Suatu hari seorang adik kelas saya pernah bertanya pada saya
berapa usia saya ketika menikah dulu. Hampir 33 tahun. Ia tersenyum.
“Kenapa?”
“Lagi mikir tentang usia ya?”
Dia tersenyum lagi. Tebakan saya betul.
“Berapa usia sekarang?”
“29 Tahun.”
Dia sedang memikirkan sesuatu.
Saya bisa memprediksikan ke arah mana pikirannya. Sekarang usianya
29 tahun. Dan dia belum menikah. Seperti saya dulu. Jika menikah di usia saya,
Insya Allah menurutnya dia masih punya kesempatan untuk memiliki punya anak.
Saya tahu dia risau. Di usia menjelang kepala tiga belum ada
bayangan siapa kelak akan menjadi calon suaminya. Apalagi Ia kemungkinan besar
akan dilangkahi oleh adik laki-lakinya. Ketakutan datang meyelinap. Mengingat orang-orang
di sekitarnya semakin mengusik dia karena usia segitu seharusnya dia sudah menikah
atau setidaknya memiliki calon pendamping.
Saya bisa merasakan seperti apa yang dirasakannya. Orang-orang
di sekeliling begitu menganggu. Menghujani kita pertanyaan yang si penjawab
tidak tahu bagaimana menjelaskan semua itu. Kondisi itu tentu saya menerbitkan
rasa yang tidak nyaman.
Sebisa mungkin kita menjawab dengan sopan atau berlalu
dengan diam menerima pertanyaan itu. Kadang saya merasakan betapa kejamnya
orang-orang di sekitar perempuan yang belum menikah. Kenapa ketidaknyamanan
dengan kondisi belum menikah sering dipandang remeh dengan orang-orang yang
sudah menikah. Padahal kehidupan mereka belum tentu lebih baik ketika menikah
itu.
Kenapa tidak mendoakan saja atau membantukan mencarikan
jodoh untuk mereka dengan cara yang ma’ruf. Cara yang disenangi oleh orang yang
belum menikah itu. Bukan sembarangan memperkenalkan seseorang dengan cara
semakin yang tidak nyaman.
Saya bahkan pernah menerima komentar ini dari seoran Ibu
teman,”Kasihan. Pulang dari Amerika belum menikah.”
See….lihatlah bagaimana mereka berkomentar.