Mengenang 26 Desember 2004 Silam
Kami
masih berencana pagi itu untuk segudang catatan yang tak boleh
terlupakan. Tak lupa seuntai pesan singkat lewat telepon genggam yang
ada ditangan kami untuk saling mengingatkan bahwa ada janji yang harus
ditunaikan. Matahari yang begitu indah memberikan semangat untuk
menggerakan amanah itu.
Dan…
Ketika kami beranjak mengucapkan bismillah agar rencana kami berjalan dengan baik. Allah menyapa kami untuk berhenti sejenak. Ia memintakan kami untuk menyebutnya berkali. Mungkin ada rindu dari-Nya yang tak kami balas sebelumnya.
Namun…
Lama Allah memanggil kami untuk sejenak merenungi apa yang telah kami lakukan sebelumnya. Ia meminta kami untuk menghisap apa yang telah kami lakukan untuk hidup kami. Seraya mengabsensi siapa yang berhak untuk ikut bersamaNya atau tinggal melanjutkan amanah untuk memakmurkan bumiNya.
Perasaan kami berdebar satu sama lain. Sambil menerka adakah nama kami tercantum dalam absen Izrail. Izrail mengabari sesuatu yang tak kami pahami sebelumnya bahwa Allah sedang mengirim tentara air untuk menjemput kami. Aku hanya teringat bukankah Allah pernah mengirimkan tentara burung untuk memanggil siapa yang dikehendakinya. Bagaimanakah rupa tentara airnya itu?
Ketika matahari mulai meninggi, aku hanya sempat mendengar tiga orang yang tidak kulihat wajahnya telah dipanggil untuk menghadapnya. Beberapa orang yang berseragam coklat mengangkat saudara kami. Kutolak untuk melihat kondisi mereka karena aku tak kuat. Aku takut keberadaanku justru memberatkan mereka.
Ya pukul sebelas pagi lewat. Allah belum memanggilku. Walau aku sempat menyaksikan tentara air itu. Mungkin suatu saat nanti. Aku hanya merenungi bahwa apa yang sedang kualami ini tak sebanding apa yang dialami saudaraku di kampung lain. Saat beberapa teman mengabari bahwa saudara-saudara ku lain juga diabsen oleh Yang diatas jauh lebih banyak dari yang kuduga. Pada saat yang sama!
Mulutku terkunci. Dan aku pun tak mampu mencari kuncinya. Kubiarkan ia terbuka dengan sendiri tanpa kuhentikan hati ini untuk terus saja memujiNya. Meski sempat sesekali kurasakan bumi ini menari lagi.
Kembali……
Mataku awas melihat sekelilingku.
Sebuah pertanyaan terselip di hatiku. Apa rencanaMu, Tuhan? Mataku hanya mampu berkaca-kaca melihat mereka yang bergerak tak tentu arah. Tanganku lumpuh untuk merangkul mereka sebab meski secuil aku merasakan apa yang mereka alami. Lisanku hanya mampu berucap, sabar ya biar Allah tambah sayang sama kita? Aku percaya ada banyak hikmah yang terhimpun dari balik semua ini. Ia menatapku tak bergeming. Kendati berat ia tetap menggangguk dengan senyum yang kembali tersungging.
Di antara sisa nafas yang kumiliki, sesekali tawaku tak tertahan. Ingatanku untuk sekedar menyeruput harumnya kopi dan pulut bakar di tepi laut Lhok Nga tak kunjung kurasakan lagi. Atau menatap indahnya sunset di tepi laut ule lheuu tak lagi dapat kunikmati. Karena aku tak tahu dimana lagi akan kupijakan kakiku di sana. Sebab mataku sembab. Ada banyak saudaraku yang lain sedang meminta pertolongan agar jasad mereka ditempatkan. Atau kakiku yang tak kuat lagi untuk menjejakan tapakku karena setahun yang lalu pantai Ule Lheuu menjadi saksi pengabdian yang kulakukan bersama teman-temanku di desa sekitar pantai itu.
Lalu…
Aku pun tetap merancang masa depanku. Tapi aku tak tahu bagaimana cara untuk membangun masa depan ku. Meski tegar, namun sesekali aku tak mampu menutupi bahwa aku masih sangat rapuh untuk menatap masa depan ku. Duka itu itu tak mampu kututupi segera. Duka aku kehilanganmu. Luka itu tak berhasil kukuburi saat ini juga. Luka yang tak memungkinkanku dapat berjumpa denganmu lagi. Untuk sekedar menaburi bunga pun aku tak tahu dimana.
Suatu saat sesekali semua ini akan menjadi memori yang tak mungkin tidak akan datang lagi.
Dan…
Ketika kami beranjak mengucapkan bismillah agar rencana kami berjalan dengan baik. Allah menyapa kami untuk berhenti sejenak. Ia memintakan kami untuk menyebutnya berkali. Mungkin ada rindu dari-Nya yang tak kami balas sebelumnya.
Namun…
Lama Allah memanggil kami untuk sejenak merenungi apa yang telah kami lakukan sebelumnya. Ia meminta kami untuk menghisap apa yang telah kami lakukan untuk hidup kami. Seraya mengabsensi siapa yang berhak untuk ikut bersamaNya atau tinggal melanjutkan amanah untuk memakmurkan bumiNya.
Perasaan kami berdebar satu sama lain. Sambil menerka adakah nama kami tercantum dalam absen Izrail. Izrail mengabari sesuatu yang tak kami pahami sebelumnya bahwa Allah sedang mengirim tentara air untuk menjemput kami. Aku hanya teringat bukankah Allah pernah mengirimkan tentara burung untuk memanggil siapa yang dikehendakinya. Bagaimanakah rupa tentara airnya itu?
Ketika matahari mulai meninggi, aku hanya sempat mendengar tiga orang yang tidak kulihat wajahnya telah dipanggil untuk menghadapnya. Beberapa orang yang berseragam coklat mengangkat saudara kami. Kutolak untuk melihat kondisi mereka karena aku tak kuat. Aku takut keberadaanku justru memberatkan mereka.
Ya pukul sebelas pagi lewat. Allah belum memanggilku. Walau aku sempat menyaksikan tentara air itu. Mungkin suatu saat nanti. Aku hanya merenungi bahwa apa yang sedang kualami ini tak sebanding apa yang dialami saudaraku di kampung lain. Saat beberapa teman mengabari bahwa saudara-saudara ku lain juga diabsen oleh Yang diatas jauh lebih banyak dari yang kuduga. Pada saat yang sama!
Mulutku terkunci. Dan aku pun tak mampu mencari kuncinya. Kubiarkan ia terbuka dengan sendiri tanpa kuhentikan hati ini untuk terus saja memujiNya. Meski sempat sesekali kurasakan bumi ini menari lagi.
Kembali……
Mataku awas melihat sekelilingku.
Sebuah pertanyaan terselip di hatiku. Apa rencanaMu, Tuhan? Mataku hanya mampu berkaca-kaca melihat mereka yang bergerak tak tentu arah. Tanganku lumpuh untuk merangkul mereka sebab meski secuil aku merasakan apa yang mereka alami. Lisanku hanya mampu berucap, sabar ya biar Allah tambah sayang sama kita? Aku percaya ada banyak hikmah yang terhimpun dari balik semua ini. Ia menatapku tak bergeming. Kendati berat ia tetap menggangguk dengan senyum yang kembali tersungging.
Di antara sisa nafas yang kumiliki, sesekali tawaku tak tertahan. Ingatanku untuk sekedar menyeruput harumnya kopi dan pulut bakar di tepi laut Lhok Nga tak kunjung kurasakan lagi. Atau menatap indahnya sunset di tepi laut ule lheuu tak lagi dapat kunikmati. Karena aku tak tahu dimana lagi akan kupijakan kakiku di sana. Sebab mataku sembab. Ada banyak saudaraku yang lain sedang meminta pertolongan agar jasad mereka ditempatkan. Atau kakiku yang tak kuat lagi untuk menjejakan tapakku karena setahun yang lalu pantai Ule Lheuu menjadi saksi pengabdian yang kulakukan bersama teman-temanku di desa sekitar pantai itu.
Lalu…
Aku pun tetap merancang masa depanku. Tapi aku tak tahu bagaimana cara untuk membangun masa depan ku. Meski tegar, namun sesekali aku tak mampu menutupi bahwa aku masih sangat rapuh untuk menatap masa depan ku. Duka itu itu tak mampu kututupi segera. Duka aku kehilanganmu. Luka itu tak berhasil kukuburi saat ini juga. Luka yang tak memungkinkanku dapat berjumpa denganmu lagi. Untuk sekedar menaburi bunga pun aku tak tahu dimana.
Suatu saat sesekali semua ini akan menjadi memori yang tak mungkin tidak akan datang lagi.
Tetapi…
Inilah penanda hidup kita, Meutia. Seperti yang Bapak utarakan. Kesempurnaan hidup bukanlah dilihat dari megahnya rumah yang kita bangun, sebagaimana kemuliaan meunasah-meunasah bukanlah dari tingginya menara yang menjulang. Bukankah tak setiap meunasah berhak untuk menjadi tempat kita shalat? Nasihat Pak Fauzil Adhim di milis FLP
Aku
juga saudara-saudara kuhanya punya harapan untuk melihat nanggroe ini
tak lagi luluh lantah oleh senjata-senjata itu. Akupun tak ingin melihat
masjid megah yang dibangun kosong oleh jamaahnya. Hanya karena takut
pada letupan itu. Aku tak ingin serambi ini retak. Aku juga tak ingin
referendum itu ada. Meskipun banyak orang mengatakan semua itu dilakukan
atas nama rakyat Aceh. Aku tak mau pisah dengan saudara-saudaraku.
Siapa yang akan bertanggung jawab bila akhirnya referendum abadi itu
dikabulkan olehNya. Tak satupun mampu menjawabnya.Inilah penanda hidup kita, Meutia. Seperti yang Bapak utarakan. Kesempurnaan hidup bukanlah dilihat dari megahnya rumah yang kita bangun, sebagaimana kemuliaan meunasah-meunasah bukanlah dari tingginya menara yang menjulang. Bukankah tak setiap meunasah berhak untuk menjadi tempat kita shalat? Nasihat Pak Fauzil Adhim di milis FLP
Ambillah, ini Referendum yang kalian minta. Aku menerka mungkin itu kira-kira yang dijawab oleh Yang Diatas sana. Aku bukan saja pisah dengan saudara-saudaraku sesaat tapi bahkan untuk selamanya. Hingga aku bingung dimana bunga itu akan kutaburkan.
Aku tak pernah menyangka, jika kasih sayang Allah kurasakan seperti ini. Kucoba memunguti bibit hikmah yang tersebar. Akupun menanamnya segera. Aku takut bibit itu membusuk.
Hari esok belum tentu milikku. Aku percaya. Yang kumiliki hanyalah hari kemarin. Juga kenangan itu.
Hikmah itu telah kutanam. Namun bila dalam malam, aku masih sulit memejamkan mataku. Hatiku masih terus mengembara dan berharap saudara-saudaraku datang dan mengabariku bahwa mereka saat ini sedang berada di suatu tempat dan butuh kunjunganku.
Aku pasti datang. Sebab akupun rindu. Aku ingin menuntaskan rindu itu. Tapi kemana? Kakiku lelah. Badanku penat. Bumi Allah ini begitu luas.
Entahlah……
Pelan-pelan kupejamkan mataku seraya berharap kau datang dan membisikan keberadaanmu. Astaghfirullah.
Aku lupa! Bukankah sekarang ini kau sedang bersuka cita, bermain di taman surgaNya. Alhamdulillah jika demikian akupun lega. Aku hanya khawatir kau terjepit di antara reruntuhan itu. Aku khawatir kau sedang berusaha untuk menolong dirimu tapi kunjung dapat.
Aku mencoba bangkit kendati sesekali bila melintas di tempat kenangan kita, aku suka menjenguk ke belakang. Aku sedang berkhayal dan bernostalgia, bila aku bersamamu pastilah kita sedang merancang hidup di suatu saat kelak.
Aku tak ingin menangisi mu lagi. Bukan aku tak sayang padamu. Juga bukan aku melupakanmu. Semua itu kulakukan karena aku tak ingin mengisi hari-hariku dengar airmata. Aku ingin menyusutnya. Kau pun tentunya tak bahagia bila aku tak punya lagi airmata.
Aku disisakanNya, saudaraku, karena Allah menitipkan amanah besar itu untuk segera kulaksanakan. Agar bila suatu saat kelak aku dipanggilNya, aku punya bekal yang cukup. Akupun ingin mati syahid sepertimu.
Wallahu’alam