang adiknya dalam waktu pernikahan yang tak begitu jauh.
Saya telah menyiapkan diri dan menjadikan saya sebagai “recycle bin” nya bila suatu hari Ia ingin menumpahkan kesedihannya pada saya. Saya akan memberikan ruang untuknya jika suatu hari airmata itu akan tumpah. Bagaimanapun Ia berhak untuk menangis. Sebab pertanyaan kapan? Udah dibalap nih dengan adik! Tentulah berseliweran di sana sini. Pastilah kalimat itu tak sedap didengar. Dan sayapun berusaha dan mengunci lisan untuk tidak menambah kerisauan hatinya untuk tidak menanyakan itu. Walaupun jika pertanyaan itu dilontarkan dalam candaan. Tentulah kalimat itu amat sangat menyakitkan baginya. Ia tentu tak ingin dilangkahi. Sehingga Saya tetap tidak ingin menambah risau hatinya. Namun takdir memberikan pilihan yang terbaik untuknya. Saya pun kenal betul, Ia bukan golongan perempuan yang terlalu memilih dan memilah ini itu. Hanya saja arjuna itu belum menjemputnya.
Hari H itupun tiba. Saya hadir di tengah-tengah meriahnya pesta pernikahan nan bahagia. Tak sedikitpun gurat-gurat kesedihan tampak lewat air mukanya. Ia sibuk menyapa tamu sana sini. Atau bercanda dengan beberapa teman yang lain.
Saya jadi malu karena memandang “remeh” sahabat saya itu. Saya malu telah menganggapnya tidak mampu melewati hari-hari yang menyulitkan itu baginya.
Saya malu bagaimana jika itu terjadi pada saya. Mampukah saya seperti dia?
Saat pamit dari pesta pernikahan itu, saya memandangnya haru. Terima kasih Tuhan memberikan saya kesempatan berjumpa dengan sahabat sepertinya. Ia sahabat yang hebat untuk saya. Bisik saya pelan.  

Matang Seulimeng, 10 Mai 2005

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...