Tsunami
telah berlalu sejak tiga bulan yang lalu, namun efek-efek yang
ditinggalkan Tsunami jauh lebih dahsyat yang terasa dari Tsunami itu.
Bukan menganggap remeh atau mengecil Tsunami yang amat dahsyat pada
tangal 26 Desemeber tahun lalu. Begitulah kira-kiranya. Tsunami pergi
dengan meninggalkan jejak yang begitu mendalam bagi saja yang
mengalaminya. Kenangan itu akan terbawa sampai mati.
Karena
kepentingan organisasi dan lainnya, saya meminta seorang teman untuk
memasang iklan dengan satu tujuan untuk mendata anggota lama agar kami
tahu berapa anggota yang selamat. Kami kehilangan banyak anggota karena
Tsunami.
Beberapa
orang saja yang mendaftar. Entah karena belum kembali dari pengungsian
atau tidak membaca sama sekali iklan kami itu. Atau malah iseng-iseng
menanyakan apa aktivitas organisasi saya itu. Sebisanya saya membalas
sms itu dan menjelaskannya dengan baik.
Namun suatu hari saya menerima message
yang berbeda dari yang lain. Bukan mendaftar atau menanyakan apa
aktivitas organisasi saya itu.. Tapi menanyakan keberadaan apakah benar
saya orang yang dimaksudkannya.
Mulanya
saya cuek. Pastilah ini sms usil. Sedikit menyesali mengapa pesan yang
masuk hanya ke nomor kontak saya saja. Mengapa tidak nomor yang lain
juga?
Karena
saya mengacuhkan sms itu, mulai sering saya menerima miskol-miskol.
Mengapa tak menjawab pesannya itu. Lama kelamaan saya merasakan
kejengkelan yang amat sangat. Dengan sedikit “menghardiknya” melalui
sms, saya mengatakan keterusikan saya. Saya bukanlah orang yang dia
maksud. Kenapa? Kamu kehilangan pacar kamu waktu Tsunami ….bla…bla…
Ia
begitu marah karena saya mengatakannya demikian. Pada akhirnya, Ia mau
jujur juga menceritakan itu pada saya. Kisah yang akan Ia bawa seumur
hidupnya. Calonnya itu terpisah darinya tatkala air setinggi tujuh meter
itu menghantamnya. Apa boleh dikata Ia harus kehilangan calonnya itu
tepat dalam pandangannya.
Lewat
sms-smsnya itu Ia menjadikan saya orang sayangnya dalam bayangan. Ia
mencurahkan kasih sayangnya melalui pesan-pesannya itu. Sudah makan?
Sudah istirahat? Sudah…..? atau lagi ngapain? Lagi…..?
Hmmm…saya
terjebak lewat sms-smsnya. Bagaimana cara mengakhirinya. Sejak semula
saya tak berniat untuk menjalin pertemanan dengan dia. Bahkan jauh hari
sebelum saya sempat mereply pesan-pesannya, Ia sudah memanggil saya
dengan sebutan sayang. Wah…wah…kenapa seperti ini?
Ada
niat untuk bertemu dengannya menjelas keadaan sebenarnya. Pikiran itu
akhirnya surut. Takut tak bisa melepaskan diri dari “perangkapnya”,
(jangan-jangan malah saya yang terpesona:)), jadi saya membatalkan
pertemuan dengannya. Entah benar atau tidak tindakan saya, inilah
menurut saya yang paling aman dan nyaman.
Ia
marah, sedih dan mempertanyakan mengapa sikap saya seperti itu. Saya
harus bisa menjelaskan itu padanya. Dan memutuskan pertemanan sebelum
terjebak jauh. Saya tak ingin Ia menjadikan saya “sephia”. Ia harus tahu
kalau saya bukan orang yang dimaksudkannya.
Apa boleh buat saya harus berlalu dari hadapannya? Salahkah saya menurut anda?
Matang Seulimeng, 31 Maret 2005