Saya
belum menikah. Tapi saya suka mendengar nasehat tentang bagaimana
pernikahan itu. Bagaimana memilih pasangan nantinya. Tentang kehidupan
yang dijalan nantinya. Pokoknya segala hal yang berbau pernak pernik
pernikahan.
Namun
entah mengapa saya tak suka membaca buku yang terlalu berteori tentang
pernikahan yang indah. Saya lebih senang mendengar langsung atau membaca
yang sifatnya pengalaman. Menurut saya itu lebih memperkaya pengalaman
batin secara tidak langsung.
Adalah
bab tentang bagaimana memilih jodoh merupakan salah satu bab yang
begitu saya simak dengan baik pada tiap bab pernikahan dibahas.
Gampang-gampang susah sih menurut cerita yang saya dengar.
Bab
ini menurut banyak orang berpesan untuk selektif memilih karena menikah
adalah persoalan seumur hidup. Namun jangan terlalu selektif
bagaimanapun kesempurnaan bukanlah milih manusia. Saya sepakat.
Kesempurnaan hanya dipunyai oleh Yang Maha Kuasa. Sepupu saya pernah
berpesan,”Udah deh, gak usah cinta-cinta kali.” Hmm saya makin bingung
karena perkataannya itu.
Sebuah
kasus yang saya lihat dengan cermat ketika pendamping tak lagi menjadi
telaga yang menyejukan atau pernikahan bukan lagi proses yang
membahagiakan kedua pihak. Siapa yang salah? Takdir? Karena tak berpihak
pada mereka. Sungguh tak enak bila mendengar gunjang ganjing pernikahan
salah satunya adalah penyebabnya tak harmonisnya pernikahan karena
takdir. Bukankah Tuhan menawarkan kita manusia untuk memilih hidup yang
seperti apa yang akan kita jalani nantinya. Entahlah mungkin manusia
punya jalan pikiran yang terkadang sangat sulit untuk dipahami.
Kembali
lagi pada kasus yang saya maksud. Saya menemukan dua buah keluarga yang
ternyata sama-sama pada akhirnya memiliki pasangan yang kurang waras.
Heran menelingkupi dan sebuah pertanyaan terbersit. Tidakah mereka
tahu-sebelum menikah-bahwa “potensi” pasangannya itu ternyata mengancam
keutuhan keluarga yang mereka bangun? Wallahu’alam.
Hati
saya terkecoh untuk mengetahui jejak mereka hingga berlabuh pada sebuah
dermaga yang bernama perkawinan. Bukan maksud untuk memata-matai-pun
dimana kepentingan itu akan mengalir-saya hanya ingin meneliti bab
tentang bagaimana memilih pasangan yang saya dapatkan. Atau
menganalisanya sedikit lebih jauh.
Dari
informasi yang saya terima ternyata, pasangan yang pertama melalui masa
pacaran selama tujuh tahun. Sedangkan pasangan kedua tak melalui masa
pacaran itu.
Lantas,
apa yang membedakan keduanya? Timbul satu pertanyaan dalam hati untuk
pasangan pertama, tidakkah Ia bertanya tentang siapa lelaki pilihannya?
Apa yang mereka lakukan hingga masa tujuh tahun itu? Tak mampukah
menggali informasi sebanyak-banyak tentang calonnya? Atau satunya lagi,
meski mereka tak pacaran tak adakah seseorang yang memberitahukan
tentang kondisi calonnya? Mungkin indahnya cerita pernikahan telah
menghantarkan ia lupa menanya seluk beluk pasangannya. Padahal
pernikahan bukanlah membicarakan hal yang indah-indah saja. Seringkali
kesulitan terkadang justru mengusik biduk rumahtangga.
Sebuah
nasihat agama yang tertanam dalam benak saya. Janganlah kamu mendekati
zina (baca:pacaran). Salah satu akibatnya pacaran seringkali membuat
kita menutup mata tentang apa kekurangan pasangan kita. Tapi agama tak
pernah melarang untuk menggali informasi tentang kelebihan dan
kekurangan siapa calon suami atau istri. Dan itu semua bukanlah ghibah
bila kekurang itu diketahui.
Anda setujukan dengan saya?
Langsa, 10.05.05