Tuesday, December 18, 2012

Gara-gara Iklan

Tsunami telah berlalu sejak tiga bulan yang lalu, namun efek-efek yang ditinggalkan Tsunami jauh lebih dahsyat yang terasa dari Tsunami itu. Bukan menganggap remeh atau mengecil Tsunami yang amat dahsyat pada tangal 26 Desemeber tahun lalu. Begitulah kira-kiranya. Tsunami pergi dengan meninggalkan jejak yang begitu mendalam bagi saja yang mengalaminya. Kenangan itu akan terbawa sampai mati.
Karena kepentingan organisasi dan lainnya, saya meminta seorang teman untuk memasang iklan dengan satu tujuan untuk mendata anggota lama agar kami tahu berapa anggota yang selamat. Kami kehilangan banyak anggota karena Tsunami.
Beberapa orang saja yang mendaftar. Entah karena belum kembali dari pengungsian atau tidak membaca sama sekali iklan kami itu. Atau malah iseng-iseng menanyakan apa aktivitas organisasi saya itu. Sebisanya saya membalas sms itu dan menjelaskannya dengan baik.
Namun suatu hari saya menerima message yang berbeda dari yang lain. Bukan mendaftar atau menanyakan apa aktivitas organisasi saya itu.. Tapi menanyakan keberadaan apakah benar saya orang yang dimaksudkannya.
Mulanya saya cuek. Pastilah ini sms usil. Sedikit menyesali mengapa pesan yang masuk hanya ke nomor kontak saya saja. Mengapa tidak nomor yang lain juga?
Karena saya mengacuhkan sms itu, mulai sering saya menerima miskol-miskol. Mengapa tak menjawab pesannya itu. Lama kelamaan saya merasakan kejengkelan yang amat sangat. Dengan sedikit “menghardiknya” melalui sms, saya mengatakan keterusikan saya. Saya bukanlah orang yang dia maksud. Kenapa? Kamu kehilangan pacar kamu waktu Tsunami ….bla…bla…
Ia begitu marah karena saya mengatakannya demikian. Pada akhirnya, Ia mau jujur juga menceritakan itu pada saya. Kisah yang akan Ia bawa seumur hidupnya. Calonnya itu terpisah darinya tatkala air setinggi tujuh meter itu menghantamnya. Apa boleh dikata Ia harus kehilangan calonnya itu tepat dalam pandangannya.
Lewat sms-smsnya itu Ia menjadikan saya orang sayangnya dalam bayangan. Ia mencurahkan kasih sayangnya melalui pesan-pesannya itu. Sudah makan? Sudah istirahat? Sudah…..? atau lagi ngapain? Lagi…..?
Hmmm…saya terjebak lewat sms-smsnya. Bagaimana cara mengakhirinya. Sejak semula saya tak berniat untuk menjalin pertemanan dengan dia. Bahkan jauh hari sebelum saya sempat mereply pesan-pesannya, Ia sudah memanggil saya dengan sebutan sayang. Wah…wah…kenapa seperti ini?  
Ada niat untuk bertemu dengannya menjelas keadaan sebenarnya. Pikiran itu akhirnya surut. Takut tak bisa melepaskan diri dari “perangkapnya”, (jangan-jangan malah saya yang terpesona:)), jadi saya membatalkan pertemuan dengannya. Entah benar atau tidak tindakan saya, inilah menurut saya yang paling aman dan nyaman.
Ia marah, sedih dan mempertanyakan mengapa sikap saya seperti itu. Saya harus bisa menjelaskan itu padanya. Dan memutuskan pertemanan sebelum terjebak jauh. Saya tak ingin Ia menjadikan saya “sephia”. Ia harus tahu kalau saya bukan orang yang dimaksudkannya.
Apa boleh buat saya harus berlalu dari hadapannya? Salahkah saya menurut anda?
Matang Seulimeng, 31 Maret 2005

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...