Sampai
detik ini, saya tak mampu mendeskripsikan bagaimana kondisi kami pada
pukul jam dua siang sampai seterusnya. Ratusan orang keluar dari tempat
pertarungan mau yang mereka lalui pada pagi hari duapulih enam desember
itu.
Saya
melihat tatapan-tatapan kosong mereka yang bergerak tak tentu arah.
Dengan busana alakadarnya mereka terus saja menyusuri jalan-jalan itu.
Perempun-perempuan yang baru saja melahirkan tampak kepayahan berjalan.
Percikan darah tersisa pada setiap helaian benang yang mereka kenakan
tak lagi tergubriskan. Rasa sakit telah hilang. Satu yang mereka
inginkan pergi jauh dari tempat kenangan mereka itu.
Pergi
pada tempat yang mereka sendiri tak tahu kemana. Semuanya kebingungan
tak tahu kemana kaki mereka menuju. Setiap pertanyaan mau kemana kita?
Semua menggelengkan kepala. Hanya airmata yang terus saja mengalir tiada
henti atau bahkan sebagian telah kering. Mengingat orang-orang yang
tercinta telah pergi mendahului dan mereka tak berdaya untuk menolong.
Saya
tak sanggup melihat keadaan. Mereka bukan sekali dua kali saya
mengalihkan pandangan. Hati saya begitu miris dan saya pun tak mampu
berbuat apa-apa saya hanya berdiri mematung di trotoar jalan seraya
sesekali berlari menhindarkan diri takut tiang listrik jatuh. Gempa
belum juga berhenti.
Sebuah
tercermin sedang dipajangkan pada kami saat itu. Saya seperti menonton
sebuah film perjalan akhirat yang disutradarai oleh-Nya. Kondisi seperti
itu mengingatkan saya pada salah satu ayat Allah dimana orang-orang
berbondong-bondong berjalan di padang Mahsyar.
Hari
itu kami mengalami kiamat kecil yang sebelumnya saya berpikir bahwa
kiamat telah tiba. Hari yang membuat kami tak terlupakan seluruh hidup
rakyat Aceh.