Ini hal yang menakutkan buat saya. Sesuatu yang tidak pernah
saya impikan namun terjadi. Daanish dan Rumaisha harus dititipkan ditempat
penitipan anak. Apalagi kalau bukan masalah klise ibu yang bekerja dan tak ada
yang diharapkan untuk menjaga mereka di rumah. Saya juga sudah lelah mencari
penjaga anak. Dan lebih melelahkan adalah ketika mereka tidak lagi tinggal di
rumah ketika masa mengajar saya berada di penghujung semester. Perubahan jam
mengajar juga sangat menganggu saya sendiri dan tentunya mahasiswa tersebut.
Dan lagi, kali ini saya seperti diberikan lampu hijau oleh
suami untuk menitipkan anak. Ya, jadilah pilihan itu saya saya pilih. Saya
sempat berkaca-kaca dan serak di hari pertama mereka diantarkan. Saya pikir
sama juga membingungkan kalau berganti pengasuh tentu butuh waktu penyesuaian
juga buat mereka.
Dulu Daanish pernah dititipkan di tempat penitipan anak,
tapi Cuma 6 x, bukan dari pagi sampai sore. Kadang Cuma 2 jam. Tapi kita masih
tidak tega dan ada yang menjaganya.
Saya memperhatikan dua hari sebelum Daanish dititipkan dia
seringkali terjaga di malam hari dan menangis tanpa sebab. Saya merasa bersalah
juga. Apakah karena dititipkan ditempat penitipan itu. Ya Alhamdulillah,
sekarang dia udah terbiasa.
Mungkin dia merasakan kehilangan waktu-waktu bersama saya
ketika saya menyiapkan kegiatan bersama dengan Daanish dan adiknya, Rumaisha.
Saya mencoba menggunakan kata-kata yang indah biar dia
merasakan arti berguna ketika berada di tempat penitipan itu. Misalnya ini, “Kita
sekolah ya, Nak? Kan di sana banyak kawan.” Karena saya tahu Daanish senang
berteman.
Walaupun belum tentu Daanish akan menerima itu dengan baik.
Soalnya setiap dititipkan dia selalu dalam keadaan tidak senang.
Apakah ini proses atau harus meninggalkan bekas luka. Na’uzubillahi Min Dzalik.
Apakah ini proses atau harus meninggalkan bekas luka. Na’uzubillahi Min Dzalik.
Maafkan Ummi ya, Nak?
