Suatu
malam seorang teman mengajak saya pergi ke terminal Setui untuk
mengantarkan Kakaknya yang hendak pulang kampung. Usai mengantarkannya
pulang, kami menuju ke sebuah wartel yang letaknya berjajaran dengan
counter tempat pengambilan loket.
Tak
ada yang lebih menerbitkan rasa syukur saya dan keharuan begitu
menyaksikan pemandangan yang saya lihat. Ketika teman menelpon, mata
saya tak lepas dari pemandangan yang membahagiakan saya. Mata saya
takjub dibuatnya. Hampir-hampir saja airmata saya tumpah karena
pemandangan itu.
Pada
saya, orang-orang zaman-nenek, kakek, guru ngaji saya atau siapa
saja-dulu sering menceritakan tentang meriahnya tiap rumah habis maghrib
dengan lantunan-lantunan ayat suci Al-Quranul Karim berkumandang.
Setiap rumah terdengar bunyi suara yang saling bersahut-sahutan di
sana-sini. Dan suara itu akan berhenti ketika azan salat Isya memanggil.
Sekarang
cerita itu tak dapat lagi saya lihat atau saya rasakan. Cerita itu
hanyalah hadiah sejarah yang diberikan orang-orang terkasih saya untuk
koleksi kekayaan batin yang saya miliki.
Magrib tak lagi menyelesaikan pesan religius lewat malam-malamnya. Sebab tayangan sinetron sedang menanti untuk ditonton.
Malam
itu adalah salah satu malam yang teramat mengesan bagi saya. Seorang
ibu di tengah kesibukannya menjaga wartel di areal terminal sedang
mengajari sang buah hati mengaji. Sesekali Ia
berhenti karena pengguna jasa ingin membayar. Sang anakpun menbacanya
dengan lirih di antara teriakan kondektur atau derumnya kendaraan
terminal.
Saya
yakin tentu sang Ibu tak ingin mengajari anaknya di tengah kesibukannya
mencari nafkah. Ia ingin fokus mengajari anaknya. Namun bagaimana lagi.
Perut harus terus terisi. Hidup harus terus dijalani. Dan Ia tak boleh
mengeluh atas semua itu. Termasuk mengajari buah hatinya terus mengaji
di sela-sela kesibukannya. Saya percaya surga sedang menantinya di untuk
di huni. Untuk seorang Ibu sepertinya.
Setui, 310305