Tak
ada yang menarik dari judul ini. Juga kalimatnya. Tapi tidak bagi saya.
Pertanyaan ini begitu berkesan. Ceritanya ini terjadi pada bulan
Ramadan, 2006. Ramadan pertama saya di Negara orang. Saat itu saya baru
saja selesai kelas pagi. Dan pagi itu, saya juga tidak puasa karena
“cuti” yang saya didapatkan oleh banyak perempuan muslim di dunia. Saya
mendekati water fountain yang berada dekat dengan ruang kuliah. Saya
sudah memastikan diri dan celinguk kiri kanan bahwa tidak ada seorangpun
yang akan melihat aksi saya minum di pagi itu. Saya segera beranjak
pergi dari tempat tersebut.
Namun
langkah saya terhenti ketika seorang teman sedang berjalan dari arah
tangga. Aura wajahnya terlihat sedikit berubah dan tidak menggenakan
ketika dia melihat saya baru saja selesai minum. Dan sedikit perubahan
wajah tapi Ia tetap tersenyum dengan manis seraya menanyakan “Are you
doing fasting?”
Saya
mengangguk dan bersiap untuk menjelaskan padanya. Saya tahu maksud arah
pertanyaannya tersebut. Tapi kalimat dan caranya menanyakan sesuatu
tanpa bermaksud menghakimi mengajarkan saya banyak hal. Tidak menganggap
orang lain atau menghakimi sesuatu dan kita sendiri belum tahu akan
kebenaran cerita tersebut. Dan saya pun pernah melakukan kesalahan
tersebut. Padahal saya belum tahu mengapa sesuatu dilakukan. Saya
belajar banyak dari kalimat tersebut. Setidak-tidaknya, tidak
menggulangi kesalahan yang kerap kita lakukan. “Mengapa kamu lakukan ini
bla.......” Kita tak pernah berusaha mengubah atau tidak menyadarinya.
“Boleh saya tahu mengapa melakukan itu? Mungkin kalimat ini lebih baik
karena tidak bermaksud untuk menggagap apa yang dilakukan oleh orang
lain adalah sesuatu yang salah. Saya memiliki sebuah cerita. Tentang
seorang teman yang memiliki niat baik untuk menyampai sesuatu yang
bernilai dakwah, akhirnya harus rusak hanya karena kalimat pertamanya
yang salah. Ia bermaksud untuk menanyakan seorang teman yang lainnya,
yang saat itu salat tidak menutup aurat. Jadi ia hanya menggenakan
pakaian sehari-harinya untuk salat. “Kenapa kamu tidak pakai mukena
salat. Salatmu kan batal?” Ternyata pertanyaan itu berbuntut panjang.
Yang mengakibatkan kedua belah pihak itu perang dingin. A silly mistake.
Tapi cukup meninggalkan “bekas” bagi yang mendengarnya.
Ah,
kalimat are you doing fasting, mengajarkan saya untuk berhati-hati
menanyakan sesuatu. Sulit karena itu bukan lah sesuatu yang standar.
Tapi saya harus belajar untuk terus dan berkomunikasi dengan baik.
Karena lidah saya adalah harimau saya yang setiap saat selalu akan
menggigit dan seluruh badan saya tentunya akan sakit.