Monday, May 12, 2014

Gara-Gara Baca Status Kawan



Saya membaca status seorang Ibu di facebook. Dia menceritakan tentang sepatu yang dipakai anaknya,  dibeli dengan harga 100.000 itu diinjak-injak oleh temannya. Menurut teman sang anak sepatunya itu palsu bukan yang asli sebab temannya itu punya sepatu asli yang berasal dari Singapura. 

Tidak saja berduka karena itu, sekolah tempat anaknya belajar mengutip uang wisuda per anak sebesar 2 juta. Ibu tersebut mengungkapkan keberatannya kepada pihak sekolah ternyata ditolak sebab hampir semua orangtua setuju mengadakan perpisahan di hotel, padahal aula sekolah cukup besar untuk menampung 500 orang. 

Akibat membaca status tersebut, saya melihat diri saya dan orang-orang di sekitar saya. Ternyata gejala membeli sesuatu karena merek yang bagus tidak saja terjadi di kota besar, namun perlahan masuk ke kota kecil bahkan di desa-desa. 

Salah….? Tidak…masalahnya ketika ini menjadi gejala yang memprihatinkan tumbuh di sekitar kita.
Di kampus tempat saya mengajar, saya suka mengamati perilaku mahasiswa yang menganggap dirinya miskin terutama pada saat mengajukan beasiswa. Benar mereka miskin tapi….

Melihat segala atribut yang dikenakan rasanya membuat kening saya menciut. 

“Memangnya kenapa kalau miskin…gak boleh pakai BB? Gak boleh pakai baju bagus?”

Sering kali kita gagal paham dalam menilai pantas atau tidak untuk memiliki sesuatu. Kalau memang orang miskin tentu banyak hal yang harus dipenuhi agar tidak masuk dalam kategori miskin. Apa iya BB, baju dan benda bagus lainnya menjadi urutan pertama dalam memenuhi kebutuhan hidup? 

Konsep menabung memang tidak tumbuh dengan baik di sekitar kita. Boleh jadi orangtua yang tidak mengajarkan untuk itu, atau setelah diajarkan justru terjebak dengan gaya hidup ikut-ikutan orang yang di sekitarnya.  

Kata Hemat Pangkal Kaya....masih ingat gak ya pribahasa ini?

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...