Saya
menyesal. Setelah berbulan-bulan masa pembuatan film Ketika dan Denias,
dan telah dipublikasikan, barulah saya menonton. Seharusnya saya
menonton kedua film ini Ketika
dan Denias, sejak dari dulu. Setidak, saya selalu punya semangat untuk
melihat film Indonesia dari adegan-adegan yang menyesakan.
Kedua
film tersebut memberikan banyak hal untuk Indonesia kita. Film Denias
menawarkan sesuatu yang baru. Mengapa baru? Pertama, Film yang waktu shooting-nya
menghabiskan waktu 30 hari sejak 10 Mei-14 Juni 2006 di Papua itu,
menampilkan panorama Pegunungan Cartenz yang bersalju, keelokan punggung
pegunungan Jawawijaya dengan lengkung pelanginya,.
Kedua,
ada sesuatu yang baru dalam film Denias ini khususnya bagi perfilman
Indonesia. Sesuatu yang sangat tidak akrab dengan kehidupan kita. Saya
belajar banyak dari adat budaya yang ditampilkan dalam Film Denias ini.
Misalnya, pemotongan jari tangan jika ada salah satu anggota keluarga
meninggal dunia. Kemudian, Film Denias, Senandung di atas Awan
mengangkat nilai-nilai edukasi. Pendidikan memang banyak mendapatkan
perhatian dari banyak orang. Tapi lagi, pembicaraan selalu saja pada
ranah teori. Namun tergagap dalam implementasinya. Apalagi dalam
perfilman Indonesia. Lain halnya dengan Denias ini, film ini memberikan
pelajaran yang begitu berarti. Setidaknya bagi saya. Untuk sesuatu yang
mudah didapat, kesempatan untuk sekolah dasar, Denias harus berjuang
keras. Denias seorang anak dari Suku Kurulu
di Kampung Arwanop, pedalaman Wamena, Papua. Ia tidak terlahir sebagai
anak kepala suku dan orang kaya. Akan tetapi tekadnya melebih dari
kekayaan harta yang dipunyai banyak banyak orang. Tekad. Terakhir
untuk menwujudkan mimpinya, Ia harus menakluk alam, membelah gunung dan
menyeberang sungai hanya untuk mencari satu. Kesempatan belajar, sebuah
keinginan untuk maju. Tentunya masih banyak Denias-Denias yang lain
sana, di sebuah negeri bernama Indonesia. Semangat Denias untuk
belajar perlu menjadi contoh bagi anak-anak Indonesia lainnya. Terlepas
dari kurangan yang dimiliki, dan kekurangan itu tidak menganggu jalan cerita Film Denias ini, saya setuju jika Denias adalah film wajib yang harus ditonton oleh semua anak Indonesia.
Film
berikutnya adalah Ketika, garapan Dedi Mizwar. Dari judulnya, sepintas
terlihat judul yang dipilih tidak begitu komersil. Wait? Jangan berhenti
untuk menontonnya. Film merupakan sebuah keinginan bila suatu ketika
negara kita, Indonesia, mampu menegakan hukum, pendidikan murah, dan
fakir miskin dan anak yatim menjadi tanggungan negara.
Ya. Suatu ketika
Saya
bingung, apakah film ini kategori komedi atau bukan. Terlepas dari
kriteria sebuah perfilman, saya sepakat jika film ini dikategori sebagai
film jenis komedi. Banyak lelucon yang ditampilkan. Misalnya, “Hari ini
kita masak apa, Bu?” Sama seperti kemarin, sup yang banyak kuahnya.”
Sambil menunjukan sup yang ada hanya sepotong tulang. Atau “Loh, kita
orang miskin tapi makanannya kok seperti orang kaya.” Dan bahasa tutur
yang diucapkan oleh pemainnya memberikan banyak perenungan.
“Nut, Gimana sih rasanya jadi orang miskin?”
“Biasa aja gak ada rasa apa-apa.”
“Kamu sedang masa percobaan jadi orang miskin.”
“Wuih, 30 ribu banyak amat, Pa?
Saya
jadi ingat ketika kuliah dulu. Saat di kantong hanya ada uang seribu
rupiah. Uang terasa begitu banyak dan bernilai. Jadi, meski sedikit,
mensyukuri nikmat-Nya harus jalan terus.
Lagi,
jalan cerita film ini memberikan warna tersendiri. Terkadang saya
tertawa sendiri, sedangkan airmata saya terus mengalir. Saya menangis
karena film ini mengajarkan syukur yang amat sangat dalam. Setidaknya
jika sedang berada dalam posisi manapun, baik kaya atau miskin, tetap
tersenyum. Enjoy meski bangkrut! Seperti kata pengirim film ini. Intinya
terus berdoa dan berusaha. Pesan yang disampai oleh sang pembantu dalam
film ini.
Berdoa dan berusaha adalah dua kata kunci yang diajarkan oleh agama.
Terlepas
segala kekurangan di sana-sini, saya ingin merekomendasikan siapa saja
untuk menonton film ini. Sebab film ini memang layak menjadi tontonan
kita.