Note: Tulisan ini hanya untuk merefleksikan pemahaman kita
soal miskin dan kaya bukan untuk memandang rendah siapa saja yang sedang dalam
belitan ekonomi
Setiap kali saya menerima surat non-aktif perkuliahan, saya
selalu bertanya mengapa mengambil non aktif. Mayoritas menjawab tidak ada dana
kuliah. Selain karena alasan sakit, hamil atau menikah . Saya paham mayoritas
mahasiswa kita berasal dari kelas menengah ke bawah.. Kerapkali saya bertanya
biasanya siapa yang menanggung kuliah. Umumnya menjawab diri sendiri atau
orangtua.
“Kerja selama
ini?”
“Iya bu.”
“Kenapa gak kerja
lagi di situ?”
“Capek, Bu.”
“Oh...”
“Mau kerja di
sini atau di situ?” Gak bu. Mau nya kerja di cafe.” (Padahal ada juga yang
mengundurkan diri dari kerja di cafe atau warung kopi karena capek).
Maka inilah
menjadi pertanyaan saya. Lalu dimana niat sungguh-sungguh untuk kuliah kalau
kerja keras atau sedikit lebih capek kerja di tempat itu ditinggalkan.
Ah Ibu bicara
seperti itu karena Ibu tidak mengalaminya. Betul!!! Saya tidak bekerja kalaupun
saya bekerja bukan secara khusus untuk menutupi biaya hidup.
Lantas mengapa
harus mencontoh saya? Kenapa tidak melihat orang lain.
Ketika saya
kuliah dulu, saya kenal beberapa orang teman yang kuliah berada dalam himpitan
ekonomi. Tapi mereka tumbuh sebagai sosok yang kuat, mandiri dan tegar.
Mereka berjualan
apa saja selama itu halal. Dari yang menjual pulpen snowman yang dibelinya
perkotak dan kemudian menjual ke teman-teman di kuliah. Menjual kacang dll.
Dan bahkan ada
yang membuka rantangan sesama mereka. Sedangkan yang mengantar rantangan
tersebut seorang cowok. Dan dia mendapatkan gratis makan setiap bulannya.
Saya sendiri agar
uang bulanan yang bertaraf CUKUP, mensiasatinya dengan masak bergiliran dengan
teman-teman. Jadi kita piket untuk masak. Ternyata cukup banyak menghemat uang
kita. Sampai kita menambahkan tepung ketika menggoreng telur agar tebal J . Dan lain-lain. Selama perkuliahan saya
tidak pernah mendapatkan beasiswa. See.....
Meski saya tidak
bekerja khusus untuk membiayai kuliah saya, saya jua tidak seenaknya
menggunakan uang kiriman orangtua. Saya tidak menggunakan uang kuliah untuk
beli baju atau jilbab dll. Saya menabung
untuk perkiraan 3 bulan ke depan. Kalau-kalau terjadi apa-apa dengan orangtua
saya, saya mempunyai uang untuk bertahan sementara. Selain itu uang itu juga
untuk berjaga-jaga kalau orangtua saya terlambat mengirim membayar uang spp
untuk saya. Karena saat bersamaan saya kuliah di waktu yang berdekatan dengan
adik-adik.
Makanya saya
sangat sangat sangat sedih dan kecewa ketika uang beasiswa yang diterima untuk
menambah koleksi baju, ganti HP, beli pulsa diluar kapasitas kemampuan karena
sibuk dengan ber –sms-an ria tentang hal-hal yang tidak penting. Bukan murni untuk uang yang mendukung
perkuliahan.
Saya, anda, kita
semua menghadapi persoalan berbeda-beda. Jangan lihat orang pada
puncaknya. Tapi lihatlah bagaimana proses itu mereka lalui.
Maka saran saya, JIKA ANDA HARUS TERPAKSA BERJUANG UANG
UNTUK MEMBIAYAI KULIAH ATAU MENGHADAPI BELITAN EKONOMI;
Hadapi dengan
berdoa. Mungkin Allah sedang mengangkat derajat kalian untuk membuat kalian
menjadi pribadi yang kuat.
Untuk hal-hal dunia pandanglah itu ke bawah. Jika untuk
akhirat pandanglah itu ke atas. Banyak orang yang sulit di awal ternyata mereka
menjadi PRIBADI YANG LUAR BIASA. Jangan pandang kesuksesan selalu dengan harta.
Tidak sedikit orang hancur karena harta pula.
Ayo bangkit untuk masa depan yang kalian impikan. Kalau anda
ingin menuju garis yang sudah ada inginkan, bergeraklah bagaimanapun sulitnya.
Karena manis itu tidak didapat dari gula yang tidak diolah.
Tulis impian itu, Saya Pecaya anda bisa. DREAM, BELIEVE and
DO!!!!!