Tuesday, December 18, 2012

Perjalanan Akhirat

Sampai detik ini, saya tak mampu mendeskripsikan bagaimana kondisi kami pada pukul jam dua siang sampai seterusnya. Ratusan orang keluar dari tempat pertarungan mau yang mereka lalui pada pagi hari duapulih enam desember itu.
Saya melihat tatapan-tatapan kosong mereka yang bergerak tak tentu arah. Dengan busana alakadarnya mereka terus saja menyusuri jalan-jalan itu. Perempun-perempuan yang baru saja melahirkan tampak kepayahan berjalan. Percikan darah tersisa pada setiap helaian benang yang mereka kenakan tak lagi tergubriskan. Rasa sakit telah hilang. Satu yang mereka inginkan pergi jauh dari tempat kenangan mereka itu.
Pergi pada tempat yang mereka sendiri tak tahu kemana. Semuanya kebingungan tak tahu kemana kaki mereka menuju. Setiap pertanyaan mau kemana kita? Semua menggelengkan kepala. Hanya airmata yang terus saja mengalir tiada henti atau bahkan sebagian telah kering. Mengingat orang-orang yang tercinta telah pergi mendahului dan mereka tak berdaya untuk menolong.
Saya tak sanggup melihat keadaan. Mereka bukan sekali dua kali saya mengalihkan pandangan. Hati saya begitu miris dan saya pun tak mampu berbuat apa-apa saya hanya berdiri mematung di trotoar jalan seraya sesekali berlari menhindarkan diri takut tiang listrik jatuh. Gempa belum juga berhenti.
   Sebuah tercermin sedang dipajangkan pada kami saat itu. Saya seperti menonton sebuah film perjalan akhirat yang disutradarai oleh-Nya. Kondisi seperti itu mengingatkan saya pada salah satu ayat Allah dimana orang-orang berbondong-bondong berjalan di padang Mahsyar.
Hari itu kami mengalami kiamat kecil yang sebelumnya saya berpikir bahwa kiamat telah tiba. Hari yang membuat kami tak terlupakan seluruh hidup rakyat Aceh.

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...