Monday, December 17, 2012

Lelaki dan Doa

Sebelas tahun tak bertemu membuat saya begitu gembira. Teman-teman mengadakan reuni sesama teman satu sekolah dasar dulu. Bayangkan! Selama sebelas tahun! Teman satu sekolah dasar! Dengan senang hati saya menerima undangan dan ajakan teman-teman begitu mereka mengabarinya pada saya.
Kapan lagi? Belum tentu sebelas tahun yang akan datang reuni ini akan kembali lagi digelar. Jadilah lebaran ketiga reuni itu digelar. Saya diingatkan untuk tidak lupa hadir pada acara tersebut. Lagipula tak ada agenda lain pada lebaran ketiga selain bertemu dengan teman-teman yang berpisah selama sebelas tahun yang lalu.
Saya membayangkan bagaimana pertemuan nantinya. Siapa-siapa saja teman yang akan hadir nantinya. Lepas dari semua itu perasaan bahagia dan deg-degan begitu mewakili perasaan saya. Iyalah Sebelas tahun sudah. Tentulah beberapa wajah sudah berubah. Tidak sepolos dan selucu ketika masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar.
Hari “H” pun tiba. Saya tak datang begitu telat. Meskipun tak begitu pagi. Hanya beberapa yang baru hadir. Ternyata saya termasuk yang paling awal tiba dalam acara reuni yang diadakan di salah satu rumah teman reuni.
Setelah menunggu sekian lama, acara tersebut pun dimulai. Seperti ceremonial lainnya, acara tersebut pun terangkai sedemikian rupa. Dari kata sambutan hingga sampai pembacaan do’a. Saya tak begitu antusias melihat schedule, yang menurut saya tak beda dari pertemuan-pertemuan lainnya. Biasa saja!
Namun semuanya menjadi luarbiasa begitu sebuah sesi diserahkan kepada saya. Sebuah acara yang biasanya dikomandoi oleh laki-laki bukan perempuan. Maaf bukan terlalu konvesional tapi saya begitu sedih begitu acara itu diserahkan kepada saya. Acara itu seharusnya diserahkan kepada teman lelaki yang hadir pada saat itu. Bukan kepada saya atau teman wanita lainnya. Pembacaan doa.
Saya begitu gelagap begitu ketika acara do’a diserahkan kepada saya. Insidentil sehingga sayapun tak biasa menolaknya. Dengan perasaan kecewa, sayapun mulai mengirim untai doa untuk Yang Di Atas sana.
Hati saya ciut. Sesaat perasaan malu menghampiri. Ada apa dengan para lelaki itu? Mengapa saya yang harus membaca doa penutup? Mereka menolak. Karena kebetulan mereka melihat saya dengan busana yang saya pakai, jadilah saya yang ditunjuk sebagai pembaca doa.
Entah mengapa, saya malu punya teman seperti mereka. Saya malu pada keadaan saat itu. Saya kecewa, bila suatu hari kelak, jika mereka yang telah dan belum menikah tidak mampu menjadi imam untuk keluarga mereka nantinya. Apa jadinya bila nanti anak-anak mereka tak membanggakan orangtua mereka, hanya karena tak bisa membaca doa. Apalagi menjadi iman kecil dalam keluarga yang akan mereka bina nantinya. Mengapa laki-laki seperti itu?
Wallahu’alam

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...