Waktu
kecil saya suka kesal kalau orangtua saya sudah berteriak-teriak untuk
menyuruh saya belajar menggaji. Bayangkan saya yang sedang asyik
bermain, harus segera menuntaskan kegiatan yang paling saya cintai itu.
Saya berharap Mami atau Papa akan lupa dengan jadwal belajar menggaji
itu. Jika mereka lupa dan guru menggaji tidak datang maka saya akan
melompat kegirangan.
Tapi
jika orangtua tahu bahwa saatnya waktu menggaji, maka mereka lah yang
jadi guru menggaji saya. Kalau orangtua jadi guru menggaji saya, maka
saya harus benar-benar serius. Lebih serem gaya mengajarnya dibandingkan
guru menggaji sendiri.
Itu
dulu. Ketika saya masih kecil. Ketika benak kecil saya menggaji adalah
kegiatan yang sangat tidak menyenangkan. Sekarang, apapun yang terjadi,
kangen kampung halaman, kesandung persoalan apapun, maka reciting Quran adalah kegiatan salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan yang saya alami.
Jadi,
saya merasa sangat beruntung bahwa belajar menggaji sejak saya masih
sangat kecil. Setidaknya itu yang rasakan sekarang ini.
Seorang teman, my classmate,
dari uzbezkiztan. Ia sangat berkeinginan itu membaca al-quran. Salahnya
saya, saya baru tahun saat-saat terakhir menjelang aktivitas kampus
berakhir. Sebelumnya dia pernah belajar menggaji dengan teman yang lain.
Tapi karena sesuatu hal, kegiatan menggaji itu terhenti. Seandainya, saya tahu, seharusnya, kegiatan ini dapat dimulai dari awal kuliah dulu.
Maka
berbekal buku iqra yang diberikan teman, kami membuat kesepakatan untuk
bertemu beberapa kali dalam seminggu. Ia bertekad, sebelum
kepulangannya ke negaranya, Ia ingin sekali sudah dapat membaca
Al-quran. Bahkan agar kemampuan membacanya membaik, Ia mengambil kelas tambahan, bahasa Arab di kampus. Saya salut dengan niat belajarnya tersebut. Itu saya lihat.
Semua orang juga tahu apa yang terjadi disana, di Uzbekiztan. Ratusan tahun under occupation Rusia,
di bawah komunis. Pemerintah melarang segala bentuk kegiatan agama.
Tekanan ini membuat kehidupan agama di sana luntur secara perlahan.
Padahal negara ini pernah melahirkan perawi hadis yang hebat, Imam
Bukhari. Jajahan komunis “sukses” membuat penduduk merasa ketakutan
untuk menerapkan agama di sana dan perlahan tidak memiliki agama.
Kini
setelah komunis di sana runtuh, perlahan kegiatan Islam mulai bangkit
kembali. Anak-anak kecil mulai belajar menggaji lagi. Masjid mulai
berpenghuni. Tapi dasar pemerintahnya saja masih memiliki kekhawatiran,
takut akan Islam Radikal bangkit. Mereka memiliki khawatiran akan
bangkit kembali Islam di sana. Seorang teman yang lain, dari Uzbekiztan
juga, Ia bercerita, mungkin hampir tidak ada pelajar lulusan dari Egypt
sana. Wallahu’alam.
Saya
jadi ingat cerita teman saya yang belajar menggaji tersebut. Ketika
kecil, Ia begitu malu ketika Ibunya menggaji dan suara bagus sang Ibu
terdengar oleh teman yang datang ke rumahnya.
Kini, harapannya untuk membaca Quran, tumbuh. Ia ingin memberikan kejutan pada sang ibu ketika kembali ke uzbek.
Saya tersenyum. Berjanji untuk mengajarinya.
“My Mom will cry when She knows I can recite Quran.”