Tidurlah, Nak?
Siang sudah menutup pintunya
Sang Ibu bergegas merapikan tempat tidur
Sebuah dipan kayu
Dengan derit yang setia
Saat badan menjatuhkan diri
Sampai detik ini,
Tak juga Alga Ia miliki
Karena hidup ini tak mengizinkan dia
Meski untuk menyentuh lembutnya sang Alga
Apa yang kau baca, Nak?
Idealisme,
Juga logistik, Bu
Ia tak mendengar
Jawaban sang Anak,
Baginya menutup mata adalah kelegaan
Berharap malam memberitakannya
Tentang kabar gembira begitu Ia melihat matahari
Bu,
Masihkah ada sisa sarapan hari ini?
Perempuan itu hanya mengikatkan rapat kain pinggangnya
kasihan kamu, nak.
beras putih hanya cukup untuk makan siang,
berdoalah agar Umar menjunjungkan sekarat roti untuk mu
agar ibu tak menbuang waktu merebus batu demi menyenangkan hatimu
Mengapa Umar Ibu?
Sebab yang lain berkata
Menyuruh kita bersabar atas lapar
Saat mereka dalam kenyang
Sebab yang lain berkhutbah tentangg kita
Agar
Jangan bersedih
Saat mereka bahagia