Ia
pergi saat berusia delapan belas tahun lebih dua minggu. Lepas setahun
dari bilangan sweet seventeen. Kepergiannya menyisakan kesedihan dan
rasa kehilangan yang luar biasa dalam diri saya. Kepergiannya mendadak
seprti kepergian ribuan orang lainnya. Kepergiannya yang tak pernah saya
sangka sebelumnya.
Saya
mengenalinya setahun lalu. Tepatnya, saat Ia menjadi salah satu siswa
tempat dimana saya mengajar. Praktisnya saya baru mengenalnya selama
enam bulan. Mulanya, saya melihat dia, Ia adalah sosok yang biasa saja.
Tak sesuatupun yang membuat Ia menjadi sosok yang lebih di mata saya.
Dia pintar meski tidak pintar sekali. Dari segi fisik Ia kelihat lebih
menojol dibandingkan yang lain walaupun jauh masih ada yang lebih cantik
dari dia.
Lebih
dari itu, siapa yang sanggup menghapus karisama yang dimiliki oleh
seseorang. Ia mulai akrab dengan saya tepat sehari masa akhir belajar di
bimbingan tersebut. Dan setelah itu, berlanjut dari hal lain. Sampai
curhat-curhatnya mewarnai hubungan kami, ketika banyak senior yang ingin
mengungkapkan rasa suka padanya. Dan semua itu Ia bagi kepada saya.
Selain
itu cerita-cerita lain tersu saja mengalir, entah tentang kehidupannya,
keluarganya atau yang lain. Dan sayapun sangat menimati
cerita-ceritanya. Ia tipe oarng manja. Anehnya baru kali ini saya dapat
akrab dengan orang manja. Tapi tidak dengan yang lain. Tentulah aneh
jika saya mengingat semua ini.
Saya
sungguh menikmati persahabatan dengannya yang terpaut tjuh tahun usia
kami. Kehadirannya selama enam bulan itu menjadi luarbiasa. Tak pernah
saya merasa menjadi orang yang begitu dimiliki. Pesan-pesan singkatnya
yang saya terima darinya membuat Ia bukanlah adik kecil pada umumnya.
“Ass, kakak. Udah makan? Kakak sehatkan? Kakak masih kakak Ipahkan?”
Atau di lain waktu lewat smsnya:
“Kakak bolehkan Ipah jadi adik kakak?”
Hampir
setiap malam saya mendapatkan sms darinya. Kehadiran pesan-pesannya itu
membuat saya menjadi berarti dan begitu dicintai. Jarang bahkan hampir
tak pernah saya menemui orang seperti dia. Perhatiannya itu membuat saya
begitu bahagia. Saya benar-benar menjadi orang begitu dimiliki.
Sebuah
kejadian kecil yang tak akan pernah saya lupakan, saat Ia membuka
bungkusan kue dihadapan saya, bebberapa orang disekitar saya segera
mengerumbungi kue itu. Saya terdiam tanpa mempedulikannya. Ia melihat
adegan diam itu, cepat Ia berujar kakak cepat dimakan kuenya. Nanti
keburu habis.”
Saya
menggeleng tak apa. Karenapun saya sudah makan. Begitu kue itu tinggal
sepotong, Ia pun kembali mengunkapkan khawatirannya, “Ayo, Kakak. Kuenya
tinggal sepotong.”
Perhatian ‘kecilnya’ itu tak akan pernah saya lupakan. Begitu juga perhatianlain yang tersu menyusul.
Namun
siapa sangka, bila saya tak diizinkan Tuhan untukmenikmati cinta dan
perhatiannya lebih lama. Allah mengambilnya begitu cepat. Tepat sehari
setelah saya menyerahkan kado ulang tahunnya yang pertama dan untuk yang
terakhir kali. Tepat, ketika tsunami datang, Allah mengambilnya dari
kehidupan saya.