Saya membaca status seorang Ibu di facebook. Dia
menceritakan tentang sepatu yang dipakai anaknya, dibeli dengan harga 100.000 itu diinjak-injak
oleh temannya. Menurut teman sang anak sepatunya itu palsu bukan yang asli
sebab temannya itu punya sepatu asli yang berasal dari Singapura.
Tidak saja berduka karena itu, sekolah tempat anaknya
belajar mengutip uang wisuda per anak sebesar 2 juta. Ibu tersebut
mengungkapkan keberatannya kepada pihak sekolah ternyata ditolak sebab hampir
semua orangtua setuju mengadakan perpisahan di hotel, padahal aula sekolah
cukup besar untuk menampung 500 orang.
Akibat membaca status tersebut, saya melihat diri saya dan
orang-orang di sekitar saya. Ternyata gejala membeli sesuatu karena merek yang
bagus tidak saja terjadi di kota besar, namun perlahan masuk ke kota kecil
bahkan di desa-desa.
Salah….? Tidak…masalahnya ketika ini menjadi gejala yang
memprihatinkan tumbuh di sekitar kita.
Di kampus tempat saya mengajar, saya suka mengamati perilaku
mahasiswa yang menganggap dirinya miskin terutama pada saat mengajukan
beasiswa. Benar mereka miskin tapi….
Melihat segala atribut yang dikenakan rasanya membuat kening
saya menciut.
“Memangnya kenapa
kalau miskin…gak boleh pakai BB? Gak boleh pakai baju bagus?”
Sering kali kita
gagal paham dalam menilai pantas atau tidak untuk memiliki sesuatu. Kalau
memang orang miskin tentu banyak hal yang harus dipenuhi agar tidak masuk dalam
kategori miskin. Apa iya BB, baju dan benda bagus lainnya menjadi urutan
pertama dalam memenuhi kebutuhan hidup?
Konsep menabung
memang tidak tumbuh dengan baik di sekitar kita. Boleh jadi orangtua yang tidak
mengajarkan untuk itu, atau setelah diajarkan justru terjebak dengan gaya hidup
ikut-ikutan orang yang di sekitarnya.
Kata Hemat
Pangkal Kaya....masih ingat gak ya pribahasa ini?