Tuesday, December 18, 2012

My Mom Will Cry

Waktu kecil saya suka kesal kalau orangtua saya sudah berteriak-teriak untuk menyuruh saya belajar menggaji. Bayangkan saya yang sedang asyik bermain, harus segera menuntaskan kegiatan yang paling saya cintai itu. Saya berharap Mami atau Papa akan lupa dengan jadwal belajar menggaji itu. Jika mereka lupa dan guru menggaji tidak datang maka saya akan melompat kegirangan.

Tapi jika orangtua tahu bahwa saatnya waktu menggaji, maka mereka lah yang jadi guru menggaji saya. Kalau orangtua jadi guru menggaji saya, maka saya harus benar-benar serius. Lebih serem gaya mengajarnya dibandingkan guru menggaji sendiri.

Itu dulu. Ketika saya masih kecil. Ketika benak kecil saya menggaji adalah kegiatan yang sangat tidak menyenangkan. Sekarang, apapun yang terjadi, kangen kampung halaman, kesandung persoalan apapun, maka reciting Quran adalah kegiatan salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan yang saya alami.

Jadi, saya merasa sangat beruntung bahwa belajar menggaji sejak saya masih sangat kecil. Setidaknya itu yang rasakan sekarang ini.

Seorang teman, my classmate, dari uzbezkiztan. Ia sangat berkeinginan itu membaca al-quran. Salahnya saya, saya baru tahun saat-saat terakhir menjelang aktivitas kampus berakhir. Sebelumnya dia pernah belajar menggaji dengan teman yang lain. Tapi karena sesuatu hal, kegiatan menggaji itu terhenti.  Seandainya, saya tahu, seharusnya, kegiatan ini dapat dimulai dari awal kuliah dulu.

Maka berbekal buku iqra yang diberikan teman, kami membuat kesepakatan untuk bertemu beberapa kali dalam seminggu. Ia bertekad, sebelum kepulangannya ke negaranya, Ia ingin sekali sudah dapat membaca Al-quran. Bahkan agar kemampuan membacanya  membaik, Ia mengambil kelas tambahan, bahasa Arab di kampus. Saya salut dengan niat belajarnya tersebut. Itu saya lihat.

Semua orang juga tahu apa yang terjadi disana, di Uzbekiztan. Ratusan tahun under occupation Rusia, di bawah komunis. Pemerintah melarang segala bentuk kegiatan agama. Tekanan ini membuat kehidupan agama di sana luntur secara perlahan. Padahal negara ini pernah melahirkan perawi hadis yang hebat, Imam Bukhari. Jajahan komunis “sukses” membuat penduduk merasa ketakutan untuk menerapkan agama di sana dan perlahan tidak memiliki agama.

Kini setelah komunis di sana runtuh, perlahan kegiatan Islam mulai bangkit kembali. Anak-anak kecil mulai belajar menggaji lagi. Masjid mulai berpenghuni. Tapi dasar pemerintahnya saja masih memiliki kekhawatiran, takut akan Islam Radikal bangkit. Mereka memiliki khawatiran akan bangkit kembali Islam di sana. Seorang teman yang lain, dari Uzbekiztan juga, Ia bercerita, mungkin hampir tidak ada pelajar lulusan dari Egypt sana. Wallahu’alam.    

Saya jadi ingat cerita teman saya yang belajar menggaji tersebut. Ketika kecil, Ia begitu malu ketika Ibunya menggaji dan suara bagus sang Ibu terdengar oleh teman yang datang ke rumahnya.
Kini, harapannya untuk membaca Quran, tumbuh. Ia ingin memberikan kejutan pada sang ibu ketika kembali ke uzbek.

Saya tersenyum. Berjanji untuk mengajarinya.

“My Mom will cry when She knows I can recite Quran.”

Chapin St, May 2007

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...