Monday, December 17, 2012

Mereka Melakukan Itu Dengan Senyum

Hidup selalu menawarkan pilihan tak terkecuali. Entah itu pilihan antara sedih dan bahagia, suka dan duka, kecewa atau tidak. Semua ada. Bahkan terkadang kegetiran hidup membuat banyak orang tak dapat membuat pilihan. Semua telah ada yang menyodorkannya. Tak sedikitpun mereka diberikan kesempatan untuk memilih. Dan mereka tetap menjalani hidup dengan apa adanya tanpa banyak berkata. Bagi mereka, kata adalah diam dan bicara adalah sesuap nasi.
Tiap kali menyusuri jejak Salemba, saat kaki bergerak lincah demi sekedar untuk tidak terkena apapun yang dapat mengotori, selalu ada saja ada sisi kehidupan yang terpotret oleh dua mata ini.
Kaki saya menghindar karena saya masih punya pilihan agar kotoran yang bertebaran di jalan tidak menyentuh kaki. Dan lagi saya masih punya pilihan untuk mencari alternatif lain agar perjalanann yang saya lakukan tetap aman. Atau sesekali lisan saya berujar, “Permisi” Selalu ada tempat yang mereka berikan agar perjalanan kecil saya tetap aman. Bahkan kerap kali sapaan Assalamu’alaikum saya terima dari orang yang tak saya kenal. Sebisa mungkin saya membalas walau terkadang luput oleh saya untuk menjawab. Selama saya mendengar, selama itu saya menjawab. Asal pemberi salam tidak berkomentar, “Assalamu’alaikum. Kalau gak dijawab dosa. Kalau dijawab jatuh cinta. Gubrak!
Ah mereka, orang-orang yang saya temui di tepian jalanan Salemba selalu tersenyumm menikamati hari. Meski terkadang rasa itu tak seperti yang mereka inginkan. Mereka tetap tersenyum. Dengan dagangan di pundak, menahan beban hidup yang tak terkira, mereka menawar dagangan mereka dalam terik matahari yang menyengat.
Mereka seperti tak punya pilihan lain. Keadaan yang telah mengantarkan mereka menggeluti hingga puluhan tahun yang lalu. Mereka seperti memiliki lumbung energi dan semangat untuk melakukan yang tak mereka inginkan dengan senang hati.
Dan mereka melakukannya dengan senyuman tanpa keluh kesah yg berkepanjangan.
Bagaimana dengan kita? Mampukah melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan dengan senyuman? Padahal itu adalah pilihan kesekaliannya. Tetap saja mulut tak mampu mengunci keluh kesah itu dengan sempurna.
Mereka tak pernah kenal dengan jenuh. Mereka tak pernah berkawan dengan lelah. Hidup tak memberikan jeda pada mereka untuk melakukan semua itu meski sesaat.
Bagaimana dengan kita? Jenuh, Bosan begitu mengakrabi dengan kita. Padahal kita masih banyak kesempatan untuk melakukan alternatif yang lain.
Kita perlu belajar dari mereka, kaum yang dianggap marginal itu. Bisakah kita seperti mereka bila hidup menyodorkan pilihan yang tak seperti yang kita harapkan?

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...