Saya
tak memiliki spritual kepenulisan yang hebat. Saya melalui dunia
kepenulisan tidak semenarik yang dilalui oleh banyak orang. Saya hanya
memulainya dengan sebuah buku. Yap sebuah buku harian biasa.
Hanya buku tulis. Itupun tidak saya rawat dengan baik. Ketika buku itu
raib entah kemana, sayapun tak pernah merasakan kehilangan atas
ketiadaan lagi buku yang saya tulis mulai kelas enam sekolah dasar. Tak
ada yang hebat dengan buku itu menurut saya. Dan itu cukup membuat saya
hebat sebagai seorang penulis “amatir”
Hal
lain yang membantu saya dalam kepenulisan adalah hobi berkoresponden
sehingga gara-gara hobi ini wali kelas SD pernah mengingatkan kami untuk
tidak sibuk dengan surat
menyurat yang mengakibatkan nilai kami turun. Maklumlah, alamat yang
saya tulis menggunakan alamat sekolah. Begitu juga dengan teman saya
tersebut. Hanya sebatas itu.
Kelas
satu sekolah menengah pertama, saya mulai paham arti sebuah buku
harian. Apalagi tatkala itu saya baru mengenal rasanya jatuh cinta.
Cinta pertama. Maka penuhlah buku harian saya dengan ungkapan perasaan
yang saya miliki. Lagi-lagi soal cinta. Babak cinta terurai dengan baik
dalam buku harian bersampul merah itu. Walaupun orang yang saya cintai
tak tahu menahu soal perasaan saya itu. Saya asyik-asyik aja. He…
Saya
begitu menikmatinya. Tak ada satupun yang mampu menghalangi perasaan
yang saya miliki untuk terus tumbuh dalam hati ini. Pun perasaan itu
tidak begitu membebankan saya untuk menceritakannya tanpa malu-malu pada
buku itu.
Tapi
semua itu menjadi beda ketika saudara saya menemukan catatan harian
yang saya simpan diam-diam akhirnya Ia temukan juga. Ia membaca tulisan
dan perasaan tanpa sedikitpun merasa bersalah. Sikapnya yang demikian
membuat saya benar-benar jengkel. Efeknya saya membakar buku harian itu.
Saya malu bila orang lain akan membaca lagi buku itu. Habislah rahasia
terbongkar.
Lama-lama
setelah saya memiliki buku harian lain, saya menyesali telah membakar
buku itu. Bukankah buku itu “manuskrip” tentang hidup saya. Ah, betapa
sesalnya saya.
Sudahlah
saya tak ingin menyesali sesuatu yang telah “pergi”. Sayapun kembali
menorehnya pada lembaran lain. Saya akan merasa “hebat” bila saya mampu
menuangkan dengan baik apa yang saya rasakan. Saya akan puas bila telah
mendeskripsikannya dengan panjang lebar tentang apa yang saya impikan.
Maka
saya benar-benar telah menjadi penulis “hebat” karena buku harian itu.
Dan saya amat puas bila kelak buku itu saya buka kembali. Senyum simpul
akan terpancarkan dari diri saya. Malu, geli mengingat semua tulisan di
dalamnya. Saya seperti bercermin siapa saya sebenarnya. Selanjutnya,
jadilah saya orang yang amat beruntung karena buku harian itu.
Namun
saya harus kehilangan “manuskrip” kedua saya itu karena badai tsunami
menghantam apa saja yang saya miliki termasuk buku harian itu. Yang
tersusun diantara buku-buku lainnya.
Saya
tersentak saat teringat bahwa buku harian itu telah menjadi bubur.
Ketika menginventarisir benda-benda yang rusak karena air bah itu,
sedikitpun saya tak ingat ternyata catatan harian saya ikut terbawa
arus. Lemaslah seluruh persendiaan. Buku harian saya itu sudah menjadi
bubur. Saya seperti kehilangan orang yang teramat saya cintai. Nafsu
makan saya hilang. Semangat untuk melakukan sesuatu lenyap entah kemana.
Saat
saya kembali ke rumah kos saya tersebut—kendati tidak rubuh--saya tak
mampu lagi menginjakan kaki untuk masuk kedalamnya. Dada saya sesak.
Belum lagi bening kecil itu mendesak untuk ikut merasakan apa yang saya
alami. Pulang! Saya memutuskan untuk tidak masuk. Karena
ketidaksanggupan saya mengenang sahabat yang saya cintai juga ikut
pergi. Ia yang saya anggap buku harian yang lain pun ikut pergi untuk
selamanya.
Setiap
kali memandang buku harian saya yang lainnya, ingatan saya akan
terkenang akan buku yang hilang itu. Buku itu pergi membawa banyak
kenangan yang saya toreh didalamnya dan hampir membawa rasa “hebat” yang
saya punyai karena tulisan dalam buku harian tersebut.