Pornografi
dan pornoaksi begitu marak dibicarakan. Beberapa khalayak menganggap
bahwa ini adalah salah satu arabisasi Indonesia. Kendati pada dasarnya,
pornografi dan pornoaksi bukanlah pada persoalan arabisasi tapi lebih
pada persoalan untuk menjaga moral bangsa yang telah rusak. Begitu kata
pihak yang menuntut rancangan ini untuk segera disahkan. Pihak lain,
dengan mengatasnamakan seni, dan sebagian besar adalah pekerja seni,
menganggap bahwa RUU anti pornografi dan pornoaksi adalah salah satu
upaya untuk memasung kreatifitas. Dan dengan kerasnya mengatakan tolak
RUU anti pornografi dan pornoaksi sebab RUU tersebut telah melakukan
diskriminasi terhadap perempuan.
Saya
masih teringat ketika Anjasmara dan Isabel Yahya menjadi model sebagai
Adam dan Hawa dalam lukisan Di Taman Firdaus (Benar gak sih ini tema
lukisannya, sorry frens kalau salah). Sekali lagi ini bukan pornografi
tapi seni. Terang saja, pernyataan ini membuat berang FPI. Mereka
meminta kedua model tersebut meminta maaf. Anjas melakukannya tapi tidak
dengan Isabel. Menurut Isabel, Ia tak perlu minta maaf sebab Ia tak
melakukan kesalahan. Sekali lagi, Ia melakukan ini atas nama seni.
Katanya.
Mengapa
harus Anjasmara dan Isabel yang menjadi Adam dan Hawa? Mengapa tak
pilih saja Jaya Suprana dan Omas (ups, sorry untuk penggemar keduanya)
untuk memerankan itu? Apakah lukisan itu akan masih bernilai seni atau
lelucon? Lantas bagaimana standar seni itu? Hal ini sama saja seperti
sebagian pekerja seni mempertanyakan; Bagaimanakah standar pornografi
dan pornoaksi itu?
Persoalan
pornografi dan pornoaksi akan terus bergulir. Sedangkan kita masih
terbata mengeja kedua kata itu. Saya tak tahu dari sudut mana mereka
menilai itu atas nama seni hingga melindas rasa malu yang telah
diciptakanNya. Saya juga tak tahu bagaimana dasar mereka (Baca: DPR)
merumuskan rancangan UU anti pornografi dan pornoaksi tersebut. Etika
apa yang mereka gunakan? Atas nama menyelamatkan moral bangsa dengan
bangga mereka menyusun itu RUU itu untuk kita, bangsa Indonesia.
Saya
geli ketika mereka mampu menghitung logika mereka bahwa demi
menyelamatkan moral bangsa mereka melakukan ini. Namun, tidakkah
terpikirkan oleh para wakil rakyat itu, RUU seperti apa yang harus
mereka susun untuk menyelamatkan moral para anggota DPR yang tidak
pernah malu mengumumkan besar kenaikan gaji mereka setiap tahun. Saat
rakyat harus menggemis sesuap nasi. Dan mereka membetulkan letak dasi
mereka dengan rapi.
Mereka
lupa seharusnya RUU aturan menjaga nafsu menaikan gaji mereka yang
disusun terlebih dulu. Kelak, apapun yang disusunn dapat berjalan dengan
baik. |
Monday, December 17, 2012
RUU APP versiku
Homedecor Ala Seri's Choice
Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...
-
Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...
-
Saya jadi ingat deskripsi diri di instagram 'A woman who loves to learn'. Saya tidak tahu pasti mengapa saya menuliskan...
-
Saya harus belajar mengelola emosi dalam membesarkan anak-anak. Meskipun bukan juga emak yang serem banget sama anak-anaknya. Terbukti k...