Saat chatting dengan
seorang teman yang kebetulan kuliah di Sudan, Ia selalu mengingatkan saya.
Apapun aktivitas yang saya lakukan di negeri Paman Sam, “Istiqamah ya, Intan.”
Begitu selalu pesannya. Saya selalu termenung setiap kali Ia memberikan nasehat
itu. Belum lagi seorang teman yang saat itu sedang kuliah di Kanada,
mengingatkan saya untuk mencari komunitas orang-orang shalih, agar kelak niat
untuk pergi bumi Allah yang lain tidak akan sia-sia. Ya istiqamah. Kunci
bertahan di negara orang. Lalu mudahkan bertahan di negeri orang yang jaraknya
ribuan mil dari homeland saya?
Dari Ford Foundation
Pertahanan yang pertama
adalah bantuan dana yang saya dapatkan dari Ford Foundation dalam rangka
melanjutkan studi S2 selama dua tahun. Alhamdulillah, beasiswa yang didapat
tidak mengharuskan saya untuk bekerja demi menompang hidup di sana. Saya
mendapatkan beasiswa full. Karena itu jika saya berkerja maka mereka
akan kick out saya dari program tersebut. Boleh sih bekerja, tapi saya
harus melapor kepada Ford Foundation dan mereka akan mengurangi living
allowance yang saya terima setiap bulan. Jadi, buat apa capek-capek
untuk kerja, kalau semuanya ditanggung dan itu membuat saya nyaman. Tapi kalau
mau menjadi volunteer tetap diperbolehkan dan statusnya unpaid job.
Mereka adalah housemates
saya
Setahun pertama saya di
sana, saya tinggal bersama housemate yang kebetulan keduanya adalah American
citizen. Jadilah, kami bertiga meramaikan apartemen kecil itu di lantai
tiga. Sebelumnya saya tak tahu siapa yang bakal menjadi housemate saya. Satu
informasi yang saya ketahui dari landlord. Mereka adalah perempuan.
Lebih dari itu saya tidak tahu. Muslimkah mereka pun saya tidak tahu. Terasa
Aneh ketika menanyakan keyakinan orang lain di negeri sekuler itu. Meski saya
tak begitu akrab dengan mereka, tapi tak ada “tragedi” di apartemen itu.
Setelah beberapa waktu
lamanya saya tinggal di sana. Ternyata teman satu apartement itu adalah Yahudi.
Saya kaget luarbiasa. Pikiran saya akan perang di Palestina terpetakan dengan
baik dibenak saya. Ini pengacau dunia itu. “I am a Jewish.” Saya berusaha
menyembunyikan kekagetan saya. Saya khawatir dia itu Yahudi yang suka usil. Khawatir
kalau di apartemen ini akan ada perang antara saya dengan dia. Saya khawatir
karena saya sendiri, takut tidak bisa melawan. Begitu banyak kekhawatiran saya
tentang keberadaan dia di apartemen itu. Pikiran saya kok jadi kotor
begini ya?
Namun, saya ingat akan
cerita seorang teman dari Palestina, meski banyak Yahudi yang menyerang, masih
ada juga Yahudi di Palestina sana yang tidak sepakat dengan perang yang terjadi
di sana. Dalam hati kecil, mudah-mudahan dia bukan Yahudi yang jahat itu.
“But I am not a religius
person. My family is either”. Ia minum dan makan Babi juga. Sesuatu yang
terlarang dilakukan oleh Yahudi. Begitu ceritanya pada saya.
Oh Tuhan, bisakah saya
bertahan dengan dia di apartemen ini? Hanya itu saya ucapkan. Semoga Allah
memudahkan saya menjelaskan apa yang saya yakini. Teman yang satunya lagi
adalah Khatolik. Saya bingung darimana harus mulai menjelaskan persoalan bahwa
saya keberatan jika mereka menggunakan peralatan makan saya jika mereka makan
Babi. Kalau anjing saya yakin mereka tidak. Karena bagi mereka anjing adalah
bagian dari keluarga.
Suatu hari housemate yang
beragama khatolik itu, Ia menanyakan pada saya apakah kami mempunyai fork.
Saya begitu kaget begitu tahu Ia menanyakan soal itu. Saya tak sempat menjawab.
Ternyata Ia paham. Ia tersenyum melihat saat saya make a face. “Don’t
worry. I am a vegetarian.”
Saya menarik nafas lega. Oh
ternyata Ia menyebutkan fork bukan pork. Padahal pertanyaan juga tidak
menjelaskan dia akan makan Babi. Tapi ya itu bikin saya kaget saja. Jika
ingat peristiwa itu saya malu sendiri. Saya lega. Ia tahu banyak persoalan
larangan terhadap muslim sebab Ia pernah tinggal di Maroko selama dua tahun dan
masa kecilnya pernah Ia habiskan di Kuwait.
Tugas kedua, bagaimana saya
harus menjelaskan persoalan Babi pada teman Yahudi saya itu. Budaya sungkan dan
tidak enak bicara langsung, ternyata sangat menyulitkan saya untuk berterus
terang sesuatu yang tidak saya sukai, di negeri yang begitu mengagungkan
kebebasan itu. Tetap saja saya merasa tidak enak hati jika menyinggungnya. Bismillah.
I have to. Ingat cerita seorang teman, pendeta, di Netherland sana.
Singkatnya, Ia hampir muntah dan keberatan tentang persoalan Babi tersebut.
Di lemari es, saya melihat
kemasan daging Turkish Bacon. Saya memikir bagaimana harus menjelaskan
itu pada dia. Susah banget ya? Tapi demi kenyamanan saya harus bisa. Ia
sedang mencuci piring.
“Emma, do you mind if I tell
you something?” Begitulah saya memulai membuka percakapan dengannya.
“What, Intan?”
Saya menunjukan daging yang
ada dalam lemari es tersebut. Pasti miliknya. Intinya saya keberatan jika dia
menggunakan peralatan masak saya jika memasak babi. Alhamdulillah Ia tersenyum
begitu tahu maksud saya.
Katanya, “That is only
Turkish, Intan. Tidak ada unsur bacon atau babi yang lain.”
Saya menarik nafas lega.
Lanjutnya, “We know about
that.”
“Oh Thank you.”
Saya menarik nafas lega.
Satu persoalan terselesaikan. Kami berbeda dalam banyak hal, namun sejauh ini
saya dan mereka tetap berteman baik. Meski pada persoalan makanan, ketika saya
masak kadang mereka menutup pintu kamar karena bau yang berbeda dengan masakan
mereka. Namun mereka tak pernah menegur atau keberatan jika saya memasak. Hanya
pernah sekali meminta saya untuk membuka jendela dapur☺.
Dan lagi ketika akan ada
teman-teman cowok yang datang mereka, akan memberitahukan, sehingga saya bisa
siap-siap dengan tindakan apa yang harus saya lakukan.
Berat memang tinggal dengan
yang berbeda keyakinan. Pada mereka saya bisa menjelaskan semua itu. Tapi pada
teman-teman yang tidak bisa dijangkau, saya hanya pasrah. Ya Allah mudahkanlah
segala urusan saya.
Amin
Membangun Jalinan
Komunikasi
Saat internet sedang error
atau saat laptop saya sedang down untuk beberapa waktu lamanya, saya
jadi sedih luarbiasa. Bukan apa-apa. Keduanya itu mendekatkan saya dengan
kampung halaman, apalagi ketika rindu kampung halaman sedang menggelembung.
Deuu..sedihnya luar biasa. Setiap minggu saya menelpon, atau bahkan bisa
seminggu dua kali dan lebih sering. Seandainya lebih saja dari satu minggu
belum telpon kampung halaman, rindunya sudah tidak karuan. Dengan sering
menelpon membuat rindu sedikit berkurang. Untuk biaya telpon jangan tanya
deh...he.......
Saya suka pakai yahoo
massenger kalau untuk menelpon ke Aceh dengan membeli pulsa online. Pernah sih
pakai calling card, tapi waktu awal-awal dulu dan lagian calling card
suka gak beres. Selama di USA saya tidak menggunakan HP. Alasannya? Karena di
tempat saya koneksinya gak bagus untuk mengirim teks pesan ke Indonesia. Dan
dari Indonesia, tidak bisa diterima pesan yang terkirim. Pokoknya kalau untuk
soal hp, koneksi dan pernak-perniknya, Indonesia top cherrr deh. Selain itu,
orang sana juga lebih trend untuk berkomunikasi via email dari pada menelpon.
Bahkan professornya ada juga yang tidak punya cellphone. Jadi, bagi saya
tidak begitu terkendala jika tidak memiliki hp.
4 Sehat, 5 Sempurna, 6
Halal, 7 Thayyib
Dalam sebuah hadist
Rasulullah, beliau pernah bersabda, ketika seseorang mengadu padanya bahwa doa
nya tidak pernah terjawab, Rasul berkata perhatikan makananmu. Karena itu saya
tidak mau sembarang makan-makanan jika tidak jelas halal haramnya. Walaupun,
makanan yang sudah dilabelkan sebagai makanan halal tetap saja sering tertipu
karena produsen berlaku curang sehingga mengabaikan hak-hak konsumen.
Sebab itu, ini halal gak
ya? Saya bingung begitu melihat makanan yang ada di sekitar saya. Memilih dan
memilah makanan di sana sangat membingungkan. Makanan di sana sehat. Sempurna.
Tapi.......halalnya? Apalagi thayyibnya itu?
Searching dan menanyakan orang-orang bagaimana mencari info tentang makanan
halal. Itulah yang saya lakukan sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup di
sana.
Saya tetap dengan konsep
awal saya. Mencari dan hanya makan sesuatu yang halal. Tetapi memahami halal
sangat sulit karena banyak sekali hal yang harus dipahami. Kosher, halal versi
Yahudi. Belum lagi jenis-jenis makanan yang serba kalengan.
Setiap membeli produk, saya
akan berdiri dengan lama di depan rak makanan atau sesuatu barang yang akan
saya beli. Tangan saya menyusuri tiap-tiap huruf yang menunjukan ingredient.
Mata saya dengan “liar” memperhatikan sambil memincingkan dan menarik nafas
lega. Hmm.....makanan ini bisa dimakan. Makanan ini tidak.
Sulit. Itu pasti. Saya
hanya ingin terus dan berusaha mendapatkan sesuatu yang halal. Namun repotnya,
jika saya pergi ke tempat saudara seiman, tidak semua mereka perduli akan halal
dan haram. Sebab setiap orang beda konsep dalam memahami itu. Pernah termakan
daging yang tidak dipotong secara halal, namun setelah itu saya akan memilih
makanan yang lain.
Saya jadi ingat ketika
seorang teman berkomentar tentang bersoalan makanan halal dan haram. “Emang di
Indonesia daging yang dimakan halal?” Kenapa sih di Amerika tidak dilonggarin
dikit?”
Nah loh?
Gaul Dengan Bule
Saya pernah dipanggil miss
beautiful sama anak kecil yang kebetulan berada di supermarket. Atau pujian
dari anak kecil dalam sebuah farewell party di tempat kawan. I love your
clothes. Begitu katanya sambil melihat saya dari ujung rambut sampai ujung
kaki. Di kampus, kehidupan beragama termasuk sangat bebas artinya mereka sangat
concern dengan keyakinan mahasiswanya. Misalnya, dosen akan
memberitahukan ketika pada awal-awal kuliah apakah bagi saya okay. Atau mereka
memberikan saya kesempatan untuk keluar jika mau shalat. So far so good. Atau
lagi, seorang dosen menanyakan pada saya apakah saya kesulitan menjalani
keyakinan (shalat) di kampus.
Sebelum berangkat, pihak
kampus menjelaskan kalau saya akan kesulitan untuk tinggal di asrama. Soalnya
di asrama kampus tidak ada dapur untuk masak. Setiap students yang
tinggal di sana harus makan apa yang mereka sediakan. Mereka lebih menyarankan
saya untuk mencari akomodasi luar kampus. Lagian transportasi untuk dalam kota
gratis. Jadi, gak ada biasa transportasi.
Dan teman Yahudi saya
tersebut, menanyakan kepada saya apakah saya bisa melakukan shalat di kampus.
Saya mengiyakan. Good. Katanya. Akhirnya saya merasa lebih dekat dengan teman
Yahudi saya itu.
Cerita lain, dalam sebuah
pesta diadakan di apartemen saya, saya melihat begitu banyak minuman yang
dibawa oleh teman-teman Amerika. Waduh...mulai deh saya merasa tidak nyaman.
Menegur pun rasanya tidak mungkin. Teman yang Khatolik tersebut, sepertinya Ia
tahu saya tidak nyaman dengan suasana pesta tersebut. Akhirnya setelah say
hello sama beberapa teman, saya memutuskan untuk mendekan di kamar dan pulas
tertidur sampai besok pagi. Keesokan harinya, saya berkata ke teman Yahudi itu.
Saya minta maaf karena tidak bisa bergabung dalam pesta yang mereka adakan.
Jawabannya sangat menentramkan hati saya. Intan, kamu tidak harus untuk gabung
dengan kami, jika kamu tidak suka.
Cerita lainnya, ketika saya
diajak untuk ikut malam Halloween, saya ingin menjelaskan dari perspektif agama
Islam. Saya menyulitkan untuk menjelaskan dari segi agama karena teman-teman
muslim ikut dalam acara tersebut. Maka saya pun memutuskan untuk diam saja.
Lagi, teman Yahudi itu menjelaskan, “You don’t have to, if you don’t want.
Akhirnya, teman Amerika yang lain langsung diam dan tidak mengajak saya lagi.
Meski saya oke-oke saja
dengan busana muslimah, tapi saya juga sangat sedih ketika teman-teman di kota
dan di negara lain tidak mendapatkan penghormatan karena busana yang Ia pakai.
Enak Gak Sih Hidup di Luar
Negeri
Saya mendapatkan beasiswa
selama dua tahun untuk program master degree. Seseorang dan banyak orang pernah
menanyakan “Enak gak sih tinggal di luar negeri?” Atau “Enak ya tinggal di luar
sana.” Saya hanya geli jika dua pertanyaan itu dialamatkan kepada saya.
Enak gak sih di luar
negeri?
Saya tak pernah
membayangkan akan berada di negeri orang dan jauh dari sanak famili.
Exciting. Itu perasaan saya pertama. Jika dalam materi bagaimana
menghadapi culture shock yang dihadapi seseorang, step pertama yang saya lalui,
persis seperti yang dikatakan ahli teori tentang culture shock. Awalnya saya
berada pada tangga pertama; seperti honeymoon saja. Rasanya semua tempat ingin
saya explore. Oh saya ingin mengunjungi ini, tempat itu atau apa saja.
Benar menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Dapat mengunjungi negara
orang dengan beasiswa. Lalu apakah saya selamanya seperti “honeymoon”?. Bahagia
sepanjang masa.
Tidak. Itu hanya beberapa
bulan saja. Memasuki Ramadan. Frekuensi airmata saya mulai turun dan kian
deras. Masa honeymoon telah saya lewati. Sering kali airmata saya tumpah.
Apalagi di penghujung waktu shalat. Luarbiasa. Rasa rindu akan kampung halaman
tidak bisa saya pungkiri. Saya ingin bersama keluarga saya. Ingin rasanya
memiliki keajaiban seperti Aladin. Sim salabin abrakadra. Sampailah saya di
kampung halaman dengan tutup mata. Sekali lagi. Mana mungkin.
Saya mulai rindu dengan
masakan Mami. Saya rindu makanan Aceh. Saya mulai rindu segala hal, rindu pada
hari-hari yang saya lalui di kampung halaman. Saat buka puasa tiba, airmata
saya terkadang mengalir tanpa saya sadari. Benar, Ramadan yang terindah adalah
ramadan di kampung halaman.
Maka bersabarlah saya.
Masa-masa “menyeramkan” di negeri orang. Saya selalu menyakinkan diri. Dua
tahun itu hanya sebentar. Sabar ya? Kendati sulit, tapi itulah salah satu upaya
saya supaya untuk menguatkan diri.
Jadi menurut anda, enak
tidak di luar negeri?