Monday, December 17, 2012

RUU APP versiku


Pornografi dan pornoaksi begitu marak dibicarakan. Beberapa khalayak menganggap bahwa ini adalah salah satu arabisasi Indonesia. Kendati pada dasarnya, pornografi dan pornoaksi bukanlah pada persoalan arabisasi tapi lebih pada persoalan untuk menjaga moral bangsa yang telah rusak. Begitu kata pihak yang menuntut rancangan ini untuk segera disahkan. Pihak lain, dengan mengatasnamakan seni, dan sebagian besar adalah pekerja seni, menganggap bahwa RUU anti pornografi dan pornoaksi adalah salah satu upaya untuk memasung kreatifitas. Dan dengan kerasnya mengatakan tolak RUU anti pornografi dan pornoaksi sebab RUU tersebut telah melakukan diskriminasi terhadap perempuan.
Saya masih teringat ketika Anjasmara dan Isabel Yahya menjadi model sebagai Adam dan Hawa dalam lukisan Di Taman Firdaus (Benar gak sih ini tema lukisannya, sorry frens kalau salah). Sekali lagi ini bukan pornografi tapi seni. Terang saja, pernyataan ini membuat berang FPI. Mereka meminta kedua model tersebut meminta maaf. Anjas melakukannya tapi tidak dengan Isabel. Menurut Isabel, Ia tak perlu minta maaf sebab Ia tak melakukan kesalahan. Sekali lagi, Ia melakukan ini atas nama seni. Katanya.
Mengapa harus Anjasmara dan Isabel yang menjadi Adam dan Hawa? Mengapa tak pilih saja Jaya Suprana dan Omas (ups, sorry untuk penggemar keduanya) untuk memerankan itu? Apakah lukisan itu akan masih bernilai seni atau lelucon? Lantas bagaimana standar seni itu? Hal ini sama saja seperti sebagian pekerja seni mempertanyakan; Bagaimanakah standar pornografi dan pornoaksi itu?
Persoalan pornografi dan pornoaksi akan terus bergulir. Sedangkan kita masih terbata mengeja kedua kata itu. Saya tak tahu dari sudut mana mereka menilai itu atas nama seni hingga melindas rasa malu yang telah diciptakanNya. Saya juga tak tahu bagaimana dasar mereka (Baca: DPR) merumuskan rancangan UU anti pornografi dan pornoaksi tersebut. Etika apa yang mereka gunakan? Atas nama menyelamatkan moral bangsa dengan bangga mereka menyusun itu RUU itu untuk kita, bangsa Indonesia.
Saya geli ketika mereka mampu menghitung logika mereka bahwa demi menyelamatkan moral bangsa mereka melakukan ini. Namun, tidakkah terpikirkan oleh para wakil rakyat itu, RUU seperti apa yang harus mereka susun untuk menyelamatkan moral para anggota DPR yang tidak pernah malu mengumumkan besar kenaikan gaji mereka setiap tahun. Saat rakyat harus menggemis sesuap nasi. Dan mereka membetulkan letak dasi mereka dengan rapi.
Mereka lupa seharusnya RUU aturan menjaga nafsu menaikan gaji mereka yang disusun terlebih dulu. Kelak, apapun yang disusunn dapat berjalan dengan baik.

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...