Tuesday, December 18, 2012

Buku Harian

Saya tak memiliki spritual kepenulisan yang hebat. Saya melalui dunia kepenulisan tidak semenarik yang dilalui oleh banyak orang. Saya hanya memulainya dengan sebuah buku. Yap sebuah buku harian  biasa. Hanya buku tulis. Itupun tidak saya rawat dengan baik. Ketika buku itu raib entah kemana, sayapun tak pernah merasakan kehilangan atas ketiadaan lagi buku yang saya tulis mulai kelas enam sekolah dasar. Tak ada yang hebat dengan buku itu menurut saya. Dan itu cukup membuat saya hebat sebagai seorang penulis “amatir”
Hal lain yang membantu saya dalam kepenulisan adalah hobi berkoresponden sehingga gara-gara hobi ini wali kelas SD pernah mengingatkan kami untuk tidak sibuk dengan surat menyurat yang mengakibatkan nilai kami turun. Maklumlah, alamat yang saya tulis menggunakan alamat sekolah. Begitu juga dengan teman saya tersebut. Hanya sebatas itu. 
Kelas satu sekolah menengah pertama, saya mulai paham arti sebuah buku harian. Apalagi tatkala itu saya baru mengenal rasanya jatuh cinta. Cinta pertama. Maka penuhlah buku harian saya dengan ungkapan perasaan yang saya miliki. Lagi-lagi soal cinta. Babak cinta terurai dengan baik dalam buku harian bersampul merah itu. Walaupun orang yang saya cintai tak tahu menahu soal perasaan saya itu. Saya asyik-asyik aja. He…
Saya begitu menikmatinya. Tak ada satupun yang mampu menghalangi perasaan yang saya miliki untuk terus tumbuh dalam hati ini. Pun perasaan itu tidak begitu membebankan saya untuk menceritakannya tanpa malu-malu pada buku itu.
Tapi semua itu menjadi beda ketika saudara saya menemukan catatan harian yang saya simpan diam-diam akhirnya Ia temukan juga. Ia membaca tulisan dan perasaan tanpa sedikitpun merasa bersalah. Sikapnya yang demikian membuat saya benar-benar jengkel. Efeknya saya membakar buku harian itu. Saya malu bila orang lain akan membaca lagi buku itu. Habislah rahasia terbongkar.
Lama-lama setelah saya memiliki buku harian lain, saya menyesali telah membakar buku itu. Bukankah buku itu “manuskrip” tentang hidup saya. Ah, betapa sesalnya saya.
Sudahlah saya tak ingin menyesali sesuatu yang telah “pergi”. Sayapun kembali menorehnya pada lembaran lain. Saya akan merasa “hebat” bila saya mampu menuangkan dengan baik apa yang saya rasakan. Saya akan puas bila telah mendeskripsikannya dengan panjang lebar tentang apa yang saya impikan.
Maka saya benar-benar telah menjadi penulis “hebat” karena buku harian itu. Dan saya amat puas bila kelak buku itu saya buka kembali. Senyum simpul akan terpancarkan dari diri saya. Malu, geli mengingat semua tulisan di dalamnya. Saya seperti bercermin siapa saya sebenarnya. Selanjutnya, jadilah saya orang yang amat beruntung karena buku harian itu.
Namun saya harus kehilangan “manuskrip” kedua saya itu karena badai tsunami menghantam apa saja yang saya miliki termasuk buku harian itu. Yang tersusun diantara buku-buku lainnya.
Saya tersentak saat teringat bahwa buku harian itu telah menjadi bubur. Ketika menginventarisir benda-benda yang rusak karena air bah itu, sedikitpun saya tak ingat ternyata catatan harian saya ikut terbawa arus. Lemaslah seluruh persendiaan. Buku harian saya itu sudah menjadi bubur. Saya seperti kehilangan orang yang teramat saya cintai. Nafsu makan saya hilang. Semangat untuk melakukan sesuatu lenyap entah kemana.
Saat saya kembali ke rumah kos saya tersebut—kendati tidak rubuh--saya tak mampu lagi menginjakan kaki untuk masuk kedalamnya. Dada saya sesak. Belum lagi bening kecil itu mendesak untuk ikut merasakan apa yang saya alami. Pulang! Saya memutuskan untuk tidak masuk. Karena ketidaksanggupan saya mengenang sahabat yang saya cintai juga ikut pergi. Ia yang saya anggap buku harian yang lain pun ikut pergi untuk selamanya.
Setiap kali memandang buku harian saya yang lainnya, ingatan saya akan terkenang akan buku yang hilang itu. Buku itu pergi membawa banyak kenangan yang saya toreh didalamnya dan hampir membawa rasa “hebat” yang saya punyai karena tulisan dalam buku harian tersebut.

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...