Tuesday, December 18, 2012

Are you doing fasting?

Tak ada yang menarik dari judul ini. Juga kalimatnya. Tapi tidak bagi saya. Pertanyaan ini begitu berkesan. Ceritanya ini terjadi pada bulan Ramadan, 2006. Ramadan pertama saya di Negara orang. Saat itu saya baru saja selesai kelas pagi. Dan pagi itu, saya juga tidak puasa karena “cuti” yang saya didapatkan oleh banyak perempuan muslim di dunia. Saya mendekati water fountain yang berada dekat dengan ruang kuliah. Saya sudah memastikan diri dan celinguk kiri kanan bahwa tidak ada seorangpun yang akan melihat aksi saya minum di pagi itu. Saya segera beranjak pergi dari tempat tersebut.
Namun langkah saya terhenti ketika seorang teman sedang berjalan dari arah tangga. Aura wajahnya terlihat sedikit berubah dan tidak menggenakan ketika dia melihat saya baru saja selesai minum. Dan sedikit perubahan wajah tapi Ia tetap tersenyum dengan manis seraya menanyakan “Are you doing fasting?”
Saya mengangguk dan bersiap untuk menjelaskan padanya. Saya tahu maksud arah pertanyaannya tersebut. Tapi kalimat dan caranya menanyakan sesuatu tanpa bermaksud menghakimi mengajarkan saya banyak hal. Tidak menganggap orang lain atau menghakimi sesuatu dan kita sendiri belum tahu akan kebenaran cerita tersebut. Dan saya pun pernah melakukan kesalahan tersebut. Padahal saya belum tahu mengapa sesuatu dilakukan. Saya belajar banyak dari kalimat tersebut. Setidak-tidaknya, tidak menggulangi kesalahan yang kerap kita lakukan. “Mengapa kamu lakukan ini bla.......” Kita tak pernah berusaha mengubah atau tidak menyadarinya. “Boleh saya tahu mengapa melakukan itu? Mungkin kalimat ini lebih baik karena tidak bermaksud untuk menggagap apa yang dilakukan oleh orang lain adalah sesuatu yang salah. Saya memiliki sebuah cerita. Tentang seorang teman yang memiliki niat baik untuk menyampai sesuatu yang bernilai dakwah, akhirnya harus rusak hanya karena kalimat pertamanya yang salah. Ia bermaksud untuk menanyakan seorang teman yang lainnya, yang saat itu salat tidak menutup aurat. Jadi ia hanya menggenakan pakaian sehari-harinya untuk salat. “Kenapa kamu tidak pakai mukena salat. Salatmu kan batal?” Ternyata pertanyaan itu berbuntut panjang. Yang mengakibatkan kedua belah pihak itu perang dingin. A silly mistake. Tapi cukup meninggalkan “bekas” bagi yang mendengarnya.
Ah, kalimat are you doing fasting, mengajarkan saya untuk berhati-hati menanyakan sesuatu. Sulit karena itu bukan lah sesuatu yang standar. Tapi saya harus belajar untuk terus dan berkomunikasi dengan baik. Karena lidah saya adalah harimau saya yang setiap saat selalu akan menggigit dan seluruh badan saya tentunya akan sakit.

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...