Hidup
selalu menawarkan pilihan tak terkecuali. Entah itu pilihan antara
sedih dan bahagia, suka dan duka, kecewa atau tidak. Semua ada. Bahkan
terkadang kegetiran hidup membuat banyak orang tak dapat membuat
pilihan. Semua telah ada yang menyodorkannya. Tak sedikitpun mereka
diberikan kesempatan untuk memilih. Dan mereka tetap menjalani hidup
dengan apa adanya tanpa banyak berkata. Bagi mereka, kata adalah diam
dan bicara adalah sesuap nasi.
Tiap
kali menyusuri jejak Salemba, saat kaki bergerak lincah demi sekedar
untuk tidak terkena apapun yang dapat mengotori, selalu ada saja ada
sisi kehidupan yang terpotret oleh dua mata ini.
Kaki
saya menghindar karena saya masih punya pilihan agar kotoran yang
bertebaran di jalan tidak menyentuh kaki. Dan lagi saya masih punya
pilihan untuk mencari alternatif lain agar perjalanann yang saya lakukan
tetap aman. Atau sesekali lisan saya berujar, “Permisi” Selalu ada
tempat yang mereka berikan agar perjalanan kecil saya tetap aman. Bahkan
kerap kali sapaan Assalamu’alaikum saya terima dari orang yang tak saya
kenal. Sebisa mungkin saya membalas walau terkadang luput oleh saya
untuk menjawab. Selama saya mendengar, selama itu saya menjawab. Asal
pemberi salam tidak berkomentar, “Assalamu’alaikum. Kalau gak dijawab
dosa. Kalau dijawab jatuh cinta. Gubrak!
Ah
mereka, orang-orang yang saya temui di tepian jalanan Salemba selalu
tersenyumm menikamati hari. Meski terkadang rasa itu tak seperti yang
mereka inginkan. Mereka tetap tersenyum. Dengan dagangan di pundak,
menahan beban hidup yang tak terkira, mereka menawar dagangan mereka
dalam terik matahari yang menyengat.
Mereka
seperti tak punya pilihan lain. Keadaan yang telah mengantarkan mereka
menggeluti hingga puluhan tahun yang lalu. Mereka seperti memiliki
lumbung energi dan semangat untuk melakukan yang tak mereka inginkan
dengan senang hati.
Dan mereka melakukannya dengan senyuman tanpa keluh kesah yg berkepanjangan.
Bagaimana
dengan kita? Mampukah melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan dengan
senyuman? Padahal itu adalah pilihan kesekaliannya. Tetap saja mulut
tak mampu mengunci keluh kesah itu dengan sempurna.
Mereka
tak pernah kenal dengan jenuh. Mereka tak pernah berkawan dengan lelah.
Hidup tak memberikan jeda pada mereka untuk melakukan semua itu meski
sesaat.
Bagaimana
dengan kita? Jenuh, Bosan begitu mengakrabi dengan kita. Padahal kita
masih banyak kesempatan untuk melakukan alternatif yang lain.
Kita
perlu belajar dari mereka, kaum yang dianggap marginal itu. Bisakah
kita seperti mereka bila hidup menyodorkan pilihan yang tak seperti yang
kita harapkan?