Sebelas
tahun tak bertemu membuat saya begitu gembira. Teman-teman mengadakan
reuni sesama teman satu sekolah dasar dulu. Bayangkan! Selama sebelas
tahun! Teman satu sekolah dasar! Dengan senang hati saya menerima
undangan dan ajakan teman-teman begitu mereka mengabarinya pada saya.
Kapan
lagi? Belum tentu sebelas tahun yang akan datang reuni ini akan kembali
lagi digelar. Jadilah lebaran ketiga reuni itu digelar. Saya diingatkan
untuk tidak lupa hadir pada acara tersebut. Lagipula tak ada agenda
lain pada lebaran ketiga selain bertemu dengan teman-teman yang berpisah
selama sebelas tahun yang lalu.
Saya
membayangkan bagaimana pertemuan nantinya. Siapa-siapa saja teman yang
akan hadir nantinya. Lepas dari semua itu perasaan bahagia dan deg-degan
begitu mewakili perasaan saya. Iyalah Sebelas tahun sudah. Tentulah
beberapa wajah sudah berubah. Tidak sepolos dan selucu ketika masih
sama-sama duduk di bangku sekolah dasar.
Hari
“H” pun tiba. Saya tak datang begitu telat. Meskipun tak begitu pagi.
Hanya beberapa yang baru hadir. Ternyata saya termasuk yang paling awal
tiba dalam acara reuni yang diadakan di salah satu rumah teman reuni.
Setelah
menunggu sekian lama, acara tersebut pun dimulai. Seperti ceremonial
lainnya, acara tersebut pun terangkai sedemikian rupa. Dari kata
sambutan hingga sampai pembacaan do’a. Saya tak begitu antusias melihat
schedule, yang menurut saya tak beda dari pertemuan-pertemuan lainnya.
Biasa saja!
Namun
semuanya menjadi luarbiasa begitu sebuah sesi diserahkan kepada saya.
Sebuah acara yang biasanya dikomandoi oleh laki-laki bukan perempuan.
Maaf bukan terlalu konvesional tapi saya begitu sedih begitu acara itu
diserahkan kepada saya. Acara itu seharusnya diserahkan kepada teman
lelaki yang hadir pada saat itu. Bukan kepada saya atau teman wanita
lainnya. Pembacaan doa.
Saya
begitu gelagap begitu ketika acara do’a diserahkan kepada saya.
Insidentil sehingga sayapun tak biasa menolaknya. Dengan perasaan
kecewa, sayapun mulai mengirim untai doa untuk Yang Di Atas sana.
Hati saya ciut. Sesaat perasaan malu menghampiri. Ada
apa dengan para lelaki itu? Mengapa saya yang harus membaca doa
penutup? Mereka menolak. Karena kebetulan mereka melihat saya dengan
busana yang saya pakai, jadilah saya yang ditunjuk sebagai pembaca doa.
Entah
mengapa, saya malu punya teman seperti mereka. Saya malu pada keadaan
saat itu. Saya kecewa, bila suatu hari kelak, jika mereka yang telah dan
belum menikah tidak mampu menjadi imam untuk keluarga mereka nantinya.
Apa jadinya bila nanti anak-anak mereka tak membanggakan orangtua
mereka, hanya karena tak bisa membaca doa. Apalagi menjadi iman kecil
dalam keluarga yang akan mereka bina nantinya. Mengapa laki-laki seperti
itu?
Wallahu’alam