Waktu kuliah dulu, semester pertama ada matakuliah Pengantar
Akutansi 4 sks. Saya dapat nilai A. Semester kedua ada Akuntansi Biaya 2 sks.
Saya dapat nilai B sebelumnya saya dapat nilai C. Jadi perbaikan pada semester
yang lain. Di semester yang lain, saya dapat nilai C untuk Akuntansi Managemet.
Saya perbaiki nilai tersebut dan ternyata saya cukup puas untuk matakuliah 3
sks tersebut dengan nilai C lagi.
Kemudian di mata kuliah lain saya dapat nilai C untuk Teori Ekonomi yang
4 sks. Setelah diperbaiki nilai saya tetap C. Pikiran saya pada saat itu, ya
sudah saya tidak mampu dengan matakuliah tersebut. Mengapa harus memaksakan
diri.
Di matakuliah Grammar Communication saya dapat nilai D. Kemudian saya
perbaiki dan saya harus cukup puas dengan nilai C di KRS saya. Dosen pengampu
matakuliah tesebut menyarankan saya untuk memperbaiki lagi matakuliah itu. Saya
menolak. Kenapa? Kalau saya tidak terbentur dengan peraturan kampus, maka nilai
D itupun tidak akan saya perbaiki.
Kenapa? Untuk apa memfokuskan diri pada nilai? Bukankan
nilai tidak menjamin kompetensi diri. Ketika sekarang banyak orangtua mulai
sadar dengan potensi unik yang ada pada anak-anak mereka. Beramai mereka
melakukan homeschooling untuk anak-anak mereka. Atau tidak lagi berorientasi
nilai rapor karena semua itu menuntut anak untuk menguasai semua materi yang
ada.
Bukankah pendidikan seharus membangkitkan potensi unik
seseorang sebagaimana fitrahnya. Setiap kita sudah diberikan modal untuk
memulai hidup di dunia ini.
Pertanyaan saya; atas dasar apa kuliah di bahasa Inggris?
Keren? Bisa banyak dapat duit?
Saya menolak untuk kuliah di jurusan bahasa Arab karena saya
tidak mampu untuk memahami nahwu syarafnya. Dan juga di matematika, karena saya
susah memahami rumus-rumus itu.
Kalau memilih kuliah karena sudah berpikir bisa menghasilkan
uang yang banyak, maka semuanya jadi hitung2an materi. Bukankan ini
menghasilkan sarjana yang miskin “meaning”.
Maka jangan heran kalau banyak mahasiswa datang meminta
nilai, menunjukan diri bahwa mereka aktifis atau tidak sedikit mengambil jalan
pintas memanipulasi nilai?
Seperti inikah generasi calon guru, calon ibu, bapak dan
lain-lain?
Bukannya kerja keras malah kejar nilai semata.