Monday, August 03, 2015

Bertahan Di Negeri Orang


 Saat chatting dengan seorang teman yang kebetulan kuliah di Sudan, Ia selalu mengingatkan saya. Apapun aktivitas yang saya lakukan di negeri Paman Sam, “Istiqamah ya, Intan.” Begitu selalu pesannya. Saya selalu termenung setiap kali Ia memberikan nasehat itu. Belum lagi seorang teman yang saat itu sedang kuliah di Kanada, mengingatkan saya untuk mencari komunitas orang-orang shalih, agar kelak niat untuk pergi bumi Allah yang lain tidak akan sia-sia. Ya istiqamah. Kunci bertahan di negara orang. Lalu mudahkan bertahan di negeri orang yang jaraknya ribuan mil dari homeland saya?

Dari Ford Foundation

Pertahanan yang pertama adalah bantuan dana yang saya dapatkan dari Ford Foundation dalam rangka melanjutkan studi S2 selama dua tahun. Alhamdulillah, beasiswa yang didapat tidak mengharuskan saya untuk bekerja demi menompang hidup di sana. Saya mendapatkan beasiswa full. Karena itu jika saya berkerja maka mereka akan kick out saya dari program tersebut. Boleh sih bekerja, tapi saya harus melapor kepada Ford Foundation dan mereka akan mengurangi living allowance yang saya terima setiap bulan. Jadi, buat apa capek-capek untuk kerja, kalau semuanya ditanggung dan itu membuat saya nyaman. Tapi kalau mau menjadi volunteer tetap diperbolehkan dan statusnya unpaid job.
Mereka adalah housemates saya
Setahun pertama saya di sana, saya tinggal bersama housemate yang kebetulan keduanya adalah American citizen. Jadilah, kami bertiga meramaikan apartemen kecil itu di lantai tiga. Sebelumnya saya tak tahu siapa yang bakal menjadi housemate saya. Satu informasi yang saya ketahui dari landlord. Mereka adalah perempuan. Lebih dari itu saya tidak tahu. Muslimkah mereka pun saya tidak tahu. Terasa Aneh ketika menanyakan keyakinan orang lain di negeri sekuler itu. Meski saya tak begitu akrab dengan mereka, tapi tak ada “tragedi” di apartemen itu.
Setelah beberapa waktu lamanya saya tinggal di sana. Ternyata teman satu apartement itu adalah Yahudi. Saya kaget luarbiasa. Pikiran saya akan perang di Palestina terpetakan dengan baik dibenak saya. Ini pengacau dunia itu. “I am a Jewish.” Saya berusaha menyembunyikan kekagetan saya. Saya khawatir dia itu Yahudi yang suka usil. Khawatir kalau di apartemen ini akan ada perang antara saya dengan dia. Saya khawatir karena saya sendiri, takut tidak bisa melawan. Begitu banyak kekhawatiran saya tentang keberadaan dia di apartemen itu. Pikiran saya kok jadi kotor begini ya?
Namun, saya ingat akan cerita seorang teman dari Palestina, meski banyak Yahudi yang menyerang, masih ada juga Yahudi di Palestina sana yang tidak sepakat dengan perang yang terjadi di sana. Dalam hati kecil, mudah-mudahan dia bukan Yahudi yang jahat itu.
But I am not a religius person. My family is either”. Ia minum dan makan Babi juga. Sesuatu yang terlarang dilakukan oleh Yahudi. Begitu ceritanya pada saya.
Oh Tuhan, bisakah saya bertahan dengan dia di apartemen ini? Hanya itu saya ucapkan. Semoga Allah memudahkan saya menjelaskan apa yang saya yakini. Teman yang satunya lagi adalah Khatolik. Saya bingung darimana harus mulai menjelaskan persoalan bahwa saya keberatan jika mereka menggunakan peralatan makan saya jika mereka makan Babi. Kalau anjing saya yakin mereka tidak. Karena bagi mereka anjing adalah bagian dari keluarga.
Suatu hari housemate yang beragama khatolik itu, Ia menanyakan pada saya apakah kami mempunyai fork. Saya begitu kaget begitu tahu Ia menanyakan soal itu. Saya tak sempat menjawab. Ternyata Ia paham. Ia tersenyum melihat saat saya make a face. “Don’t worry. I am a vegetarian.”
Saya menarik nafas lega. Oh ternyata Ia menyebutkan fork bukan pork. Padahal pertanyaan juga tidak menjelaskan dia akan makan Babi. Tapi ya itu bikin saya kaget saja. Jika ingat peristiwa itu saya malu sendiri. Saya lega. Ia tahu banyak persoalan larangan terhadap muslim sebab Ia pernah tinggal di Maroko selama dua tahun dan masa kecilnya pernah Ia habiskan di Kuwait.
Tugas kedua, bagaimana saya harus menjelaskan persoalan Babi pada teman Yahudi saya itu. Budaya sungkan dan tidak enak bicara langsung, ternyata sangat menyulitkan saya untuk berterus terang sesuatu yang tidak saya sukai, di negeri yang begitu mengagungkan kebebasan itu. Tetap saja saya merasa tidak enak hati jika menyinggungnya. Bismillah. I have to. Ingat cerita seorang teman, pendeta, di Netherland sana. Singkatnya, Ia hampir muntah dan keberatan tentang persoalan Babi tersebut.
Di lemari es, saya melihat kemasan daging Turkish Bacon. Saya memikir bagaimana harus menjelaskan itu pada dia. Susah banget ya? Tapi demi kenyamanan saya harus bisa. Ia sedang mencuci piring.
Emma, do you mind if I tell you something?” Begitulah saya memulai membuka percakapan dengannya.
What, Intan?”
Saya menunjukan daging yang ada dalam lemari es tersebut. Pasti miliknya. Intinya saya keberatan jika dia menggunakan peralatan masak saya jika memasak babi. Alhamdulillah Ia tersenyum begitu tahu maksud saya.
Katanya, “That is only Turkish, Intan. Tidak ada unsur bacon atau babi yang lain.”
Saya menarik nafas lega.
Lanjutnya, “We know about that.”
Oh Thank you.”
Saya menarik nafas lega. Satu persoalan terselesaikan. Kami berbeda dalam banyak hal, namun sejauh ini saya dan mereka tetap berteman baik. Meski pada persoalan makanan, ketika saya masak kadang mereka menutup pintu kamar karena bau yang berbeda dengan masakan mereka. Namun mereka tak pernah menegur atau keberatan jika saya memasak. Hanya pernah sekali meminta saya untuk membuka jendela dapur.
Dan lagi ketika akan ada teman-teman cowok yang datang mereka, akan memberitahukan, sehingga saya bisa siap-siap dengan tindakan apa yang harus saya lakukan.
Berat memang tinggal dengan yang berbeda keyakinan. Pada mereka saya bisa menjelaskan semua itu. Tapi pada teman-teman yang tidak bisa dijangkau, saya hanya pasrah. Ya Allah mudahkanlah segala urusan saya.
Amin

Membangun Jalinan Komunikasi
Saat internet sedang error atau saat laptop saya sedang down untuk beberapa waktu lamanya, saya jadi sedih luarbiasa. Bukan apa-apa. Keduanya itu mendekatkan saya dengan kampung halaman, apalagi ketika rindu kampung halaman sedang menggelembung. Deuu..sedihnya luar biasa. Setiap minggu saya menelpon, atau bahkan bisa seminggu dua kali dan lebih sering. Seandainya lebih saja dari satu minggu belum telpon kampung halaman, rindunya sudah tidak karuan. Dengan sering menelpon membuat rindu sedikit berkurang. Untuk biaya telpon jangan tanya deh...he.......
Saya suka pakai yahoo massenger kalau untuk menelpon ke Aceh dengan membeli pulsa online. Pernah sih pakai calling card, tapi waktu awal-awal dulu dan lagian calling card suka gak beres. Selama di USA saya tidak menggunakan HP. Alasannya? Karena di tempat saya koneksinya gak bagus untuk mengirim teks pesan ke Indonesia. Dan dari Indonesia, tidak bisa diterima pesan yang terkirim. Pokoknya kalau untuk soal hp, koneksi dan pernak-perniknya, Indonesia top cherrr deh. Selain itu, orang sana juga lebih trend untuk berkomunikasi via email dari pada menelpon. Bahkan professornya ada juga yang tidak punya cellphone. Jadi, bagi saya tidak begitu terkendala jika tidak memiliki hp.

4 Sehat, 5 Sempurna, 6 Halal, 7 Thayyib
Dalam sebuah hadist Rasulullah, beliau pernah bersabda, ketika seseorang mengadu padanya bahwa doa nya tidak pernah terjawab, Rasul berkata perhatikan makananmu. Karena itu saya tidak mau sembarang makan-makanan jika tidak jelas halal haramnya. Walaupun, makanan yang sudah dilabelkan sebagai makanan halal tetap saja sering tertipu karena produsen berlaku curang sehingga mengabaikan hak-hak konsumen.
Sebab itu, ini halal gak ya? Saya bingung begitu melihat makanan yang ada di sekitar saya. Memilih dan memilah makanan di sana sangat membingungkan. Makanan di sana sehat. Sempurna. Tapi.......halalnya? Apalagi thayyibnya itu?
Searching dan menanyakan orang-orang bagaimana mencari info tentang makanan halal. Itulah yang saya lakukan sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup di sana.
Saya tetap dengan konsep awal saya. Mencari dan hanya makan sesuatu yang halal. Tetapi memahami halal sangat sulit karena banyak sekali hal yang harus dipahami. Kosher, halal versi Yahudi. Belum lagi jenis-jenis makanan yang serba kalengan.
Setiap membeli produk, saya akan berdiri dengan lama di depan rak makanan atau sesuatu barang yang akan saya beli. Tangan saya menyusuri tiap-tiap huruf yang menunjukan ingredient. Mata saya dengan “liar” memperhatikan sambil memincingkan dan menarik nafas lega. Hmm.....makanan ini bisa dimakan. Makanan ini tidak.
Sulit. Itu pasti. Saya hanya ingin terus dan berusaha mendapatkan sesuatu yang halal. Namun repotnya, jika saya pergi ke tempat saudara seiman, tidak semua mereka perduli akan halal dan haram. Sebab setiap orang beda konsep dalam memahami itu. Pernah termakan daging yang tidak dipotong secara halal, namun setelah itu saya akan memilih makanan yang lain.
Saya jadi ingat ketika seorang teman berkomentar tentang bersoalan makanan halal dan haram. “Emang di Indonesia daging yang dimakan halal?” Kenapa sih di Amerika tidak dilonggarin dikit?”
Nah loh?

Gaul Dengan Bule
Saya pernah dipanggil miss beautiful sama anak kecil yang kebetulan berada di supermarket. Atau pujian dari anak kecil dalam sebuah farewell party di tempat kawan. I love your clothes. Begitu katanya sambil melihat saya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Di kampus, kehidupan beragama termasuk sangat bebas artinya mereka sangat concern dengan keyakinan mahasiswanya. Misalnya, dosen akan memberitahukan ketika pada awal-awal kuliah apakah bagi saya okay. Atau mereka memberikan saya kesempatan untuk keluar jika mau shalat. So far so good. Atau lagi, seorang dosen menanyakan pada saya apakah saya kesulitan menjalani keyakinan (shalat) di kampus.
Sebelum berangkat, pihak kampus menjelaskan kalau saya akan kesulitan untuk tinggal di asrama. Soalnya di asrama kampus tidak ada dapur untuk masak. Setiap students yang tinggal di sana harus makan apa yang mereka sediakan. Mereka lebih menyarankan saya untuk mencari akomodasi luar kampus. Lagian transportasi untuk dalam kota gratis. Jadi, gak ada biasa transportasi.
Dan teman Yahudi saya tersebut, menanyakan kepada saya apakah saya bisa melakukan shalat di kampus. Saya mengiyakan. Good. Katanya. Akhirnya saya merasa lebih dekat dengan teman Yahudi saya itu.
Cerita lain, dalam sebuah pesta diadakan di apartemen saya, saya melihat begitu banyak minuman yang dibawa oleh teman-teman Amerika. Waduh...mulai deh saya merasa tidak nyaman. Menegur pun rasanya tidak mungkin. Teman yang Khatolik tersebut, sepertinya Ia tahu saya tidak nyaman dengan suasana pesta tersebut. Akhirnya setelah say hello sama beberapa teman, saya memutuskan untuk mendekan di kamar dan pulas tertidur sampai besok pagi. Keesokan harinya, saya berkata ke teman Yahudi itu. Saya minta maaf karena tidak bisa bergabung dalam pesta yang mereka adakan. Jawabannya sangat menentramkan hati saya. Intan, kamu tidak harus untuk gabung dengan kami, jika kamu tidak suka.
Cerita lainnya, ketika saya diajak untuk ikut malam Halloween, saya ingin menjelaskan dari perspektif agama Islam. Saya menyulitkan untuk menjelaskan dari segi agama karena teman-teman muslim ikut dalam acara tersebut. Maka saya pun memutuskan untuk diam saja. Lagi, teman Yahudi itu menjelaskan, “You don’t have to, if you don’t want. Akhirnya, teman Amerika yang lain langsung diam dan tidak mengajak saya lagi.
Meski saya oke-oke saja dengan busana muslimah, tapi saya juga sangat sedih ketika teman-teman di kota dan di negara lain tidak mendapatkan penghormatan karena busana yang Ia pakai.

Enak Gak Sih Hidup di Luar Negeri
Saya mendapatkan beasiswa selama dua tahun untuk program master degree. Seseorang dan banyak orang pernah menanyakan “Enak gak sih tinggal di luar negeri?” Atau “Enak ya tinggal di luar sana.” Saya hanya geli jika dua pertanyaan itu dialamatkan kepada saya.
Enak gak sih di luar negeri?
Saya tak pernah membayangkan akan berada di negeri orang dan jauh dari sanak famili.
Exciting. Itu perasaan saya pertama. Jika dalam materi bagaimana menghadapi culture shock yang dihadapi seseorang, step pertama yang saya lalui, persis seperti yang dikatakan ahli teori tentang culture shock. Awalnya saya berada pada tangga pertama; seperti honeymoon saja. Rasanya semua tempat ingin saya explore. Oh saya ingin mengunjungi ini, tempat itu atau apa saja. Benar menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Dapat mengunjungi negara orang dengan beasiswa. Lalu apakah saya selamanya seperti “honeymoon”?. Bahagia sepanjang masa.
Tidak. Itu hanya beberapa bulan saja. Memasuki Ramadan. Frekuensi airmata saya mulai turun dan kian deras. Masa honeymoon telah saya lewati. Sering kali airmata saya tumpah. Apalagi di penghujung waktu shalat. Luarbiasa. Rasa rindu akan kampung halaman tidak bisa saya pungkiri. Saya ingin bersama keluarga saya. Ingin rasanya memiliki keajaiban seperti Aladin. Sim salabin abrakadra. Sampailah saya di kampung halaman dengan tutup mata. Sekali lagi. Mana mungkin.
Saya mulai rindu dengan masakan Mami. Saya rindu makanan Aceh. Saya mulai rindu segala hal, rindu pada hari-hari yang saya lalui di kampung halaman. Saat buka puasa tiba, airmata saya terkadang mengalir tanpa saya sadari. Benar, Ramadan yang terindah adalah ramadan di kampung halaman.
Maka bersabarlah saya. Masa-masa “menyeramkan” di negeri orang. Saya selalu menyakinkan diri. Dua tahun itu hanya sebentar. Sabar ya? Kendati sulit, tapi itulah salah satu upaya saya supaya untuk menguatkan diri.
Jadi menurut anda, enak tidak di luar negeri?

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...