Thursday, January 26, 2017

Tentang Adik Kelas Saya

 
Saya punya dua orang adik kelas. Menurut saya mereka begitu luarbiasa dalam menyelesaikan studi mereka. Sampai saat ini saya masih membingkai cerita mereka dalam rekaman memori saya, yang kelak akan saya ceritakan pada anak-anak saya dan juga kalian.

Begini ceritanya. Adik kelas saya yang pertama perempuan. Ia sempat kuliah di salah satu perguruan tinggi di Banda Aceh. Enam bulan kemudian saya tidak melihat lagi dia ruang kuliah. Ternyata dia memilih melanjutkan S-1 nya ke negeri seberang.
Mudahkah perjuangan dia di sana?

Pada mulanya orangtuanya keberatan akan keinginan dia untuk menuntut ilmu di sana. Tapi apa boleh kata, keinginannya tidak terbendung lagi. 

Tibalah dia di sana. Sekitar 6 bulan dia belajar pemantapan bahasa untuk bisa ikut perkuliahan di sana. Hingga akhirnya diapun kuliah.

Apa yang terjadi?
Ternyata ketika masuk perkuliahan, dia tidak mengerti apa yang disampaikan oleh dosen. Dia putus asa. Rasanya pengen kembali ke kampus yang dulu. Tapi ingat janjinya pada orangtua, rasanya tidak mungkin.

Apa yang dilakukan untuk memperbaiki keterbatasanya itu?
Adik kelas saya mengajak salah satu teman Asianya untuk langsung bertatap muka dengan dosen matakuliah tersebut. Ceritanya belajar face to face. 

Tak hanya sampai di situ. Dia tidak punya cukup uang untuk kuliah di sana. Apa yang dilakukannya? Setiap senin dan kamis dia puasa sunnah agar uang makan mencukupi. Jika puasa, Ia akan berada di pustaka sepanjang hari. Pernah dia terkurung di pustaka hingga keesokan harinya karena tertidur kelelahan karena belajar.  Selain itu dia bekerja diam-diam. Soalnya mereka di sana tak diizinkan bekerja.

Endingnya? Dia lulus dengan nilai terbaik. Terbaik untuk jurusannya, terbaik untuk fakultas dan terbaik seuniversitas.  Hingga Ia melenggang mulus dikontrak menjadi pegawai di salah satu BUMN negeri seberang, sebelum melanjutkan S2 dan S3 dan menjadi Ibu untuk keempat anaknya sepanjang S2 dan S3.

Adik kelas saya yang satunya lagi, dia juga sudah enam bulan berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Aceh. Keinginannya juga ingin kuliah ke negeri seberang. Tak ada dana. Sang Ibu keberatan.

Dia hanya meminta kalung emas sang Ibu untuk jadi “modal” kuliah di sana. Pada Ibunya, Ia Cuma minta restu dan tidak akan meminta dana lagi untuk kuliah di sana. Ia mencari cara untuk bisa survive dan bekerja.

Akhirnya, Ia selesai. Melanjutkan S2 ke Amerika dan S3 ke Australia.

Lalu dimana kita? Apakah setiap kehidupan mempunyai alur yang sama? Tentu tidak. Tapi ambil semangat untuk belajar dan sukses. Jangan cengeng untuk meminta setiap kemudahan dan bergantung pada orang-orang sekitar. Kita perlu menjadi muslim yang tangguh. Bukankah itu yang diajarkan kepada kita.
Lalu untuk kuliah saja kita sudah mau seenaknya, bagaimana kita mengajarkan generasi setelah kita untuk pantang menyerah dalam menuntut ilmu? Bukan evaluasi pendidikan yang sebenarnya adalah ketika kita berada di masyarakat seperti kata Imam Ghazali?.

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...