Bagaimana
rasanya kalau dilamar oleh seseorang? Bahagia tentunya. Kata teman saya
(Maklum saya belum menikah). Setiap wanita tentu berharap, kelak
nantinya akan ada seorang perjaka mengetuk pintu rumahnya dan
berkeinginan menjadikan wanita tersebut sebagai istrinya.
Dilamar?
Biasa sih! Dari sononya juga muslimah pasti menunggu seorang lelaki
meminangnya. Bagaimana jika kondisi di atas berubah. Anda diharuskan
melamar terlebih dahulu bukan menerima lamaran. Entah karena alasan usia
atau alasan lainnya. Terserah!
So, what’s up?
Tentu anda kan berpikir seribu atau bahkan sejuta kali. Kalau diterima, tentu tidak masalah bukan? Lah, kalau ditolak?
Alamak!
Anda harus siap-siap tanggung resiko. Sedih mungkin tak seberapa. Tapi
malunya itu, loh. Apalagi wanita amat rentan dengan beban psikologi.
Seorang
teman laki-laki pernah menyarankan saya untuk memberanikan diri melamar
terlebih dahulu. Tak usah menanti dilamar katanya pada saya. Tentunya
dengan menggunakan pihak ketiga. Dan perantara tersebut benar-benar
harus amanah. Artinya bila lamaran ditolak, Ia tak akan membeberkan.
Cukup kamu, dia dan perantara itu yang tahu. Tambahnya.
Ia
menyarankan untuk mengikuti jejak Ibunda Khadijah yang terlebih dulu
melamar Rasulullah saw. “Nggak perlu malu untuk hal itu. Apalagi bila
dilakukan dengan cara yang benar.” Tuturnya.
Kaget
plus tidak menyangka. Mengingat yang menyarankan untuk melakukan
sesuatu hal yang tabu adalah seorang laki-laki. Membayangkan melamar
saja tidak pernah apalagi punya niat untuk melakukannya kendati usia
sudah seperempat abad lewat.
Saya
sempat termangu saat membaca email darinya. Ia pernah bertanya kepada
saya kapan mengakhiri hidup sendiri. Jujur saja rasa bosan begitu terasa
bila pertanyaan itu terus saja dilontarkan kepada saya. Siapa sih yang
pengen sendiri terus? Tidak ada!
Lantas, apa jawaban saya? Ketika mereply
emailnya, tak ada sedikitpun jawaban yang saya berikan karena filosofi
yang tertanam dalam diri saya. Jawaban saya yang asbun itu ternyata
memberikan interupsi yang panjang baginya. Begini jawabannya: lebih baik
memikirkan tentang kematian sebab itu pasti. Soalnya maut tak mau kenal
kompromi bila perintah di atas lebih dulu memanggil untuk kembali
pada-Nya. Maut adalah hal yang pasti sedang nikah belum tentu.
Teman
laki-laki itu mencereweti saya, Ia tidak sepakat dengan jawaban saya.
Meski ukhrawi adalah tujuan akhir, hendaklah tidak melupakan urusan
duniawi. Tolaknya dengan serta merta. Karena itu, Ia memberikan
alternatif untuk menyabotase “pekerjaan” lelaki yaitu melamar.
Seperti
yang saya kemukakan sebelumnya, itu bukanlah jawaban yang filosofi
dalam hidup saya. Terlebih karena saya tidak mau membebankan hidup
dengan memikirkan kapan jodoh datang walaupun dalam hati saya selalu
berharap akan bertemu dengan orang terbaik yang Allah pilihkan untuk
saya nantinya.
Bukannya
menolak saran teman yang telah berbaik hati memikirkan urusan saya atau
malah menyalahkan dia karena sarannya yang “aneh” itu, saya sendiri
saja tidak tahu siapa lelaki yang terbaik itu di mata Allah swt. Jadi,
dengan senang hati saya akan tetap menunggu dilamar daripada melamar.
Melamar, nggak deh!