Tuesday, December 18, 2012

Kenangan Sahabat

Ia pergi saat berusia delapan belas tahun lebih dua minggu. Lepas setahun dari bilangan sweet seventeen. Kepergiannya menyisakan kesedihan dan rasa kehilangan yang luar biasa dalam diri saya. Kepergiannya mendadak seprti kepergian ribuan orang lainnya. Kepergiannya yang tak pernah saya sangka sebelumnya.
Saya mengenalinya setahun lalu. Tepatnya, saat Ia menjadi salah satu siswa tempat dimana saya mengajar. Praktisnya saya baru mengenalnya selama enam bulan. Mulanya, saya melihat dia, Ia adalah sosok yang biasa saja. Tak sesuatupun yang membuat Ia menjadi sosok yang lebih di mata saya. Dia pintar meski tidak pintar sekali. Dari segi fisik Ia kelihat lebih menojol dibandingkan yang lain walaupun jauh masih ada yang lebih cantik dari dia.
Lebih dari itu, siapa yang sanggup menghapus karisama yang dimiliki oleh seseorang. Ia mulai akrab dengan saya tepat sehari masa akhir belajar di bimbingan tersebut. Dan setelah itu, berlanjut dari hal lain. Sampai curhat-curhatnya mewarnai hubungan kami, ketika banyak senior yang ingin mengungkapkan rasa suka padanya. Dan semua itu Ia bagi kepada saya.
Selain itu cerita-cerita lain tersu saja mengalir, entah tentang kehidupannya, keluarganya atau yang lain. Dan sayapun sangat menimati cerita-ceritanya. Ia tipe oarng manja. Anehnya baru kali ini saya dapat akrab dengan orang manja. Tapi tidak dengan yang lain. Tentulah aneh jika saya mengingat semua ini.
Saya sungguh menikmati persahabatan dengannya yang terpaut tjuh tahun usia kami. Kehadirannya selama enam bulan itu menjadi luarbiasa. Tak pernah saya merasa menjadi orang yang begitu dimiliki. Pesan-pesan singkatnya yang saya terima darinya membuat Ia bukanlah adik kecil pada umumnya.
“Ass, kakak. Udah makan? Kakak sehatkan? Kakak masih kakak Ipahkan?”
Atau di lain waktu lewat smsnya:
“Kakak bolehkan Ipah jadi adik kakak?”
Hampir setiap malam saya mendapatkan sms darinya. Kehadiran pesan-pesannya itu membuat saya menjadi berarti dan begitu dicintai. Jarang bahkan hampir tak pernah saya menemui orang seperti dia. Perhatiannya itu membuat saya begitu bahagia. Saya benar-benar menjadi orang begitu dimiliki.
Sebuah kejadian kecil yang tak akan pernah saya lupakan, saat Ia membuka bungkusan kue dihadapan saya, bebberapa orang disekitar saya segera mengerumbungi kue itu. Saya terdiam tanpa mempedulikannya. Ia melihat adegan diam itu, cepat Ia berujar kakak cepat dimakan kuenya. Nanti keburu habis.”
Saya menggeleng tak apa. Karenapun saya sudah makan. Begitu kue itu tinggal sepotong, Ia pun kembali mengunkapkan khawatirannya, “Ayo, Kakak. Kuenya tinggal sepotong.”
Perhatian ‘kecilnya’ itu tak akan pernah saya lupakan. Begitu juga perhatianlain yang tersu menyusul.
Namun siapa sangka, bila saya tak diizinkan Tuhan untukmenikmati cinta dan perhatiannya lebih lama. Allah mengambilnya begitu cepat. Tepat sehari setelah saya menyerahkan kado ulang tahunnya yang pertama dan untuk yang terakhir kali. Tepat, ketika tsunami datang, Allah mengambilnya dari kehidupan saya.

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...