16 Juni 2007 yang lalu tepat setahun saya berada di Amerika Serikat. Kedatangan saya ke negeri Paman Sam ini dalam rangka melanjutkan studi S2 saya di School for Internatinal Training, Brattleboro, Vermont yang di sponsori oleh Ford Foundation untuk dua tahun program master. Berikut sebagian catatan perjalanan selama setahun di sana. Semoga bermanfaat.
Menuju Negeri Paman Sam
Saat persiapan keberangkatan,
saya telah menyiapkan makanan atau roti yang kira-kira diizinkan untuk dibawa
ke dalam pesawat. Saya hanya khawatir di dalam pesawat tidak mendapatkan
makanan halal. Dari bandara Soekarno Hatta hingga ke bandara Narita, Jepang,
saya masih mendapatkan makanan yang halal. Sedangkan dari Jepang ke Amerika,
tentu saja sulit memperoleh makanan halal. Sedikit memudahkan jika ada
persediaan makanan para vegetarian. Karena itu, persiapan makanan yang
saya bawa sedikit membantu dan menggurang rasa lapar selama dalam pesawat.
Kota pertama yang saya
singgahi adalah Northampton, saya harus mengikuti pre-academic training
di kota tersebut. Kota ini terkenal sebagai salah satu kota yang sangat welcome
dengan hubungan sesama jenis. Kota ini juga memiliki College yang hanya
dikhusus bagi perempuan yaitu Smith College.
Green Mountain State
Sebelum keberangkatan, saya
mendapatkan informasi bahwa kota yang akan saya tinggal nantinya adalah
Brattleboro, Vermont. Sedikitpun tidak ada informasi tentang state yang memiliki
the smallest capital state (ibukota yang terkecil) di Amerika. Bahkan
saya sempat bingung adakah state di Amerika yang bernama Vermont?
Ternyata, Vermont dikenal
dengan penggunungannya Amerika. Kota yang langsung berbatasan dengan Quebec,
Kanada. Keindahan alamnya tergambar sempurna pada musim gugur (fall) dan salju
(winter). Bahkan di tahun 1987, pernah mengalami dua musim secara bersamaan
yaitu musim fall dan musim salju. Sesuatu yang menarik bagi saya adalah ketika
mengunjungi ibukota dari Vermont State, yaitu Montpelier. Montpelier adalah
ibukota state yang paling kecil di bilangan state lainnya. Selain itu, State
ini merupakan salah satu state yang memiliki pajak tertinggi di USA (rangking
ke 14).
Di tahun pertama saya di
sana, saya tinggal dengan dua orang pelajar Amerika. Jadilah kami bertiga
menempati apartemen di lantai tiga itu. Yang mengagetkan saya adalah ketika
saya mengetahui bahwa salah satu dari house mate saya itu adalah orang
Yahudi. Begitu saya mengetahui teman saya tersebut adalah Yahudi, langsung
pikiran saya melayang ke Palestina sana. Apa yang terjadi di sana begitu
terpetakan dengan baik. Lalu teman saya tersebut melanjutkan ceritanya bahwa Ia
bukan lah seorang Yahudi yang religius. Ia tidak dibesarkan dari keluarga yang
religius.
Sedangkan teman apartemen
yang lain adalah seorang katholik. Ia pernah menetap di Kuwait ketika masa
kecil dan pernah menetap di Maroko selama dua tahun. Jadi, Sedikitnya Ia tahu
banyak bagaimana Muslim menjalani kehidupan sehari-hari. Setahun saya tinggal bersama
mereka. Meski saya berbeda dalam banyak hal dengan mereka, Alhamdulillah tidak
terjadi sesuatu yang saya bayangkan sebelumnya.:)
Bergaul dengan mahasiswa
Amerika
Karena terbilang kecil
Kampus School for International Training, hubungan saya sesama students
khususnya dengan American Students sangat dekat. Hal ini juga diamini oleh
teman-teman yang lain. Belum lagi ditunjang suasana kota Brattleboro yang
nyaman. Saya sering mendapat sapaan ramah dari orang-orang yang berpapasan
dengan saya di jalan. Atau bahkan ketika saya sedang berbelanja di market
terdekat dan saya kebingungan mencari produk yang saya inginkan, selalu saja
ada tawaran baik dari orang-orang yang kebetulan berbelanja, yang ingin
menolong saya untuk mendapat sesuatu yang saya inginkan. Mudah-mudahan hal ini
berlangsung sampai saya menamatkan studi nantinya.
Kendati demikian, tidak
sedikit pertanyaan yang ditanyakan oleh teman-teman Amerika. Misalnya mengapa
hanya perempuan saya yang pakai jilbab dan mengapa lelaki tidak? Atau seorang
teman yang berasal dari Alaska menanyakan kepada saya, Apakah kamu yakin
perempuan yang memakai Jilbab juga tidak akan meminum-minum Alkohol? Mereka
juga menanyakan mengapa muslim kuat berpuasa dan sepertinya tidak bermasalah.
Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang aneh dan menantang yang saya terima dari
mereka.
Sebuah pertanyaan yang
ditanyakan oleh seorang teman yang kuliah di jurusan conflict transformation,
dan pernah kuliah di jurusan teologi kristen. Ia bercerita, coba kamu tanya
sama orang Amerika, apa arti madrasah bagi mereka? Menurutnya, hanya ada dua
jawaban. Jawaban pertama mereka tidak tahu dan jawaban kedua yang mengagetkan
saya yaitu madrasah adalah kamp konsentrasi atau kamp pembunuhan. Saya
menganggap jawab kedua adalah karena pengaruh media massa yang begitu kuat.
Apalagi ketika Barak Obama yang (akan) dicalon sebagai calon presiden As yang
akan datang pernah sekolah di Indonesia, yang dianggap bahwa sekolah tempatnya
dulu adalah sekolah sebagai pencetak teroris. Ehm...
Selain itu, banyak juga
dari mereka yang tahu akan persoalan-persoalan yang terjadi di Aceh dan
menanyakan sedikit banyaknya tentang Aceh. Masih banyak lagi
pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada saya dan itu sangat menantang.
Bagaimana dengan Busana
Muslimah?
Lantas, anehkah ketika
mereka melihat busana muslimah yang saya kenakan?
Suatu hari seorang anak
kecil yang saya temui di supermarket memanggil saya dengan sebut Miss.
Beutiful. Ia tersenyum melihat saya. Saya pun mengucapkan terima kasih padanya
meski dalam hati saya begitu geli dengan sebutan tersebut. Lain lagi cerita
dari sebuah farewell party (pesta perpisahan), seorang little boy
terus menerus memperhatikan saya. Seorang teman Amerika mengenalkan Ia pada
saya. Akhir perkenalan itu, Ia mengatakan sesuatu sambil melihat saya dari
ujung kepala hingga kaki. Katanya I love your clothes. Saya merasa “tersanjung”
dengan pujian si kecil itu. Saya berharap akan banyak orang lain yang menyukai
busana Muslimah, khususnya orang Islam itu sendiri.
Saya sering melihat
anak-anak kecil yang berpapasan dengan saya memandang saya dengan penuh
keheranan. Bahkan terkadang mereka menunda untuk berjalan hanya untuk
memperhatikan apa yang saya kenakan. Pernah suatu hari seorang kecil yang
sedang berjalan dengan Ibunya, Ia menanyakan mengapa mereka (saya dan teman)
mengenakan pakaian yang menutup kepala. Karena mereka orang Islam. Jelas sang
ibu. Mendengar penjelasan itu, saya gembira setidaknya bahwa busana muslimah
sebagai salah satu jati diri.
Bulan Januari hingga
Februari 2007, saya melakukan sebuah observasi di sekolah St. Michael Khatolik
di kelas satu. Ketika melakukan presentasi di depan mereka tentang Indonesia.
Hal yang begitu antusias dan termasuk pertanyaan pertama adalah apa yang di
kepala saya. Mengapa saya harus memakai itu? Apakah saya memakai sepanjang
hari? Bagaimana dengan rambut saya? Siapa saja boleh melihat rambut saya.
Jilbab tetap menarik bagi
siapa saja. House mate pernah meminta pinjam jilbab saya dan menanyakan
bagaimana cara memakainya. Saya heran mengapa Ia menanyakan itu. Soalnya Ia
yang hampir tidak pernah bertanya tentang Islam. Mungkin sedikitnya Ia telah
tahu bagaimana kehidupan muslim karena Ia pernah tinggal di Maroko. Ia ingin
mempresentasi tentang Jilbab dan menjelaskan bahwa perempuan Islam memakai
jilbab bukan karena paksaan dari laki-laki. Mudah-mudahan untuk seterusnya dia
mau menjelaskan apa arti jilbab bagi seorang muslimah.
Indonesian Muslim Society
in America
Menjelang keberangkatan,
Saya diingatkan untuk mencari lingkungan orang-orang shalih di sana. Jadi
menurutnya, kedatangan saya di sana tentunya tidak akan sia-sia. Saya mencari
informasi bagaimana kehidupan muslim khususnya kota yang bakal menjadi tempat
tinggal saya di sana, Brattleboro. Hasil penemuan saya, tak ada organisasi Islam
di sana. Namun, meski kecil jumlah, saya masih menemukan beberapa muslin di
sana. Untuk shalat Jumat nya, biasanya kita lakukan di ruang interfaith. Sebuah
ruang yang digunakan untuk mengkaji tentang agama.
Sedangkan pada Lebaran Idul
Fitri yang pertama saya tahun lalu, untuk shalat hari rayanya, kami lakukan di
kota Amherst atau Springfield, Massachussets, sekitar satu jam dari kota tempat
tinggal saya.
Lalu bagaimana mengisi
ruhani? Indonesian muslim society in America yang lebih dikenal dengan IMSA, sangat
menbantu saya dalam mengisi ruhani sehari-hari dengan kegiatan semacam semacam
halaqah online atau penggajian online. Melalui kegiatan IMSA, saya dapat
mengikuti banyak hal, yang terpenting adalah siapa saja dapat mengikuti
penggajian tersebut.
Selain itu, IMSA juga
memiliki siaran radio dan mengudara beberapa kali dalam seminggu. Seperti di
musim summer ini yaitu dimulai bulan Juni hingga Agustus, IMSA mengundang
ustadz Nabil dalam rangka Islamic Summer Education Workshop 2007.
Kegiatan ini untuk mengisi ruhani masyarakat Islam di Amerika Serikat pada
sembilan kota dan ceramah ini disiarkan langsung melalui radio IMSA.
Banyak hal yang dapat saya
pelajari ketika berada di negeri orang. Terlepas apakah itu baik atau burukkah.
Namun saya hanya ingin mengingatkan diri, seperti pesan sebelum keberangkatan
Banyak-banyaknya orang-orang mengingatkan, hanya diri sendiri yang ingat berapa
banyak yang diingatkan orang.
Penulis sedang menuntut
ilmu di School for International Training, Brattleboro, Vermont