Thursday, October 09, 2014

Bu, Saya Miskin




Note: Tulisan ini hanya untuk merefleksikan pemahaman kita soal miskin dan kaya bukan untuk memandang rendah siapa saja yang sedang dalam belitan ekonomi

Setiap kali saya menerima surat non-aktif perkuliahan, saya selalu bertanya mengapa mengambil non aktif. Mayoritas menjawab tidak ada dana kuliah. Selain karena alasan sakit, hamil atau menikah . Saya paham mayoritas mahasiswa kita berasal dari kelas menengah ke bawah.. Kerapkali saya bertanya biasanya siapa yang menanggung kuliah. Umumnya menjawab diri sendiri atau orangtua.
“Kerja selama ini?”
“Iya bu.”
“Kenapa gak kerja lagi di situ?”
“Capek, Bu.”
“Oh...”
“Mau kerja di sini atau di situ?” Gak bu. Mau nya kerja di cafe.” (Padahal ada juga yang mengundurkan diri dari kerja di cafe atau warung kopi karena capek).
Maka inilah menjadi pertanyaan saya. Lalu dimana niat sungguh-sungguh untuk kuliah kalau kerja keras atau sedikit lebih capek kerja di tempat itu ditinggalkan.
Ah Ibu bicara seperti itu karena Ibu tidak mengalaminya. Betul!!! Saya tidak bekerja kalaupun saya bekerja bukan secara khusus untuk menutupi biaya hidup.
Lantas mengapa harus mencontoh saya? Kenapa tidak melihat orang lain.
Ketika saya kuliah dulu, saya kenal beberapa orang teman yang kuliah berada dalam himpitan ekonomi. Tapi mereka tumbuh sebagai sosok yang kuat, mandiri dan tegar.
Mereka berjualan apa saja selama itu halal. Dari yang menjual pulpen snowman yang dibelinya perkotak dan kemudian menjual ke teman-teman di kuliah. Menjual kacang dll.
Dan bahkan ada yang membuka rantangan sesama mereka. Sedangkan yang mengantar rantangan tersebut seorang cowok. Dan dia mendapatkan gratis makan setiap bulannya.
Saya sendiri agar uang bulanan yang bertaraf CUKUP, mensiasatinya dengan masak bergiliran dengan teman-teman. Jadi kita piket untuk masak. Ternyata cukup banyak menghemat uang kita. Sampai kita menambahkan tepung ketika menggoreng telur agar tebal J . Dan lain-lain. Selama perkuliahan saya tidak pernah mendapatkan beasiswa. See.....
Meski saya tidak bekerja khusus untuk membiayai kuliah saya, saya jua tidak seenaknya menggunakan uang kiriman orangtua. Saya tidak menggunakan uang kuliah untuk beli baju atau jilbab dll.  Saya menabung untuk perkiraan 3 bulan ke depan. Kalau-kalau terjadi apa-apa dengan orangtua saya, saya mempunyai uang untuk bertahan sementara. Selain itu uang itu juga untuk berjaga-jaga kalau orangtua saya terlambat mengirim membayar uang spp untuk saya. Karena saat bersamaan saya kuliah di waktu yang berdekatan dengan adik-adik.
Makanya saya sangat sangat sangat sedih dan kecewa ketika uang beasiswa yang diterima untuk menambah koleksi baju, ganti HP, beli pulsa diluar kapasitas kemampuan karena sibuk dengan ber –sms-an ria tentang hal-hal yang tidak penting.  Bukan murni untuk uang yang mendukung perkuliahan.
Saya, anda, kita semua menghadapi persoalan berbeda-beda. Jangan lihat orang pada puncaknya. Tapi lihatlah bagaimana proses itu mereka lalui.
Maka saran saya, JIKA ANDA HARUS TERPAKSA BERJUANG UANG UNTUK MEMBIAYAI KULIAH ATAU MENGHADAPI BELITAN EKONOMI;
Hadapi dengan berdoa. Mungkin Allah sedang mengangkat derajat kalian untuk membuat kalian menjadi pribadi yang kuat.
Untuk hal-hal dunia pandanglah itu ke bawah. Jika untuk akhirat pandanglah itu ke atas. Banyak orang yang sulit di awal ternyata mereka menjadi PRIBADI YANG LUAR BIASA. Jangan pandang kesuksesan selalu dengan harta. Tidak sedikit orang hancur karena harta pula.
Ayo bangkit untuk masa depan yang kalian impikan. Kalau anda ingin menuju garis yang sudah ada inginkan, bergeraklah bagaimanapun sulitnya. Karena manis itu tidak didapat dari gula yang tidak diolah.
Tulis impian itu, Saya Pecaya anda bisa. DREAM, BELIEVE and DO!!!!!

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...