Monday, August 03, 2015

Dari Negeri Green Mountain State


16 Juni 2007 yang lalu tepat setahun saya berada di Amerika Serikat. Kedatangan saya ke negeri Paman Sam ini dalam rangka melanjutkan studi S2 saya di School for Internatinal Training, Brattleboro, Vermont yang di sponsori oleh Ford Foundation untuk dua tahun program master. Berikut sebagian catatan perjalanan selama setahun di sana. Semoga bermanfaat.

Menuju Negeri Paman Sam
Saat persiapan keberangkatan, saya telah menyiapkan makanan atau roti yang kira-kira diizinkan untuk dibawa ke dalam pesawat. Saya hanya khawatir di dalam pesawat tidak mendapatkan makanan halal. Dari bandara Soekarno Hatta hingga ke bandara Narita, Jepang, saya masih mendapatkan makanan yang halal. Sedangkan dari Jepang ke Amerika, tentu saja sulit memperoleh makanan halal. Sedikit memudahkan jika ada persediaan makanan para vegetarian. Karena itu, persiapan makanan yang saya bawa sedikit membantu dan menggurang rasa lapar selama dalam pesawat.
Kota pertama yang saya singgahi adalah Northampton, saya harus mengikuti pre-academic training di kota tersebut. Kota ini terkenal sebagai salah satu kota yang sangat welcome dengan hubungan sesama jenis. Kota ini juga memiliki College yang hanya dikhusus bagi perempuan yaitu Smith College.

Green Mountain State
Sebelum keberangkatan, saya mendapatkan informasi bahwa kota yang akan saya tinggal nantinya adalah Brattleboro, Vermont. Sedikitpun tidak ada informasi tentang state yang memiliki the smallest capital state (ibukota yang terkecil) di Amerika. Bahkan saya sempat bingung adakah state di Amerika yang bernama Vermont?
Ternyata, Vermont dikenal dengan penggunungannya Amerika. Kota yang langsung berbatasan dengan Quebec, Kanada. Keindahan alamnya tergambar sempurna pada musim gugur (fall) dan salju (winter). Bahkan di tahun 1987, pernah mengalami dua musim secara bersamaan yaitu musim fall dan musim salju. Sesuatu yang menarik bagi saya adalah ketika mengunjungi ibukota dari Vermont State, yaitu Montpelier. Montpelier adalah ibukota state yang paling kecil di bilangan state lainnya. Selain itu, State ini merupakan salah satu state yang memiliki pajak tertinggi di USA (rangking ke 14).
Di tahun pertama saya di sana, saya tinggal dengan dua orang pelajar Amerika. Jadilah kami bertiga menempati apartemen di lantai tiga itu. Yang mengagetkan saya adalah ketika saya mengetahui bahwa salah satu dari house mate saya itu adalah orang Yahudi. Begitu saya mengetahui teman saya tersebut adalah Yahudi, langsung pikiran saya melayang ke Palestina sana. Apa yang terjadi di sana begitu terpetakan dengan baik. Lalu teman saya tersebut melanjutkan ceritanya bahwa Ia bukan lah seorang Yahudi yang religius. Ia tidak dibesarkan dari keluarga yang religius.
Sedangkan teman apartemen yang lain adalah seorang katholik. Ia pernah menetap di Kuwait ketika masa kecil dan pernah menetap di Maroko selama dua tahun. Jadi, Sedikitnya Ia tahu banyak bagaimana Muslim menjalani kehidupan sehari-hari. Setahun saya tinggal bersama mereka. Meski saya berbeda dalam banyak hal dengan mereka, Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu yang saya bayangkan sebelumnya.:)
Bergaul dengan mahasiswa Amerika
Karena terbilang kecil Kampus School for International Training, hubungan saya sesama students khususnya dengan American Students sangat dekat. Hal ini juga diamini oleh teman-teman yang lain. Belum lagi ditunjang suasana kota Brattleboro yang nyaman. Saya sering mendapat sapaan ramah dari orang-orang yang berpapasan dengan saya di jalan. Atau bahkan ketika saya sedang berbelanja di market terdekat dan saya kebingungan mencari produk yang saya inginkan, selalu saja ada tawaran baik dari orang-orang yang kebetulan berbelanja, yang ingin menolong saya untuk mendapat sesuatu yang saya inginkan. Mudah-mudahan hal ini berlangsung sampai saya menamatkan studi nantinya.
Kendati demikian, tidak sedikit pertanyaan yang ditanyakan oleh teman-teman Amerika. Misalnya mengapa hanya perempuan saya yang pakai jilbab dan mengapa lelaki tidak? Atau seorang teman yang berasal dari Alaska menanyakan kepada saya, Apakah kamu yakin perempuan yang memakai Jilbab juga tidak akan meminum-minum Alkohol? Mereka juga menanyakan mengapa muslim kuat berpuasa dan sepertinya tidak bermasalah. Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang aneh dan menantang yang saya terima dari mereka.
Sebuah pertanyaan yang ditanyakan oleh seorang teman yang kuliah di jurusan conflict transformation, dan pernah kuliah di jurusan teologi kristen. Ia bercerita, coba kamu tanya sama orang Amerika, apa arti madrasah bagi mereka? Menurutnya, hanya ada dua jawaban. Jawaban pertama mereka tidak tahu dan jawaban kedua yang mengagetkan saya yaitu madrasah adalah kamp konsentrasi atau kamp pembunuhan. Saya menganggap jawab kedua adalah karena pengaruh media massa yang begitu kuat. Apalagi ketika Barak Obama yang (akan) dicalon sebagai calon presiden As yang akan datang pernah sekolah di Indonesia, yang dianggap bahwa sekolah tempatnya dulu adalah sekolah sebagai pencetak teroris. Ehm...
Selain itu, banyak juga dari mereka yang tahu akan persoalan-persoalan yang terjadi di Aceh dan menanyakan sedikit banyaknya tentang Aceh. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada saya dan itu sangat menantang.

Bagaimana dengan Busana Muslimah?
Lantas, anehkah ketika mereka melihat busana muslimah yang saya kenakan?
Suatu hari seorang anak kecil yang saya temui di supermarket memanggil saya dengan sebut Miss. Beutiful. Ia tersenyum melihat saya. Saya pun mengucapkan terima kasih padanya meski dalam hati saya begitu geli dengan sebutan tersebut. Lain lagi cerita dari sebuah farewell party (pesta perpisahan), seorang little boy terus menerus memperhatikan saya. Seorang teman Amerika mengenalkan Ia pada saya. Akhir perkenalan itu, Ia mengatakan sesuatu sambil melihat saya dari ujung kepala hingga kaki. Katanya I love your clothes. Saya merasa “tersanjung” dengan pujian si kecil itu. Saya berharap akan banyak orang lain yang menyukai busana Muslimah, khususnya orang Islam itu sendiri.
Saya sering melihat anak-anak kecil yang berpapasan dengan saya memandang saya dengan penuh keheranan. Bahkan terkadang mereka menunda untuk berjalan hanya untuk memperhatikan apa yang saya kenakan. Pernah suatu hari seorang kecil yang sedang berjalan dengan Ibunya, Ia menanyakan mengapa mereka (saya dan teman) mengenakan pakaian yang menutup kepala. Karena mereka orang Islam. Jelas sang ibu. Mendengar penjelasan itu, saya gembira setidaknya bahwa busana muslimah sebagai salah satu jati diri.
Bulan Januari hingga Februari 2007, saya melakukan sebuah observasi di sekolah St. Michael Khatolik di kelas satu. Ketika melakukan presentasi di depan mereka tentang Indonesia. Hal yang begitu antusias dan termasuk pertanyaan pertama adalah apa yang di kepala saya. Mengapa saya harus memakai itu? Apakah saya memakai sepanjang hari? Bagaimana dengan rambut saya? Siapa saja boleh melihat rambut saya.
Jilbab tetap menarik bagi siapa saja. House mate pernah meminta pinjam jilbab saya dan menanyakan bagaimana cara memakainya. Saya heran mengapa Ia menanyakan itu. Soalnya Ia yang hampir tidak pernah bertanya tentang Islam. Mungkin sedikitnya Ia telah tahu bagaimana kehidupan muslim karena Ia pernah tinggal di Maroko. Ia ingin mempresentasi tentang Jilbab dan menjelaskan bahwa perempuan Islam memakai jilbab bukan karena paksaan dari laki-laki. Mudah-mudahan untuk seterusnya dia mau menjelaskan apa arti jilbab bagi seorang muslimah.

Indonesian Muslim Society in America
Menjelang keberangkatan, Saya diingatkan untuk mencari lingkungan orang-orang shalih di sana. Jadi menurutnya, kedatangan saya di sana tentunya tidak akan sia-sia. Saya mencari informasi bagaimana kehidupan muslim khususnya kota yang bakal menjadi tempat tinggal saya di sana, Brattleboro. Hasil penemuan saya, tak ada organisasi Islam di sana. Namun, meski kecil jumlah, saya masih menemukan beberapa muslin di sana. Untuk shalat Jumat nya, biasanya kita lakukan di ruang interfaith. Sebuah ruang yang digunakan untuk mengkaji tentang agama.
Sedangkan pada Lebaran Idul Fitri yang pertama saya tahun lalu, untuk shalat hari rayanya, kami lakukan di kota Amherst atau Springfield, Massachussets, sekitar satu jam dari kota tempat tinggal saya.
Lalu bagaimana mengisi ruhani? Indonesian muslim society in America yang lebih dikenal dengan IMSA, sangat menbantu saya dalam mengisi ruhani sehari-hari dengan kegiatan semacam semacam halaqah online atau penggajian online. Melalui kegiatan IMSA, saya dapat mengikuti banyak hal, yang terpenting adalah siapa saja dapat mengikuti penggajian tersebut.
Selain itu, IMSA juga memiliki siaran radio dan mengudara beberapa kali dalam seminggu. Seperti di musim summer ini yaitu dimulai bulan Juni hingga Agustus, IMSA mengundang ustadz Nabil dalam rangka Islamic Summer Education Workshop 2007. Kegiatan ini untuk mengisi ruhani masyarakat Islam di Amerika Serikat pada sembilan kota dan ceramah ini disiarkan langsung melalui radio IMSA.
Banyak hal yang dapat saya pelajari ketika berada di negeri orang. Terlepas apakah itu baik atau burukkah. Namun saya hanya ingin mengingatkan diri, seperti pesan sebelum keberangkatan Banyak-banyaknya orang-orang mengingatkan, hanya diri sendiri yang ingat berapa banyak yang diingatkan orang.

Penulis sedang menuntut ilmu di School for International Training, Brattleboro, Vermont

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...