“Pasti uangnya banyak.”
Bagian ini saya akan gigit cari. Soalnya ini yang gak betul.
Suami sebelum menikah sudah mengambil kredit di bank. Otomatis sumber keuangan
sudah berbeda. Kami berdua PNS. Saya percaya dari Sabang sampai Meureuke orang
tahu berapa sebenarnya gaji PNS dengan golongan yang kami miliki yang bekerja
di sebuah instansi pemerintahan. Lalu apa yang membuat buku Daanish banyak?
Atau banyak itu hanya menurut orang-orang tertentu saja.
Saya dan suami adalah orang yang gila ketika melihat
buku-buku baru. Bahkan godaan untuk membeli buku tidak bisa ditahan. Saya
belajar keras mengelola keuangan bahwa hobi membeli buku demi memenuhi hasrat
membaca jangan sampai menganggu pengeluaran kami sehari-hari mengingat pendapat
kami juga tidak seperti banyak orang yang punya banyak sumber penghasilan.
Pendapatan kami hanya dari gaji bulanan sebagai abdi negara.
Begitu Daanish lahir di kehidupan kami, maka saya jadi
kerajinan mencari pernak-pernik yang lucu-lucu untuk Daanish, termasuk buku di
dalamnya. Saya mulai mengikuti arisan buku dan akhirnya membawa saya menjadi
Book Advisor.
Dulu ketika saya kuliah di luar, saya juga suka beli
pernak-pernik yang lucu-lucu. Dari
mobil, boneka, dan buku-buku anak, pembatas buku, kartu dan lain-lain. Saya
sampai bingung mau kemana saya bawakan benda-benda itu kalau saya belum punya
anak. Saya hanya menyimpan saja. Sempat saya melihat di status facebook
untuk mengikuti arisan buku. Lah saya sendiri belum punya anak. Menikah saja
belum. Jadi untuk yang ini, saya gak maksakan diri he…
Kembali soal buku. Kami ingin anak kami mencintai buku. Sama
seperti orangtua. Sama seperti yang diajarkan Quran bahwa membaca adalah hal
yang pertama dihidupkan dalam keluarga. Untuk saat ini, saya tidak mengajarkan
anak-anak saya membaca tapi saya hanya mengajarkan agar anak kami gemar dengan
kegiatan membaca buku ini.
Ketika banyak orangtua begitu mudah meghadiahkan gadget
kepada anak-anaknya, maaf, kami keberatan untuk benda itu akrab dengan buah
hati kami. Tentu saja itu menganggu tumbuh kembang anak kami. Saya tidak ingin
bercerita banyak soal ini. Karena pakar tumbuh kembang anak sudah mengupas
bahaya gadget ini untuk anak-anak.
Sampai ini saya tetap mengagendakan bahwa menghadiahkan anak
dengan buku adalah hal yang wajib. Seiring dengan pertumbuhan, tentu mereka
mulai memilih buku mana yang mereka sukai. Itu ini saya akan mengarahkan saja
kelebihan dan kekurangan buku tersebut.
Saya tidak ingin menjadi orangtua yang merasa keberatan
untuk membeli buku pada anak. Di
saat yang sama, orangtua banyak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak
berguna dan tidak memberikan manfaat.
Saya ingin buku
menjadi koleksi kami, bukan berupa tas atau baju branded, produk rumah tangga
dan lain-lainnya. Kami ingin hidup anak kami sederhana. Maka dengan buku kami
memulai semuanya. Semoga apa yang kami cita-citakan bisa dirasakan oleh buah
hati kami dan juga memberikan efek untuk lingkungan sekitar.
Sampai saat ini,
saya masih ingin menambah koleksi buku, membuat reading corner yang nyaman,
tentu saja mengajak orang-orang di sekitar lingkungan untuk keranjingan membaca
buku. Dan itu harus dimulai dari koleksi buku kami.
Meski saya tidak
bisa memberikan hadiah yang mewah dan indah, semoga saja buku yang kami berikan
menjadi hadiah yang mewah dan indah untuk Daanish dan Rumaisha.
We don’t have Ferrari but we have library.