Monday, December 17, 2012

Dua Lelaki Gila

Saya belum menikah. Tapi saya suka mendengar nasehat tentang bagaimana pernikahan itu. Bagaimana memilih pasangan nantinya. Tentang kehidupan yang dijalan nantinya. Pokoknya segala hal yang berbau pernak pernik pernikahan.
Namun entah mengapa saya tak suka membaca buku yang terlalu berteori tentang pernikahan yang indah. Saya lebih senang mendengar langsung atau membaca yang sifatnya pengalaman. Menurut saya itu lebih memperkaya pengalaman batin secara tidak langsung.
Adalah bab tentang bagaimana memilih jodoh merupakan salah satu bab yang begitu saya simak dengan baik pada tiap bab pernikahan dibahas. Gampang-gampang susah sih menurut cerita yang saya dengar.
Bab ini menurut banyak orang berpesan untuk selektif memilih karena menikah adalah persoalan seumur hidup. Namun jangan terlalu selektif bagaimanapun kesempurnaan bukanlah milih manusia. Saya sepakat. Kesempurnaan hanya dipunyai oleh Yang Maha Kuasa. Sepupu saya pernah berpesan,”Udah deh, gak usah cinta-cinta kali.” Hmm saya makin bingung karena perkataannya itu.
Sebuah kasus yang saya lihat dengan cermat ketika pendamping tak lagi menjadi telaga yang menyejukan atau pernikahan bukan lagi proses yang membahagiakan kedua pihak. Siapa yang salah? Takdir? Karena tak berpihak pada mereka. Sungguh tak enak bila mendengar gunjang ganjing pernikahan salah satunya adalah penyebabnya tak harmonisnya pernikahan karena takdir. Bukankah Tuhan menawarkan kita manusia untuk memilih hidup yang seperti apa yang akan kita jalani nantinya. Entahlah mungkin manusia punya jalan pikiran yang terkadang sangat sulit untuk dipahami.
Kembali lagi pada kasus yang saya maksud. Saya menemukan dua buah keluarga yang ternyata sama-sama pada akhirnya memiliki pasangan yang kurang waras. Heran menelingkupi dan sebuah pertanyaan terbersit. Tidakah mereka tahu-sebelum menikah-bahwa “potensi” pasangannya itu ternyata mengancam keutuhan keluarga yang mereka bangun? Wallahu’alam.
Hati saya terkecoh untuk mengetahui jejak mereka hingga berlabuh pada sebuah dermaga yang bernama perkawinan. Bukan maksud untuk memata-matai-pun dimana kepentingan itu akan mengalir-saya hanya ingin meneliti bab tentang bagaimana memilih pasangan yang saya dapatkan. Atau menganalisanya sedikit lebih jauh.
Dari informasi yang saya terima ternyata, pasangan yang pertama melalui masa pacaran selama tujuh tahun. Sedangkan pasangan kedua tak melalui masa pacaran itu.
Lantas, apa yang membedakan keduanya? Timbul satu pertanyaan dalam hati untuk pasangan pertama, tidakkah Ia bertanya tentang siapa lelaki pilihannya? Apa yang mereka lakukan hingga masa tujuh tahun itu? Tak mampukah menggali informasi sebanyak-banyak tentang calonnya? Atau satunya lagi, meski mereka tak pacaran tak adakah seseorang yang memberitahukan tentang kondisi calonnya? Mungkin indahnya cerita pernikahan telah menghantarkan ia lupa menanya seluk beluk pasangannya. Padahal pernikahan bukanlah membicarakan hal yang indah-indah saja. Seringkali kesulitan terkadang justru mengusik biduk rumahtangga.
Sebuah nasihat agama yang tertanam dalam benak saya. Janganlah kamu mendekati zina (baca:pacaran). Salah satu akibatnya pacaran seringkali membuat kita menutup mata tentang apa kekurangan pasangan kita. Tapi agama tak pernah melarang untuk menggali informasi tentang kelebihan dan kekurangan siapa calon suami atau istri. Dan itu semua bukanlah ghibah bila kekurang itu diketahui.
Anda setujukan dengan saya? 
    
Langsa, 10.05.05

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...