Apa
yang saya dapat saya lakukan bila seorang teman mengatakan bahwa calon
pendamping hidupnya merupakan asset yang begitu berharga. Atau seorang
teman lagi memasang dua kalau-kalau tidak berjodoh dengan satunya, Ia
punya ban serap sehingga Ia tak perlu repot mencari yang lain karena ia
punya cadangannya.
Saya
hanya bersedih begitu mendengar seorang teman menceritakan itu pada
saya. Berita itu meninggalkan sesuatu hal yang begitu mendalam. Mengapa
ya mereka tega melakukan itu?
Bagaimana
jika mereka diperlakukan seperti itu? Tidakkah mereka merasakan
kesedihan yang luarbiasa ternyata secara tidak langsung Ia disia-siakan.
Ketika
mendengar berita itu, ingin saya langsung menghampiri teman saya itu
dan menyatakan keberatan atas ucapannya itu. Langkah saya terhenti.
Untuk apa? Sejauhmana sih kepentingan saya dalam ceritanya itu. Dan
sayapun bukan termasuk orang yang diabaikannya itu. Mungkin suatu hari
nanti Ia akan menemukan pelajaran atas ucapannya itu. Pikir saya.
Apa
yang membuat mereka menjadikan cintanya sebagai asset? Dari berita yang
saya dengar, mereka melakukan itu karena pasangan mereka itu memiliki
kelebihan hingga merekapun menjadikannya sebagai asset.
Mulanya,
saya berpikir mungkin asset yang mereka maksud karena pribadi atau
potensi yang dimiliki untuk membangun sebuah keluarga sakinah mawaddah
wa rahmah. Dugaan saya salah. Potensi itu ternyata potensi duniawi bukan
ukhrawi.
Yap!
Potensi yang memungkinkan mereka untuk membina rumah tangga dengan
materi karena pasangannya itu berlatar pendidikan kedokteran. Ketika
saya tahu asset yang dimaksud maka tak heranlah saya.
Banyak
orang begitu bangga begitu mendapatkan dokter sebab tentulah mereka
berpikir bahwa mereka nantinya tak memiliki kesulitan finansial untuk
membangun rumah tangga nantinya.
What is next up? Saya tak tahu karena kabar dua kawan saya tersebut belum menikah. Maybe, one day.
Rasanya ingin saja saya mengungkapkan keberatan saya atau mungkin
sekedar memberikan dia pesan apa yang disampaikan Rasulullah dulunya.
Kita Cuma butuh agamanya untuk memilih seorang bukan hartanya. Saya
khawatir bila harta tetap menjadi alasan kawan saya menikah. Bagaimana
bila di tengah jalan Allah berbicara lain? Wallahu’alam