Seorang
teman menanyakan pada saya ketika air sedang mengalir begitu deras
adakah azan dikumandangkan. Saya hanya mengangkat bahu. Tak tahu sama
sekali jawabannya. Mungkin ada tapi saya tak mendengarkannya. Maklumlah
waktu itu aliran listrik putus sama sekali. Pun tempat tinggal saya
berjauhan dari masjid. Praktis saya tak mendengar azan tersebut.
Teman
saya yang lain menjawab Ia mendengar azan itu. Suara muazzin yang merdu
menjadi lain dari biasanya. Serak juga sesekali terdengar isakan kecil
darinya. Azan itu meninggalkan kesedihan juga keharuan yang mendalam
bagi siapa saja yang mendengar.
Azan
yang seharusnya dikumandangkan menjelang waktu salat tiba tapi
dikumandangkan saat air bah sedang bergejolak dengan dahsyatnya. Jika
air, angin ribut juga badai lainnya, maka azanlah. Semua akan tenang.
Saya tak tahu apakah perintah ini ada dalam Al-quran, hadits atau sumber
hukum lainnya.
Murid
saya bercerita Ia dan keluarganya sempat kewalahan melawan arus air
itu. Hampir-hampir saja mereka hanyut. Tak ada apa-apapun, entah mengapa
adiknya mengumandangkan azan.
Ia
dan sekeluarga melihat keajaiban yang luar biasa. Air seketika menjadi
tenang sangat berbeda dari sebelumnya. Segera saja mereka mampu mencari
tempat untuk berpegangan demi menyelamatkan diri.
Saya
tertegun mendengar cerita itu. Saya jadi teringat banyak orang kesal
begitu dengar azan tiba karena mereka harus menunda kegiatannya. Atau
bahkan cuek tanpa peduli sama sekali akan panggilan itu.
Andaikan mereka tahu: Ah, ternyata Azan itu menenangkan.