Lelah mataku menatapmu saban hari
Lelah mataku menatap layar kaca inchi itu
yang setia mengabari tentangmu padaku.
Harapku menanti
Akan bahagia yang hadir
Cemasku setia hadir menanti bahagia yang tak kunjung datang.
Aku khawatir kelak usiaku terhenti
tak lagi kunikmati kedamaian yang kunantikan.
Aku khawatir tak sempat kucicipi
nikmatnya bahagia yang dinantikan banyak jiwa
Dulu,
ketika kaki kecilku menari bahagia
tentang kanak-kanak yang kunikmati,
cerita itu mulai kudengar tentang negeri yang kaya raya.
Aku tak tahu maksud arah perbincangan itu
Sebab bahagia sedang menelingkupi jiwaku
Dan pula
pikiran kecilku tak sanggup mencerna semua itu.
Aku tak tahu tentang namanya derita
sebab kala itu aku sedang berbahagia menikmati masa kecil.
Dan
aku selalu
dan
hanya mengenal kabar berita tentang bahagia.
Lalu?
Aku pun terus memikir akan arti bahagia, bahagia dan bahagia.
Namun entah mengapa
sedih selalu menggelinding
manakala kutatap Lhokseumawe dan Sigli
pandangan itu berbeda
bila dua kota itu kusinggahi.
Mulailah pikiran kecilku mengembara
Sebuah pertanyaan terselip,
Bahagiakah kota ini seperti kota lain yang kusinggahi.
Mulailah dewasa menyapaku.
Aku mulai mengerti akan arti bahagia, sedih dan tawa.
Aku mulai mendengar cerita banyak orang untuk memilih arti damai.
Aku ingin tahu mengapa damai begitu mereka harapkan.