Lelaki
itu menceritakan banyak hal tentang apa yang Ia rasakan setelah
tsunami. Saya mencoba menjadi pendengar yang baik karena saya juga ingin
bila saya bercerita orang mendengarkan dengan baik apa yang saya
rasakan. Sebab itu saya harus memulainya terlebih dahulu! Setelah
sebulan lebih saya baru tahu kabar tentangnya. Untuk itu saya ingin
mendengar cerita-cerita yang Ia punyai.
Lelaki
itu tak mampu menutupi perasaan sedihnya. Ia ingin melamar gadis yang
sangat Ia cintai untuk menjadi pedamping hidupnya kelak. Apalagi pihak
keluarga tak menghalangi niat baiknya itu. Ia ingat pesan temannya untuk
tidak selalu berada di wilayah abu-abu. Ia ingin menyegerakan niat
baiknya itu.
Minggu
pagi Ia memantapkan niatnya. Segala sesuatu telah Ia persiapkan. Apa
yang hendak dikata. Niat mulianya tak tercapai. Gempa dan gelombang
telah mendahului niat baiknya. Ia harus kehilangan orang yang Ia cintai.
Niat baiknya itu tak dapat Ia sempurnakan.
Usahakan tetap dilakukan. Hingga sampai ke negeri Penang, Ia susuri jejak sang kekasih. Tekadnya hanyalah berusaha. Malang tak dapat ditolak. Untung tak dapat diraih. Ia harus berhenti mengingat takdir berkehendak lain.
Andaikan
saja dahulu niat itu Ia segerakan pastilah semuanya akan berbicara
lain. Sebuah pelajaran Ia petik. Niat baik apapun harus disegerakan.