Saya
begitu bahagia begitu bertemu dengan mantan guru. Setelah sekian lama
tak bertemu, ternyata Allah memberikan saya kesempatan bertemu dengan
guru idola saya ketika masih sekolah di sebuah terminal saat saya
mengantarkan adik pulang kampung.
Selanjutnya,
saya terlibat pembicaraan yang cukup lama dengan beliau. Dari sampai
kuliah dan jurusan apa yang saya pilih hingga melibas seperti apa
pendamping hidup yang saya inginkan bila pernikahan tiba nantinya.
Tak tahu harus menjawab apa kepada beliau.
Jelas
saja saya ingin lelaki yang seperti disebutkan pada banyak ayat dan
sejumlah hadis. Walaupun namanya manusia pastilah akan ada kekuarangan
di sana
sini. Dan saya pun tak begitu peduli dengan semua itu. Karena niat saya
menikah pada waktu itu belum menjadi target saya. Saya masih ingin
kuliah. Nanti-nantilah. Jadiah saya tak ambil pusing dengan semua itu.
Bila sudah jodoh semuanya akan terjadi. Pun saya tak mendefinitifnya
seperti apa kelak pendamping yang saya inginkan.
Saya
terdiam cukup lama. Seperti apa ya? Suami yang saya inginkan kelak.
Jadilah saya tak punya jawaban untuk guru tersebut. Saya hanya tersenyum
kecut karena tak punya jawaban.
Akhirnya, sebuah kalimat keluar darinya. “Nanti kelak kamu menikah, jangan mau dilarang kerja sama suami ya?”
Mungkin
guru saya berpesan, “Carilah suami yang mengizikan kamu bekerja
nantinya. Jangan mau bila tidak diizinkan untuk bekerja.”
Saya
tak menduga jika kalimat itu keluar darinya. Guru saya tersebut bukan
perempuan tapi laki-laki. Jika perempuan yang mengucapkannya itulah hal
yang biasa. Laki-laki? Hmmm. Amatlah langka. Banyak laki-laki yang
menyukai perempuan cerdas dan bekerja. Tapi tidak banyak di antara
laki-laki itu yang senang jika istri mereka yang bekerja. Itu yang saya
dengar dari sebuah seminar. Entahlah, benar atau tidak saya tidak tahu.
Saya
terdiam sesaat. Jawaban yang tepatpun tak saya punyai. Saya bingung.
Jika saya menjawab iya saya pun tak tahu untungnya dimana begitu juga
sebaliknya bila saya jawab tidak. Dimana letak kerugiaannya atas jawaban
itu.
Kembalilah
saya mendapat wejangan itu dari sang guru. “Kalau kamu tidak bekerja,
bagaimana bila sesuatu terjadi pada suamimu nanti. Ia tak mampu lagi
menafkahimu. Karena itu kamu harus juga bekerja. Kelak bila hal yang tak
diinginkan terjadi kamu mampu mengatasi semua itu dengan baik.”
Sebuah
senyum tersungging untuknya. Saya tahu maksud ucapanya. Beliau tentunya
tak ingin mantan muridnya ini kelak tak bahagia bila menikah. Beliau
tak ingin saya kehilangan arah nantinya bila ujian hidup rumah tangga
saya dapatkan.
Tapi
saya lupa mengatakan hal ini pada beliau. “Terima kasih atas
nasihatnya, Pak. Saya akan melakukan yang terbaikuntuk hidup saya. Dan
saya selalu yakin akan ada rezeki darinya jika kita berusaha bersangka
baik padanya.”