Ia
sahabat yang luarbiasa menurut saya. Kesetiakawanannyapun bukan biasa
punya. Sahabat saya tersebut selalu saja mengingatkan saya untuk
melakukan hal-hal yang telah menjadi rencana saya. Meski kecil menurut
orang tapi sangat berarti untuk saya. Dan Ia tak pernah menganggap kecil
apapun yang saya lakukan.
Ia
menyemangati saya ketika keputusan yang saya ambil banyak ditentang
atau diremehkan orang. Ia orang yang selalu menanti tulisan kacangan
yang saya miliki. Atau bahkan “memarahi” saya karena tak memberitahunya
jika tulisan kacangan itu dimuat. Semangat-semangatnya selalu memberikan
inspirasi yang luarbiasa untuk saya.
Karena cintanya pada saya, saya selalu bertekad untuk memberikan dia ruang di hati saya. Menempatkan Ia
salah seorang sahabat istimewa dalam hidup saya dan tentunya berjanji
untuk menolong dia kapanpun dan sebisanya. Itulah janji yang selalu
menempati ruang di hati saya.
Dan
ketika suatu hari saya menerima kabar darinya tentang berita yang
menurut banyak orang mengatakan amat menyakitkan dan menyisakan
malu-kata sebagian orang. Ia menyampaikannya itu dengan sangat biasa
tanpa perubahan aura apapun darinya.
Dulu lima
bulan yang lalu berita itu saya terima. Tentang seseorang melamar
adiknya. Tentang pernikahan adiknya yang akan dilangsungkan dalam waktu
hitungan bulan. Bukan hanya satu orang tapi melainkan dua orang. Ya dia
akan dilangkahi oleh dua orang adiknya dalam waktu pernikahan yang tak
begitu jauh.
Saya
telah menyiapkan diri dan menjadikan saya sebagai “recycle bin” nya
bila suatu hari Ia ingin menumpahkan kesedihannya pada saya. Saya akan
memberikan ruang untuknya jika suatu hari airmata itu akan tumpah. Bagaimanapun Ia berhak untuk menangis. Sebab pertanyaan kapan? Udah dibalap nih dengan adik! Tentulah berseliweran di sana
sini. Pastilah kalimat itu tak sedap didengar. Dan sayapun berusaha dan
mengunci lisan untuk tidak menambah kerisauan hatinya untuk tidak
menanyakan itu. Walaupun jika pertanyaan itu dilontarkan dalam candaan.
Tentulah kalimat itu amat sangat menyakitkan baginya. Ia tentu tak ingin
dilangkahi. Sehingga Saya tetap tidak ingin menambah risau hatinya.
Namun takdir memberikan pilihan yang terbaik untuknya. Saya pun kenal
betul, Ia bukan golongan perempuan yang terlalu memilih dan memilah ini
itu. Hanya saja arjuna itu belum menjemputnya.
Hari
H itupun tiba. Saya hadir di tengah-tengah meriahnya pesta pernikahan
nan bahagia. Tak sedikitpun gurat-gurat kesedihan tampak lewat air
mukanya. Ia sibuk menyapa tamu sana sini. Atau bercanda dengan beberapa teman yang lain.
Saya
jadi malu karena memandang “remeh” sahabat saya itu. Saya malu telah
menganggapnya tidak mampu melewati hari-hari yang menyulitkan itu
baginya.
Saya malu bagaimana jika itu terjadi pada saya. Mampukah saya seperti dia?
Saat
pamit dari pesta pernikahan itu, saya memandangnya haru. Terima kasih
Tuhan memberikan saya kesempatan berjumpa dengan sahabat sepertinya. Ia
sahabat yang hebat untuk saya. Bisik saya pelan.
Matang Seulimeng, 10 Mai 2005