Power
of love.
Itu ungkapan kalimat yang selalu diungkapkan teman saya. Ia
selalu tidak dapat mendisposisikan perasaannya tersebut. Ia selalu
terjerat oleh perasaannya sendiri. Selalu berada dalam bayangan semu. Ia
sadar betul dengan perasaannya tersebut. Cinta yang dimilikinya membuat
ia tidak dapat berpikir secara rasional. “Keringanannya” membantu
lelaki itu tidak lebih karena rasa yang dimilikinya. Pun dia sadar
ketika lelaki itu terkesan seperti memanfaatkan posisinya. Saat ia
butuhkan lain tidak. Meskipun saya tidak memungkirinya ia terkenal
sebagai sosok yang sering membantu rekan-rekannya.
Seperti biasa ia dihubungi
oleh temannya tersebut. Ia diminta untuk membantunya menyelesaikan tugas
akhir lelaki itu. Dengan rasa yang dimilikinya, ia ringan saja membantu
meskipun terkadang, ia mengeluh, ia dihubungi bila ada keinginan dari
temannya sehingga malah terkesan azas manfaat. Tapi Ia tetap saja tidak
mampu menolaknya. Ia memiliki kebahagiaan lebih bila membantu lelaki itu
mesakipun rasa itu tidak dimilikioleh temannya. Entah mengapa bila ia
membantu lelaki tersebut ia merasa lebih “ikhlas” ,” jelasnya pada saya.
Begitupun halnya dengan saya. Saya pernah mencoba untuk mengingatkannya atas segala perhatian yang diberikan. Sungguh, saya hanya tidak ingin ia semakin menderita dengan perasaannya sendiri sebab ia berada dalam posisi bertepuk sebelah tangan.
“Terkadang saya sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada diri saya ini,” ujarnya sesaat. Tuturnya,” Saya pun ingin segera lepas dari kondisi ini, tapi sangat sulit untuk mengahadapi kenyataan”. Saya hanya tersenyum. Andaikan ia dapat berpikir secar bijak tentu saj ia dapat membuat sebuah keputusan dalam hidupnya. Yap, dengan menjaga jarak. Saya pikir itu yang tepat. Meskipun itu tidak sesederhana yang dibayangkan apalagi bagi dirinya.
Bila saya membaca ungkapan love is blind. Cinta itu buta. Benak saya dipenuhi olehnya. Mungkin itu yang dialami oleh teman saya ini. Membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Saya selalu berharap, suatu saat ia dapat mengelola rasa cintanya itu dalam bingkai keilahian. Alangkah indahnya bila bantuan yang diberikan bukan karena cinta tapi karena persahabatan. Tepatnya karena ukhuwah islamiyah.
Saya pernah menemukan sebuah kalimat bijak –yang mengajarkan saya tentang cinta juga persahabatan.
“ Rasa hormat tidak akan pernah membawa kepada persahabatan tapi persahabatan tidak akan pernah ada tanpa rasa hormat. Inilah yang membuat persahabatan lebih dari sekedar rasa cinta”. Ah, andaikan ia tahu.
Begitupun halnya dengan saya. Saya pernah mencoba untuk mengingatkannya atas segala perhatian yang diberikan. Sungguh, saya hanya tidak ingin ia semakin menderita dengan perasaannya sendiri sebab ia berada dalam posisi bertepuk sebelah tangan.
“Terkadang saya sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada diri saya ini,” ujarnya sesaat. Tuturnya,” Saya pun ingin segera lepas dari kondisi ini, tapi sangat sulit untuk mengahadapi kenyataan”. Saya hanya tersenyum. Andaikan ia dapat berpikir secar bijak tentu saj ia dapat membuat sebuah keputusan dalam hidupnya. Yap, dengan menjaga jarak. Saya pikir itu yang tepat. Meskipun itu tidak sesederhana yang dibayangkan apalagi bagi dirinya.
Bila saya membaca ungkapan love is blind. Cinta itu buta. Benak saya dipenuhi olehnya. Mungkin itu yang dialami oleh teman saya ini. Membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Saya selalu berharap, suatu saat ia dapat mengelola rasa cintanya itu dalam bingkai keilahian. Alangkah indahnya bila bantuan yang diberikan bukan karena cinta tapi karena persahabatan. Tepatnya karena ukhuwah islamiyah.
Saya pernah menemukan sebuah kalimat bijak –yang mengajarkan saya tentang cinta juga persahabatan.
“ Rasa hormat tidak akan pernah membawa kepada persahabatan tapi persahabatan tidak akan pernah ada tanpa rasa hormat. Inilah yang membuat persahabatan lebih dari sekedar rasa cinta”. Ah, andaikan ia tahu.