Semalam telpon ke Aceh.
Dari
ujung seberang sana, si bungsu mengangkat telpon. Sebenarnya, tujuan
menelpon kali ini adalah untuk bertanya tentang sekolah mereka. Apalagi
tahun ini adik perempuan saya akan tamat sekolah menengah pertamannya.
Saya benar-benar takutJ,
soalnya berita banyaknya siswa yang tidak lulus setiap tahun, membuat
saya tidak tenang. Jangan-jangan adik saya………..ih serem deh.
“Adek, ngapain?”
Pengennya sih tanya langsung, “Lulus gak?” tapi ya itu. Takut aja he..........kalau-kalau.......
“Kak Intan, adek gak lulus.” Suara adik saya di ujung sana membuat saya, what? 

Bener gak?

Saya jadi ingat protes abangnya, adik cowok yang paling kecil, fachrul.
Sering
kali protes sama saya. Menurutnya, Adik perempuan saya jadi malas
belajar ya karena buku-buku cerita yang saya belikan untuk dia sejak Ia
sudah dapat membaca.
“Ya
gara-gara kak intan, selalu membelikan dia buku-buku cerita.” Si Abang
protes berat karena jika pelajaran matematika, adik perempuan saya akan
menanyakan atau minta Ia untuk menjelaskan kembali teori-teori
matematika pada dia.
Adik
perempuan saya pernah menangis, gara-gara si abang jual mahal, tidak
mau mengkoreksi pekerjaan rumah untuk pelajaran matematikanya. Pasalnya,
untuk pelajaran matematka, adik perempuan saya tidak percaya kecuali
sama abangnya itu.
Nah
kalau sang abang sudah mengkoreksi PR nya, baru dia tersenyum. Sang
abang begitu mudah mendapatkan nilai exacta yang begitu memuaskan, tidak
begitu dengan adik perempuan saya. Ia harus extra belajar untuk
pelajaran exacta.
“Makanya adek gak pintar. Sukanya baca buku cerita terus” Protes dia lagi.
Setiap
saya menelpon ke Aceh pasti saya mendengar cerita-cerita tentang adik
cowok saya tersebut protes untuk si Adik, menurutnya yang tidak rajin
belajar.
Saya sebagai pihak tertuduh he.....
mencoba untuk membela diri
.
mencoba untuk membela diri
.
“Tapi kemampuan bahasa adek bagus. Coba berapa kali adek ikut lomba story telling. Trus, tulisan adek udah pernah di muat untuk majalah nasional, ya kan?”
Dasar,
si abang yang tidak mau kalah, lah kalau begitu, juga bisa. Gemes
rasanya kalau sudah beragumen sama dia. Mau nya menang terus
he......repotkan?

“Yang benar, dek?”
“Gak kok.” Jelasnya sambil tertawa. Deu.........Alhamdulillah. Kalau gak deu kebayang gimana tahu dia gak lulus sekolah.

“Abang rangking satu.”
“Mana hadiahnya, kak intan?.” 

Deu....ini
yang repotnya jadi anak pertama. Adik-adik pada nodong. Nah giliran
untuk sang kakak. Mereka selalu berkilah “kami kan belum kerja.
Padahal Kakaknya belum kerja juga. Kasihan amit jadi kakak he..........
Brattleboro, June 24 2007