Tuesday, December 18, 2012

Ketika, Denias, Di tengah-tengah kita. Sebuah Catatan untuk film Indonesia

Saya menyesal. Setelah berbulan-bulan masa pembuatan film Ketika dan Denias, dan telah dipublikasikan, barulah saya menonton. Seharusnya saya menonton kedua film  ini Ketika dan Denias, sejak dari dulu. Setidak, saya selalu punya semangat untuk melihat film Indonesia dari adegan-adegan yang menyesakan.
Kedua film tersebut memberikan banyak hal untuk Indonesia kita. Film Denias menawarkan sesuatu yang baru. Mengapa baru? Pertama, Film yang waktu shooting-nya menghabiskan waktu 30 hari sejak 10 Mei-14 Juni 2006 di Papua itu, menampilkan panorama Pegunungan Cartenz yang bersalju, keelokan punggung pegunungan Jawawijaya dengan lengkung pelanginya,.
Kedua, ada sesuatu yang baru dalam film Denias ini khususnya bagi perfilman Indonesia. Sesuatu yang sangat tidak akrab dengan kehidupan kita. Saya belajar banyak dari adat budaya yang ditampilkan dalam Film Denias ini. Misalnya, pemotongan jari tangan jika ada salah satu anggota keluarga meninggal dunia. Kemudian, Film Denias, Senandung di atas Awan mengangkat nilai-nilai edukasi. Pendidikan memang banyak mendapatkan perhatian dari banyak orang. Tapi lagi, pembicaraan selalu saja pada ranah teori. Namun tergagap dalam implementasinya. Apalagi dalam perfilman Indonesia. Lain halnya dengan Denias ini, film ini memberikan pelajaran yang begitu berarti. Setidaknya bagi saya. Untuk sesuatu yang mudah didapat, kesempatan untuk sekolah dasar, Denias harus berjuang keras. Denias seorang anak dari Suku Kurulu di Kampung Arwanop, pedalaman Wamena, Papua. Ia tidak terlahir sebagai anak kepala suku dan orang kaya. Akan tetapi tekadnya melebih dari kekayaan harta yang dipunyai banyak banyak orang. Tekad. Terakhir untuk menwujudkan mimpinya, Ia harus menakluk alam, membelah gunung dan menyeberang sungai hanya untuk mencari satu. Kesempatan belajar, sebuah keinginan untuk maju. Tentunya masih banyak Denias-Denias yang lain sana, di sebuah negeri bernama Indonesia. Semangat Denias  untuk belajar perlu menjadi contoh bagi anak-anak Indonesia lainnya. Terlepas dari kurangan yang dimiliki, dan kekurangan itu tidak  menganggu jalan cerita Film Denias ini, saya setuju jika Denias adalah film wajib yang harus ditonton oleh semua anak Indonesia.
 Film berikutnya adalah Ketika, garapan Dedi Mizwar. Dari judulnya, sepintas terlihat judul yang dipilih tidak begitu komersil. Wait? Jangan berhenti untuk menontonnya. Film merupakan sebuah keinginan bila suatu ketika negara kita, Indonesia, mampu menegakan hukum, pendidikan murah, dan fakir miskin dan anak yatim menjadi tanggungan negara.
Ya. Suatu ketika
Saya bingung, apakah film ini kategori komedi atau bukan. Terlepas dari kriteria sebuah perfilman, saya sepakat jika film ini dikategori sebagai film jenis komedi. Banyak lelucon yang ditampilkan. Misalnya, “Hari ini kita masak apa, Bu?” Sama seperti kemarin, sup yang banyak kuahnya.” Sambil menunjukan sup yang ada hanya sepotong tulang. Atau “Loh, kita orang miskin tapi makanannya kok seperti orang kaya.” Dan bahasa tutur yang diucapkan oleh pemainnya memberikan banyak perenungan.
“Nut, Gimana sih rasanya jadi orang miskin?”
“Biasa aja gak ada rasa apa-apa.”
“Kamu sedang masa percobaan jadi orang miskin.”
“Wuih, 30 ribu banyak amat, Pa?
Saya jadi ingat ketika kuliah dulu. Saat di kantong hanya ada uang seribu rupiah. Uang terasa begitu banyak dan bernilai. Jadi, meski sedikit, mensyukuri nikmat-Nya harus jalan terus.
Lagi, jalan cerita film ini memberikan warna tersendiri. Terkadang saya tertawa sendiri, sedangkan airmata saya terus mengalir. Saya menangis karena film ini mengajarkan syukur yang amat sangat dalam. Setidaknya jika sedang berada dalam posisi manapun, baik kaya atau miskin, tetap tersenyum. Enjoy meski bangkrut! Seperti kata pengirim film ini. Intinya terus berdoa dan berusaha. Pesan yang disampai oleh sang pembantu dalam film ini.
Berdoa dan berusaha adalah dua kata kunci yang diajarkan oleh agama.
Terlepas segala kekurangan di sana-sini, saya ingin merekomendasikan siapa saja untuk menonton film ini. Sebab film ini memang layak menjadi tontonan kita.

Homedecor Ala Seri's Choice

Bagi pencinta drama korea, tentu drama seri Crash Landing On You (CLOY) meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi pecinta drama te...