Tsunami
pergi setelah Ia mengambil dengan “paksa” siapa saja yang saya cintai.
Tanpa peduli bagaimana kehidupan saya sesudahnya. Sedih pasti.
Kehilangan juga. Tapi apa boleh dikata kalau ternyata saya harus belajar
dari semua itu. Tentang apa yang tidak saya sukai. Tentang kenyataan
yang tak selalu sesuai dengan harapan.
Terlepas
semua itu tsunami meninggalkan jejak yang begitu mendalam. Saya belajar
banyak hal darinya. Belajar untuk kehilangan orang-orang yang saya
cintai. Sebelum tsunami datang, jarang sekali bahkan hampir tak pernah
saya belajar untuk bersiap-siap jika Dia akan mengambil orang-orang yang
saya kasihi dan sayangi. Kalaupun ada, saya tidak mampu melewati babak
itu dengan baik. Selalu saja ada episode sesal mengapa itu terjadi pada
saya. Atau airmata, lama baru menyusut dan itupun saya lewati dengan
amat sangat terpaksa. Saya ingin ending setiap episode seperti yang saya harapkan. Semua luput kalau ada “sutradara” yang tidak bisa saya atur skenarioNya.
Tsunami
datang, saya belajar tentang yang tak mampu saya hadapi sebelumnya.
Banyak teori datang sebelumnya untuk saya aplikasikannya. Tsunami
mengajarkan itu dengan elegan kepada saya. Ia mengajarkan bagaimana
teori tersebut dapat saya aplikasikan dengan baik. Membuat saya menerima
semua itu dengan lapang. Membuat saya tak harus menyesali apa yang
telah terjadi pada saya. Putaran episode yang tampak manakala tsunami
hadir membuat saya bercermin akan banyak hal di dalamnya.
Saya tak ingin seperti dulu kehilangan moment untuk menguji seberapa besar dalamnya cinta saya padaNya. Ada
kenikmatan yang saya nikmati dan semua itu tak mampu saya ukur dengan
logika semata. Saya ingin membaca cintaNya dari setiap pelajaran yang
diwariskan lewat tsunami. Tenyata semua itu beda dari prasangka saya
sebelumnya. Sebuah kesimpulan dapat saya tarik: SAYA SALAH.
Ada
berjuta hikmah yang saya rasakan dari balik tsunami yang telah
memporak- porandakan harapan hidup yang saya miliki. Lapang dada yang
jarang saya miliki justru itu, kini saya punyai. Saya jadi lebih tenang
memandang hidup saya ke depan. Saya jadi orang yang lebih arif--menurut
saya—untuk melihat masa depan yang akan saya terima nanti. Saya
menemukan mutiara yang saya selami hingga dasar. Ternyata tsunami
menyisakan cintanya untuk saya. Betapa bahagianya saya.