Namanya
Congstance Cogswell. Saya merasa sedikit kesulitan ketika memanggil
nama panjangnya itu. Tapi nama kecilnya lebih mudah untuk diingat,
Connie. Mulanya, saat pertama kali bertemu dengannya, saya merasa tak
nyaman. Gaya bicaranya persis seperti orang hangover.
Apalagi ketika teman-teman yang lain “menakuti”. “Jangan-jangan dia
pemabuk, Intan. Hati kecil saya menolak. Mustahil rasanya ILI, memilih
orang yang salah untuk menjadi host family. Hati saya sedikit agak
tenang, ketika hati kecil menguatkan saya. Dan Ia pun tahu ketika saya
merasa tidak nyaman dan gugup bertemu dengan sesuatu yang baru. Saya
hanya tersenyum ketika dia tahu. Lalu katanya, saya akan membuatmu
merasa nyaman di rumah saya, Intan. “Don’t worry, Intan.”
Malam
pertama kehadiran saya di rumahnya, Ia menawarkan bantuannyanya untuk
menemani saya mencari makanan, sekedar untuk menganjalkan perut. Ia tahu
saya menghabiskan waktu 22 jam perjalanan udara. Katanya ada gado-gado.
Saya hanya mengikuti sarannya. Sedikit penasaran sih dengan gado-gado
yang Ia maksud. Tapi, tak apalah. Benar ternyata dugaan saya, jelas ini
bukan gado-gado Indonesia tapi “goda-goda”(gado-gado ala Amerika). Wajah
saya terlihat berkerut, saat suapan pertama saya nikmati. “Is it
differennt, Intan? Tak mungkin rasanya berbohong. Expresi wajah saya
telah menjelaskan semua tentang rasa gado-gado itu. “Little bit
different.” Ujar saya berbohong. It’s not a little bit, but totally
different.
Dan,
Ia benar-benar memenuhi janjinya. Ia memberikan kamar yang begitu
nyaman. Dengan design yang begitu menawan. Walaupun saya tahu, bahwa
rumahnya tidaklah begitu tertata rapi. Tapi tidak untuk kamar tidur
saya. Ia melakukan itu. Ia ingin, saya benar-benar senang tinggal
dirumahnya. Tak hanya itu, dilain waktu, ia memberikan sekaleng permen
karet untuk menemani saya belajar. “Kalau nanti habis, beritahukan saya
ya?” Belum lagi pemberiannya yang lain. Dari rok, bross, teflon yang
masih berkotak, kembang dll. Sering kali Ia menawarkan ini itu untuk
saya.
Soal makanan, Ia tahu saya begitu strict.
Sering kali saya harus mengecewakannya. Sering kali saya harus menolak
tawarannya. Atau jika saya menerima tawaran masakannya, saya harus
memastikan bahwa makanan yang dimasaknya benar-benar “aman” untuk saya
makan. “Sorry, Connie, I can’t eat it.” Okay, intan. Saya menyesal tidak
bisa menerima tawarannya. I do love my God.
Suatu
hari, Ia memasak makanan, yang sendiri tak tahu apa nama masakannya. Ia
menjelaskan bumbu yang Ia memasak. Ia ingin memastikan bahwa saya dapat
memakan masakannya. Saya terharu dibuatnya. Ia begitu menghargai
keyakinan saya. Ia benar-benar take a good care for me.
Dibalik
kebaikannya, saya menduga, Ia hanya mengexpresskan motherhoodnya. Saya
tahu bahwa Ia rindu pada putri semata wayangnya. Lebih dari itu,
hubungan mereka tidak lah harmonis. Mereka mempunyai pandangan yang
berbeda. Apakah ada orang lain di rumah ini? Itu termasuk pertanyaan
pertama yang saya tujukan. Ya. Saya punya seorang putri. Sorry, i don’t
tell it. Nevermind.
Belakang
hari, Connie mulai bercerita apa saja tentang hidupnya. Ia mulai tak
keberatan bercerita tentang putrinya atau yang lain. Hal yang tidak umum
dilakukan oleh American. Ya, saya tahu. Ia kesepian. Ia butuh teman
bicara. Tidak lebih. Setiap waktu saya makan, Ia selalu berusaha
meluangkan waktunya untuk menemani saya. Atau jika tidak dapat
melakukannya, seperti biasa Ia meminta maaf.
Dan
hari ini, Ia bercerita tentang putrinya yang selalu beda dengannya.
Putrinya tak senang dengannya. Padahal ia telah mencoba untuk menjadi
ibu yang baik untuknya. Lewat ceritanya, Ia berusaha tegar. “Have you
asked to her why she is angry with you?” Ia menggeleng. Dan kemudian
meneruskannya dengan tangisan. Saya benar-benar tak menduga. Ia
menyimpan sedihnya sendiri. “I don’t know, Intan.”
Kalimatnya itu terus terekam sampai sekarang. Ah, komunikasi masih saja terlalu sulit untuk dipahami.
Northampton, pagi seperti biasanya.