Saya punya dua orang adik kelas. Menurut saya mereka begitu
luarbiasa dalam menyelesaikan studi mereka. Sampai saat ini saya masih
membingkai cerita mereka dalam rekaman memori saya, yang kelak akan saya
ceritakan pada anak-anak saya dan juga kalian.
Begini ceritanya. Adik kelas saya yang pertama perempuan. Ia
sempat kuliah di salah satu perguruan tinggi di Banda Aceh. Enam bulan kemudian
saya tidak melihat lagi dia ruang kuliah. Ternyata dia memilih melanjutkan S-1
nya ke negeri seberang.
Mudahkah perjuangan dia di sana?
Pada mulanya orangtuanya keberatan akan keinginan dia untuk
menuntut ilmu di sana. Tapi apa boleh kata, keinginannya tidak terbendung lagi.
Tibalah dia di sana. Sekitar 6 bulan dia belajar pemantapan
bahasa untuk bisa ikut perkuliahan di sana. Hingga akhirnya diapun kuliah.
Apa yang terjadi?
Ternyata ketika masuk perkuliahan, dia tidak mengerti apa
yang disampaikan oleh dosen. Dia putus asa. Rasanya pengen kembali ke kampus
yang dulu. Tapi ingat janjinya pada orangtua, rasanya tidak mungkin.
Apa yang dilakukan untuk memperbaiki keterbatasanya itu?
Adik kelas saya mengajak salah satu teman Asianya untuk
langsung bertatap muka dengan dosen matakuliah tersebut. Ceritanya belajar face
to face.
Tak hanya sampai di situ. Dia tidak punya cukup uang untuk
kuliah di sana. Apa yang dilakukannya? Setiap senin dan kamis dia puasa sunnah
agar uang makan mencukupi. Jika puasa, Ia akan berada di pustaka sepanjang
hari. Pernah dia terkurung di pustaka hingga keesokan harinya karena tertidur
kelelahan karena belajar. Selain itu dia
bekerja diam-diam. Soalnya mereka di sana tak diizinkan bekerja.
Endingnya? Dia lulus dengan nilai terbaik. Terbaik untuk
jurusannya, terbaik untuk fakultas dan terbaik seuniversitas. Hingga Ia melenggang mulus dikontrak menjadi
pegawai di salah satu BUMN negeri seberang, sebelum melanjutkan S2 dan S3 dan
menjadi Ibu untuk keempat anaknya sepanjang S2 dan S3.
Adik kelas saya yang satunya lagi, dia juga sudah enam bulan
berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Aceh. Keinginannya juga ingin
kuliah ke negeri seberang. Tak ada dana. Sang Ibu keberatan.
Dia hanya meminta kalung emas sang Ibu untuk jadi “modal”
kuliah di sana. Pada Ibunya, Ia Cuma minta restu dan tidak akan meminta dana
lagi untuk kuliah di sana. Ia mencari cara untuk bisa survive dan bekerja.
Akhirnya, Ia selesai. Melanjutkan S2 ke Amerika dan S3 ke
Australia.
Lalu dimana kita? Apakah setiap kehidupan mempunyai alur
yang sama? Tentu tidak. Tapi ambil semangat untuk belajar dan sukses. Jangan
cengeng untuk meminta setiap kemudahan dan bergantung pada orang-orang sekitar.
Kita perlu menjadi muslim yang tangguh. Bukankah itu yang diajarkan kepada
kita.
Lalu untuk kuliah saja kita sudah mau seenaknya, bagaimana
kita mengajarkan generasi setelah kita untuk pantang menyerah dalam menuntut
ilmu? Bukan evaluasi pendidikan yang sebenarnya adalah ketika kita berada di
masyarakat seperti kata Imam Ghazali?.
